
Jakarta, Propertyandthecity.com — Peta pengembangan kawasan industri di wilayah Greater Jakarta mulai bergeser ke arah timur. Seiring semakin matangnya kawasan industri Bekasi serta semakin terbatasnya ketersediaan lahan baru, ekspansi industri kini bergerak menuju koridor timur yang meliputi Karawang, Purwakarta, hingga Subang.
Kawasan-kawasan tersebut dinilai menawarkan berbagai keunggulan, mulai dari ketersediaan lahan dalam skala besar, konektivitas logistik yang semakin kuat, hingga kesiapan untuk pengembangan manufaktur modern. Pada saat yang sama, kawasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batang dan Subang juga berkembang sebagai pusat distribusi regional yang didukung oleh infrastruktur terintegrasi serta berbagai insentif dari pemerintah.
Di tengah perubahan lanskap industri ini, Indonesia juga semakin dipandang sebagai lokasi strategis bagi produsen global, khususnya perusahaan asal China. Kondisi geopolitik yang tidak stabil serta kebutuhan diversifikasi rantai pasok mendorong perusahaan-perusahaan tersebut memperluas portofolio manufakturnya ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Namun demikian, dinamika geopolitik global tetap menjadi faktor yang memengaruhi keputusan investasi. Menurut tim Industrial and Logistics Services Colliers Indonesia, meskipun Indonesia tidak berada di wilayah konflik antara Iran dan AS-Israel, situasi global tersebut tetap dapat memengaruhi sentimen investor.
Rivan Munansa, Head of Industrial and Logistics Services Colliers Indonesia, menjelaskan bahwa operasional perusahaan China yang telah beroperasi di Indonesia sejauh ini masih berjalan stabil.
“Operasional perusahaan China di Indonesia masih berjalan stabil, tetapi investor baru cenderung mengambil langkah yang lebih hati-hati. Potensi implikasi terhadap rantai pasok dapat bervariasi dalam bentuk maupun hasil,” ujar Rivan dalam keterangannya kepada redaksi propertyandthecity.com, (09/03/2026).
Dalam kondisi ketegangan global yang masih berlangsung, terdapat beberapa kemungkinan dampak yang dapat muncul terhadap aktivitas investasi industri di Indonesia.
Dalam jangka pendek, ketegangan geopolitik dapat memicu sikap wait and see dari investor, sehingga beberapa rencana ekspansi berpotensi mengalami penundaan.
Namun dalam jangka menengah, permintaan terhadap lahan industri justru berpotensi meningkat apabila Indonesia dinilai memiliki stabilitas politik dan ekonomi yang lebih baik dibandingkan negara lain di kawasan.
Sementara itu, dalam jangka panjang, perubahan struktur rantai pasok global dapat mendorong perusahaan-perusahaan manufaktur untuk mencari lokasi produksi alternatif di luar wilayah yang terdampak konflik. Dalam skenario ini, Indonesia menjadi salah satu negara yang berpotensi dipertimbangkan.
Seiring meningkatnya momentum di koridor timur Greater Jakarta, para investor dan pengembang juga mulai menyesuaikan strategi pengembangan kawasan industri mereka.
Baca Juga: Catat! ini Ruas Jalan Tol Mudik Lebaran 2026 yang Dapat Diskon 30 Persen
Di kawasan Bekasi dan Karawang, permintaan lebih banyak diarahkan pada Standard Factory Buildings (SFB) yang bersifat plug-and-play, memungkinkan perusahaan untuk segera memulai operasional tanpa harus membangun fasilitas dari awal.
Sementara itu, kawasan Purwakarta dan Subang mulai menarik minat perusahaan yang membutuhkan lahan industri dalam skala besar, terutama untuk pengembangan manufaktur yang lebih kompleks dan terintegrasi.
Penguatan konektivitas infrastruktur juga menjadi faktor penting yang mendorong pergeseran ini. Kehadiran Pelabuhan Patimban, pembangunan jaringan jalan tol baru, serta peningkatan akses logistik telah memposisikan kawasan industri di koridor timur bukan lagi sekadar hub satelit dari Jakarta, melainkan sebagai anchor utama pertumbuhan industri baru.
Dalam upaya memperkuat struktur industrinya, Indonesia juga semakin menempatkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai komponen strategis dalam pembangunan ekonomi jangka panjang.
KEK tidak hanya berfungsi sebagai kawasan manufaktur berbasis ekspor, tetapi juga sebagai hub distribusi regional dan simpul rantai pasok yang terintegrasi, yang diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam peta industri global. (*)



















