Booming Komoditas Akan Diikuti Booming Properti

Kebangkitan komoditas diyakini akan menggerakkan sektor lainnya seperti properti. Nikel dan tembaga menjadi andalan komoditas mineral Indonesia untuk memasok mobil listrik.

0
76
perumahan di bogor utara
Perumahan Nusa Indah Residence di Bogor Utara. (dok. NIR)

Propertyandthecity.com, Jakarta – Tidak ada yang bisa mengelak kondisi di kuartal kedua 2020 memberi pukulan cukup berat ke berbagai sektor akibat dampak dari pandemi Covid-19. Sektor pariwisata dan ritel boleh dibilang paling parah terpukul. Sektor properti walaupun ikut terpukul tetapi masih ada penjualan khususnya di segmen rumah tinggal. Bahkan, tidak sedikit yang agak pesimis memasuki kuartal kedua di 2020. Demikian diungkapkan oleh David Sumual, Chief Economist BCA, dalam acara PROLAB TALKS, Episode 8 dengan tema Economic and Property 2021 : Outlook and Strategy.

BCA saja, lanjut David, ikut merasakan di kuartal kedua. Yang biasanya booking untuk KPR per bulan sekitar Rp12-15 triliun, di kuartal kedua bulan April-Mei mengalami drop. Hitungannya tinggal puluhan miliar rupiah saja. “Bulan Mei yang paling dalam drop-nya. Ketika itu ada PSBB ketat yang membuat orang ingin melakukan transaksi juga sulit,” ujar David.

Baca: Sukses Soft Launching, Prolab Siap Beri Edukasi Properti

Di kuartal ke-4 sudah mulai banyak perbaikan terutama untuk mereka yang berpendapatan menengah ke bawah. Sektor UKM sudah bergerak kencang, bahkan pertumbuhannya sudah lebih tinggi dari pertumbuhan pusat-pusat komersial maupun korporasi besar. Apalagi setelah ada stimulus dan program dari pemerintah yang membantu kebangkitan UKM dan menengah bawah meningkat.

Untuk pembelian properti, David menilai masih cukup bagus terutama properti untuk ditempati atau end user. “Demand-nya masih cukup baik,” ujarnya. Hanya saja, ia mengingatkan ke depan ada beberapa sektor properti yang mesti diwaspadai. “Kita harus waspada juga terkait dengan office space,” ujarnya.

Sebelum memasuki pandemi pun untuk office space sudah over supply. Setelah masa pandemi ini kelihatannya makin besar gap-nya antara supply dan demand. Ditambah lagi sekarang mulai terjadi transformasi dari fisical rent ke digital rent.

“Kalau fisical rent yaitu orang menyewa hotel, ruang pertemuan untuk meeting. Sekarang beralih ke digital rent, cukup lewat webinar dan zoom. Yang menikmati adalah perusahaan-perusahaan seperti zoom,” ujar David.

Dalam analisanya, David menyebut kebangkitan properti akan diawali oleh booming komoditas Indonesia. Pasalnya, kebangkitan komoditas akan merembes ke sektor-sektor lainnya, seperti otomotif, manufaktur dan properti.

Baca: 2021, Mitra Raya Grup Bangun Ikon Wisata Baru di Batam

“Kalau kita ingat booming properti tahun 2011 sampai 2014 diawali oleh booming komoditas dulu. Setelah komoditas kemudian merembes ke sektor lainnya. Kita memang belum lepas dari komoditas, dan komoditas bisa menjadi blessing in disguise,” ujar David.

Kebangkitan komoditas, lanjut David, sudah terlihat dalam beberapa bulan ini ada peningkatan komoditas mineral seperti nikel dan tembaga. Nikel dan tembaga akan menjadi tumpuan ke depan terkait dengan energi ramah lingkungan. “Ke depan trennya ke arah green produk dan kebetulan kita kaya dengan tembaga dan nikel,” ujarnya.

Mobil listrik adalah salah satu green produk. Salah satu komponen penting mobil listrik adalah baterai yang bahan bakunya ada di Indonesia seperti nikel dan tembaga. David yakin ke depan perusahaan-perusahaan besar akan masuk ke Indonesia sebagai rantai produksi untuk membangun pabrik baterai untuk kebutuhan mobil listrik.

Hadirnya perusahaan-perusahaan besar akan mendorong industri ikutannya salah satunya properti. “Saya cukup optimis untuk komoditas ke depan karena komoditas biasanya merembes ke sektor-sektor lainnya,” ujar David.

Hal menarik lainnya dari paparan David adalah kehadiran vaksin yang ditunggu-ditunggu segera terealisasi. Pasalnya, vaksin diyakini akan meningkatkan kepercayaan diri masyarakat untuk bergerak. Ini terlihat dari hasil survey ke nasabah BCA sekitar 800-an responden pebisnis untuk membuat indeks kepercayaan pebisnis. Dari survey itu, apa yang menjadi prioritas dan membuat mereka confident ke depan adalah vaksin.

Baca: Pertengahan Desember, Program Sejuta Rumah Tembus 856.758 Unit

Kita rutin melakukan survey ke nasabah, sekitar 800-an responden pebisnis. Kita membuat indeks kepercayaan pebisnis, salah satu yang mereka katakan apa yang menjadi prioritas dan membuat mereka convident ke depan adalah vaksin. “Kalau ada vaksin mereka berani melakukan mobilitas lebih bagus lagi dan ini akan berpengaruh pada sektor-sektor lainnya yang terpukul, seperti pariwisata dan ritel,” ujar David.