Home Kawasan JOGLOSEMAR: SEGITIGA EMAS PARIWISATA DI JAWA TENGAH

JOGLOSEMAR: SEGITIGA EMAS PARIWISATA DI JAWA TENGAH

43
0
JOGLOSEMAR

Kawasan pariwisata di Jawa Tengah masih menjadi daya tarik yang besar. Daerah Istimewa Yogyakarta, Solo, dan Semarang dipercaya menjadi 3 kota yang memiliki potensi menjadi megapolitan baru berbasis pariwisata yang dikenal dengan sebutan Joglosemar. Kawasan Joglosemar merupakan wilayah segitiga emas yang berada di Jawa Tengah. Kawasan ini juga menjadi pusat perkembangan ekonomi di Jawa Tengah, baik dari sektor pariwisata maupun industri. Potensi Joglosemar yang luar biasa membuat pemerintah memberikan perhatian khusus kepada kawasan tersebut dengan membangun konektivitas melalui tol sehingga ketiga kota ini lebih terintegrasi dengan baik. Kesiapan infrastruktur terus dilakukan termasuk pembangunan akses jalan tol sampai bandara baru di Kulonprogo, Yogyakarta.

Proyek Tol Semarang—Solo telah dimulai pada 2009 dan tuntas 2011, kini pemerintah melanjutkan pembangunan jalan tol di wilayah segitiga emas yaitu Semarang—Solo— Yogyakarta dengan target selesai dibangun pada 2023. Kemudian ada lima simpang susun dan satu junction yang akan dibangun yaitu junction Bawen yang akan terkoneksi dengan jalan Tol Semarang—Solo, simpang susun Ambarawa, simpang susun Temanggung, simpang susun Magelang, simpang susun Borobudur serta simpang susun Banyurejo yang terhubung dengan junction Sleman
Kec. Melati, Kab. Sleman, Yogyakarta yang akan terkoneksi dengan jalan Tol Solo—Yogyakarta—YIA Kulon Progo.

Wilayah segitiga emas Joglosemar yang akan dihubungkan proyek tol ini mempunyai beragam potensi ekonomi dan pariwisata, yang menjadi perhatian pemerintah untuk dibenahi dan dikembangkan. Salah satunya yakni kawasan wisata Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.

Biasanya para pengujung Borobudur ini berdatangan dari Semarang, melalui jalur darat atau jalan nasional. Waktu tempuhnya diperkirakan mencapai 3 jam hingga 4 jam dari Bawen bergantung pada kepadatan arus lalu lintas. Nanti bila ruas Tol Yogyakarta—Bawen tuntas dibangun,
lamanya perjalanan dari Bawen ke Borobudur diperkirakan berkurang drastis menjadi hanya sekitar 30 menit saja. Tentu saja kondisi ini akan memberikan dampak positif, pada peningkatan kunjungan wisata ke Borobudur dan aktivitas ekonomi masyarakat setempat ikut bertumbuh.

Selain ke Borobudur, jalan tol di kawasan segitiga emas juga akan menghubungkan wisatawan ke sejumlah destinasi lainnya. Di antaranya yaitu kawasan wisata Karimunjawa di Kabupaten Jepara. Kemudian wisata Lasem di Kabupaten Rembang, serta kawasan Kota Lama di Semarang di mana saat ini proyek Tol Semarang—Demak juga sudah dimulai pembangunannya sejak 2019. Dengan berbagai pembangunan proyek tol di kawasan ini, diharapkan pengunjung wisatawan jalur darat dari Ibu Kota Jakarta atau luar daerah Joglosemar, bisa memiliki alternatif tujuan destinasi yang lebih variatif dan mudah dijangkau. Jangkauan ke kawasan wisata di Yogyakarta dan Solo pun akan lebih terbuka sehingga pasar pariwisata akan secara bersamaan bertumbuh.

Potensi segitiga emas ini memang sudah seharusnya dapat menjadi daya tarik tidak hanya sebagai kawasan pariwisata yang terintegrasi, namun juga lebih jauh dari itu akan memberikan peningkatan ekonomi wilayah sekitarnya. Masyarakat akan mendapatkan manfaat yang luar biasa dari perkembangan wilayah tersebut. Ekonomi lokal akan tumbuh dengan banyaknya peluang bisnis yang dapat muncul dari tarikan potensi yang luar biasa di wilayah ini.

Peneliti Senior Pustral UGM dan pengajar pada Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan UGM, Ikaputra menyatakan ke depan berbagai gagasan telah disusun untuk mendukung konektivitas kawasan Joglosemar, mulai dari konektivitas global yakni Aerotropolis NYIA dan konektivitas regional-lokal melalui gagasan Light Rail Transit (LRT) Kota Yogya yang didukung oleh konektivitas jalan raya dan jalan tol. Perencanaan tersebut dikemas secara komprehensif dalam ‘Green Transport and Green Regional Planning for Joglosemar’ yang telah digagas sejak 2012.

Pengembangan stasiun berbasis Transit Oriented Development (TOD) juga direncanakan menjadi sebuah wilayah dengan interkoneksi multimoda, berkelanjutan, peningkatan akses antara kawasan urban dan sub urban, serta konsentrasi pengembangan kawasan pada jalur dan stasiun KA. Rencana konektivitas di perkotaan ini didukung pula oleh pengembangan perkeretaapian untuk Greater Solo serta pengembangan Trem Otonom di Kota Yogyakarta.

Konektivitas infrastruktur menjadi peluang investasi properti termasuk pariwisata untuk dapat bertumbuh tinggi lagi dan melebar ke sekitar segitiga emas Joglosemar.•

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here