PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) melihat peluang pembiayaan berbasis environmental, social and governance (ESG) akan makin besar di tahun-tahun mendatang sejalan dengan meningkatkan kepedulian publik terhadap penerapan ESG. Mengingat fokus bisnis bank ini ada di sektor perumahan, BTN melihat peluang terbesar pembiayaan ESG tahun depan datang dari sektor perumahan, baik dari sisi suplai maupun
permintaan, serta ekosistem perumahan.
baca juga, Penghargaan Properti Pacu Developer Rancang Proyek Terbaiknya
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) telah dikenal aktif mempromosikan pembiayaan untuk rumah ramah lingkungan (green housing). Langkah itu bagian dari komitmen yang kuat terhadap perbaikan lingkungan hidup, sosial dan tata kelola (environmental, social, dan governance/ESG).
Sejumlah komitmen penerapan pilar ESG dalam bisnis dan operasionalnya BTN sudah berjalan. Sebagai contoh, pemasangan panel surya di kantor BTN milik sendiri dan pengadaan kendaraan listrik (EV) sebagai kendaraan operasional. Lalu, mencantumkan kategori kegiatan usaha berkelanjutan pada pedoman portofolio (portofolio guidelines). Selain itu, BTN turut aktif mempromosikan pembiayaan untuk rumah ramah
lingkungan (green housing).
BTN juga gencar meningkatkan kesadaran (awareness) karyawan, vendor, dan nasabah mengenai prinsip keberlanjutan melalui berbagai aktivitas. Transformasi bisnis dengan mempertimbangkan ESG ini didapuk dengan berbagai pengakuan. Skor risiko ESG rating BTN dari Sustainalystics membaik, menjadi 22,8 dari sebelumnya 28,4. Di 2023, bank dengan kode saham BBTN ini juga menorehkan berbagai penghargaan ESG dan tata Kelola sebagai hasil panen dari transformasi yang mereka lakukan.
Terbaru, organisasi nirlaba Bumi Global Karbon (BGK) Foundation memberikan nilai rerata ESG 86,7% untuk Bank BTN, naik dari sebelumnya 73%. BGK memberika predikat leadership AA pada BTN, yang mencerminkan kontribusi positif bank BUM ini dalam pembangunan berkelanjutan dan menerapkan standartinggi pengungkapan ESG. Bank BTN juga masuk limabesar emiten terbaik dalam board ESG Leader BGK.
Direktur Risk Management Bank BTN Setiyo Wibowo, dinukil dari Kontan, menjelaskan BBTN sejatinya telah menerapkan ESG sejak 2017, sejalan dengan penerbitan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No.51/POJK.03/2017, tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik yang dilaporkan melalui sustainability report setiap tahun.
Dus, sejak 2022, BTN telah berupaya meningkatkan penerapan keuangan berkelanjutan dengan Menyusun Roadmap dan Framework ESG
tahun 2023-2028. Peta jalan ini merupakan strategi dan proses implementasi ESG BTN. “Salah satu inisiatif strategis Bank BTN tahun
2024 adalah be the ESG champion in banking industry,” kata Setiyo.
Fokus penerapan transformasi ESG BTN dari sisi bisnis akan meningkatkan portofolio kepada sektor environment, yaitu kegiatan usaha berwawasan lingkungan. Portofolio untuk lingkungan ini disamping penyaluran ke sektor sosial yang sudah merupakan inti bisnis Bank BTN, yaitu penyaluran KPR subsidi.
Untuk diketahui, total kredit hijau sesuai laporan Taksonomi Hijau Indonesia posisi September 2023 sebesar Rp1,4 triliun dari 450 top debitur.
Memang, nilainya masih kecil ketimbang dengan penyaluran KPR bersubsidi Bank BTN yang mencapai Rp15,7 triulun.
Untuk kredit hijau, Bank BTN menyalurkannya untuk industri pengolahan kertas dan barang dari kertas, industri pengolahaan bukan mesin dan
peralatannya, serta energi (pengandaan listrik, gas uap dan udara dingin). Mengalir juga untuk sektor konstruksi perumahan sederhana.
Dari sisi operasional, penerapan ESG fokus pada prinsip keragaman, ksetaraan dan bebas diskriminasi. Mereka juga berupaya mengurangi
emisi dengan cara penggunaan kendaraan listrik, pengelolaan limbah, serta pengurangan konsumsi listrik dan kertas dengan menerapkan digitalisasi. Per akhir September 2023, transaksi yang dilakukan dari aplikasi mobile banking naik 117% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Tantangan
Langkah perseroan menerapkan ESG dalam pembentukan ekosistem perumahan ini bukan tanpa tantangan. Setiyo mengakui, perlu kebutuhan investasi yang lebih besar dengan penerapan ESG pada bisnis bank. Perusahaan juga butuh dukungan dari pemerintah berupa insentif untuk mendorong penerapan ESG dalam upaya mendukung target net zero emission tahun 2060. Tantangan lainnya, stakeholder engagement atau keterlibatan para pemangku kepentingan termasuk customer dan vendor, yang masih perlu ditingkatkan terkait pemahaman pembiayaan
emisi karbon.
Sejumlah strategi disiapkan. Misal, tahun ini untuk memperkuat pendanaan, mereka berencana menerbitkan sustainability bond. Sedang yang erkaitan dengan nasabah, BTN akan memperkuat green mortgage (KPR hijau), green savings, dan sustainability linked loan (pinjaman terkait
berkelanjutan). Hanya saja, Setiyo belum merinci lebih jauh dari rencana pendanaan dan penyaluran kredit hijau ini.
Merangkum kinerja perseroan, sampai akhir Q3 2023, BTN mengantongi laba Rp2,3 triliun,naik 1,67% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Tercatat, total penyaluran kredit dan pembiayaan naik 9,87% menjadi Rp318,30 triliun. Komposisinya, 87% setara Rp277,42
triliun mengalir untuk sektor perumahan.





















