Jakarta, Propertyandthecity.com — Penjualan rumah pada segmen harga Rp1–2 miliar masih menghadapi tekanan. Berdasarkan data Quarterly Housing Market Highlight Q3-2026 dari konsultan properti nasional Indonesia Property Watch (IPW), penjualan di segmen ini konsisten merosot dalam dua triwulan terakhir. Meski secara tahunan (year-on-year/yoy) masih tumbuh 59,7%, penjualan secara kuartalan melemah 11,1% pada Q2-2026 dan kembali turun 9,6% pada Q3-2026.
Tren pelemahan ini juga merembet ke segmen harga Rp500 juta–1 miliar. Pada Q3-2026, penjualan di segmen ini merosot tajam hingga 17,0%. Berbeda dengan segmen Rp1–2 miliar yang masih tumbuh secara tahunan, segmen Rp500 juta–1 miliar justru terkoreksi signfikan sebesar 24,7% (yoy).
Penurunan yang berkelanjutan ini menjadi alarm penting karena mengindikasikan pelemahan daya beli nyata akibat fenomena penurunan kelas ekonomi (downgrading) masyarakat kelas menengah.
CEO Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda, menegaskan bahwa pelaku pasar harus mengantisipasi dan mencermati dinamika ini secara saksama.
“Indikasi penurunan kelas menengah terlihat cukup jelas pada tren pasar perumahan saat ini. Meskipun belum bisa digeneralisasi di semua wilayah, kondisi ini harus menjadi perhatian para pengembang nasional. Sedang terjadi pelemahan daya beli di segmen menengah yang selama ini menjadi pasar paling gemuk,” ujar Ali.
Sebagai langkah antisipasi, rencana kebijakan pemerintah untuk memberikan stimulus berupa suku bunga 6% bagi kelompok penghasilan Rp17 juta per bulan diharapkan mampu menahan kejatuhan pasar. Selain itu, kelanjutan kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) dinilai sangat krusial demi menjaga kelangsungan industri perumahan nasional di penurunan daya beli saat ini.





















