Beranda Berita Properti Disruption Technology Menjadi Lebih Cepat

Disruption Technology Menjadi Lebih Cepat

Strategi pemasaran digital kini menjadi penyelamat pengembang memasarkan produknya saat wabah covid-19. Lebih murah dan jangkauannya lebih luas.

0
kerja dari rumah Disruption technology
Ilustrasi - Working From Home./ Image: nextiva.com

Propertyandthecity.com, Jakarta – Salah satu yang mengemuka dalam berbagai berbagai diskusi dan forum para pelaku bisnis properti, pakar dan mengamat adalah inilah saatnya para pengembang masuk ke dalam dunia digital. Harus ada pembaharuan dalam strategi marketing di saat muncul kebijakan social distancing yang membatasi gerak manusia di tengah wabah Covid-19.

Apalagi saat ini kita belum tahu kapan wabah Covid-19 akan berakhir, sementara sendi-sendi ekonomi sudah terpukul yang salah satu ke sektor properti. Salah satunya diskusi yang diinisiasi oleh ECI Entrepreneur Club Indonesia Bapak Pinpin Bhaktiar dan PROJEK Bapak Andy Natanael, yang difasilitasi oleh Lembaga Pendidikan PPM, dan didukung oleh Indonesia Property Watch serta berbagai institusi lainnya.

Baca: Kolaborasi Pelaku Bisnis Properti Hadapi Covid-19

Menurut Andy K Natanael, founder PROJEK aplikasi toko properti dan founder PROVIZ konsultan strategy marketing property, saat ini hampir semua kegiatan terhubung dengan internet. Inilah peluang yang harus diambil bagi tenaga marketing untuk mendapatkan omzet penjualan. Medsos adalah salah satunya dan ini terlihat dari banyaknya konsumen yang melakukan transaksi dengan online. Apalagi saat ini pemasaran yang bisa digolongkan murah adalah melalui teknologi digital karena bisa menjangkau lebih luas dengan harga yang jauh lebih murah.

“Yang mempunyai kreatifitas tinggi saja yang akan memenangkan hati konsumen,” ujar Andy. Hanya saja Andy tidak berani mengatakan apakah ke depannya setelah wabah Covid-19 berakhir, masih melakukan penjualan dengan online. Pasalnya, properti itu harus dilihat dulu dan tidak bisa digantikan dengan hanya sebuah gambar walaupun gambar itu 4D sekalipun.

Pinpin Bhaktiar, Founder ECI Entrepreneur Club Indonesia juga mendorong inilah saatnya untuk mengoptimalisasi konten digital seperti gambar arsitektur dan informasi fitur-fitur proyek properti. Untuk meyakinkan konsumen karena tidak melihat langsung produknya, penjualan bisa disiasati dengan uang muka bergaransi. Artinya, jika nanti melihat produknya “tidak seperti” yang diharapkan, konsumen bisa meminta pembelian dibatalkan. “Melalui proses penjualan seperti ini, prospektif developer tetap hadir dengan baik,” ujar Pinpin.

Beberapa pengembang yang dihubungi oleh Property and The City, mengaku sudah mulai mengoptimalkan penjualan lewat online, medsos, digital sejak adanya keharusan social distancing yang tidak memungkinkan lagi konsumen face to face di gallery marketing.

Bukit Cimanggu City, misalnya, makin menggenjot penjualan dan promosi produknya lewat digital, seperti lewat Google, Facebook, Instagram, Website, Blog dan YouTube. “Campaign BTL online melalui personal touch di WhatsApp, SMS , email dan telephoning,” ujar Kris Banarto, GM Sales and Marketing Bukit Cimanggu City.

Baca: Daya Tahan Pengembang Tidak Sampai 3 Bulan

Mengoptimalkan pemasaran dengan memanfaatkan online juga dilakukan di lingkungan perusahaan-perusahaan milik BUMN yang banyak menggarap properti. Menurut Budi Saddewa Soediro, Direktur PT Adhi Karya (Persero) Tbk, Adhi Karya telah menutup semua gallery marketing dan metode pemasaran face to face seperti pameran properti, open table dan menyebar flyer. ”Kami menggunakan pemasaran online, memang perlu edukasi tetapi ini cara kami membantu mengurangi penyebaran Covid-19,” ujar Budi Saddewa.

Melakukan perubahan cara marketing dengan cepat sebagai dampak wabah Covid-19 bisa jadi tidak mudah karena berbagai faktor. Paling tidak ini diingatkan oleh Joni Phangestu, akademisi PPM. Menurutnya, membangun komunikasi melalui medsos tidak mudah dan tidak bisa dilakukan dengan instant. Pasalnya, selama ini kegiatan pengembang banyak dilakukan secara offline. Padahal saat ini pengembang harus berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan semua jalur online untuk menjalin komunikasi dengan konsumen. Sekaligus menjadikan sebagai kegiatan karyawan selama work from home. “Untuk ke depan pengembang harus kreatif mengembangkan konten komunikasi dan channel atau omni channel dan menjalankan O2O dengan konsumen,” ujar Joni.

Baca: Pasar Perumahan Sekunder Q1-2020 Mulai Melambat

Dalam kaitannya dengan pemasaran digital ini Ali Tranghanda, CEO IPW Property Advisory Group mengatakan bahwa mau tidak mau saat ini hampir semua strategi pemasaran beralih ke media sosial secara online. Disruption technology menjadi lebih cepat dari perkiraan semula. Yang menjadikan peluang saat ini adalah hampir semua orang work from home yang berarti hampir sebagian besar pula saat ini semua tertuju untuk mencari berita secara online. Pasar ini harus ‘dimanfaatkan’ untuk melakukan promosi atau branding. Meskipun tidak diharapkan akan terjadi penjualan pada saat ini, namun pasar konsumen akan mengingat proyek properti yang dipasarkan pada saat wabah ini mereda. Karenanya ditengah efisiensi biaya yang dilakukan oleh pengembang, budget promo di media sosial harus tetap menjadi pertimbangan. (Hendaru)

Website | + posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini