Top 5 This Week

Related Posts

Bisnis Apa yang Masih Bertahan di 2026? Ini Prediksi dari Mentor Muda Sukses

Jakarta, Propertyandthecity.com – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, tahun 2026 diprediksi menjadi fase krusial bagi para pelaku usaha. Bukan tahun ekspansi agresif, melainkan periode bertahan, selektif, dan penuh kehati-hatian. Gambaran ini mengemuka dalam seminar “Navigating 2026 Economic Horizon: Strategic Preview for Entrepreneurs” yang digelar di Neo+ Hotel Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (16/12/2025).

Salah satu pembicara utama, Reiner Rahardja—mentor sekaligus pengusaha muda yang bergerak di berbagai lini bisnis mulai dari perdagangan umum, pertambangan, agribisnis, perikanan, teknologi, hingga blockchain—menyebut 2026 sebagai fase pre-crisis. Menurutnya, krisis besar mungkin belum sepenuhnya datang, tetapi tanda-tandanya mulai terkumpul dari berbagai arah.

“Kita sering menganggap krisis sudah lewat setelah pandemi. Padahal, bisa jadi krisis yang lebih besar justru ada di depan,” ujarnya.

Tekanan Global dan Bubble Aset

Reiner memetakan sejumlah faktor global yang berpotensi menekan ekonomi Indonesia pada 2026. Jepang mulai menaikkan suku bunga—sebuah langkah langka setelah lebih dari 30 tahun—yang akan mengubah pola likuiditas global dan menyulitkan praktik yen carry trade. Amerika Serikat pun akan memasuki fase politik sensitif seperti midterm election, yang secara historis kerap memicu volatilitas ekonomi.

Di sisi lain, ketidakpastian juga datang dari pasar aset. Saham, emas, hingga kripto saat ini berada di level all time high. “Justru di titik ini risikonya besar,” kata Reiner. Ia memperingatkan potensi koreksi tajam, bahkan pecahnya gelembung (bubble) pada Bitcoin, Ethereum, logam mulia, hingga saham teknologi dan AI.

“Jika 2022–2023 menciptakan banyak orang kaya baru dari kripto, 2026 bisa menciptakan banyak orang miskin baru—bukan hanya dari kripto, tapi dari berbagai aset finansial,” ujarnya.

Sektor Bisnis yang Masih Menyala di 2026

Meski lanskapnya berat, Reiner menegaskan bahwa tidak semua sektor suram. Peluang masih terbuka, terutama di bisnis yang berbasis kebutuhan domestik dan gaya hidup kesehatan.

Beberapa sektor yang dinilai relatif kuat antara lain wellness dan lifestyle, seperti olahraga padel, pickleball, tenis, indoor golf, hingga olahraga air. Sektor anti-aging juga disebut memiliki prospek menarik karena menyasar konsumen usia matang dengan daya beli tinggi.

Selain itu, beauty care masih berlanjut meski diprediksi mengalami koreksi akibat terlalu banyak pemain. Pendidikan anak dan remaja, serta entertainment berbasis kesehatan dan gaya hidup, juga masuk radar sektor yang lebih tahan banting.

Untuk sektor kebutuhan dasar seperti pertanian dan peternakan, grafiknya cenderung stabil—tidak meledak, tetapi juga tidak runtuh. Sebaliknya, Reiner menyarankan kehati-hatian pada sektor kehutanan dan beberapa jenis pertambangan karena pengawasan hukum yang semakin ketat dan barrier of entry yang tinggi.

UMKM, Kredit, dan Daya Beli

Dalam jangka pendek, perdagangan kebutuhan rakyat seperti pakaian murah, kosmetik terjangkau, dan produk harian masih akan bergerak. Namun, tantangannya meningkat jika impor murah dari China dibatasi.

Satu sektor yang secara tegas ia sarankan untuk dihindari sementara adalah FnB. Alasannya klasik namun relevan: persaingan terlalu padat, mudah ditiru, dan tingkat kegagalan sangat tinggi.

Di sisi lain, UMKM tetap menjadi tulang punggung ekonomi. Masalahnya ada pada regulasi dan penyaluran kredit. Perbankan berhati-hati karena risiko kredit macet, sementara UMKM membutuhkan modal. Reiner menilai, kredit kecil 10–20 juta rupiah sebenarnya bisa berdampak besar jika disalurkan dengan tepat, bahkan dengan skema subsidi silang dari negara.

Baca Juga: Ali Tranghanda: Pasar Perumahan 2025 Masih Sulit, Pemulihan Diproyeksikan 2026

Strategi Individu Menghadapi 2026

Reiner menutup paparannya dengan tiga prinsip sederhana namun krusial bagi pengusaha dan investor:
pertama, lebih baik tidak untung daripada rugi; kedua, untung kecil tetaplah untung; dan ketiga, jangan FOMO.

“Jangan beli aset hanya karena ramai dibicarakan,” tegasnya. Menurut Reiner, kunci utama menghadapi 2026 adalah respek terhadap uang—memahami bahwa setiap keputusan finansial harus diambil dengan kesadaran penuh.

Ia juga menekankan pentingnya adaptasi terhadap AI. Bukan karena AI akan menggantikan manusia, tetapi karena mereka yang memanfaatkannya akan jauh lebih efisien. “AI tidak membunuh bisnis Anda. Yang membunuh adalah ketika kompetitor Anda memakai AI, sementara Anda tidak,” ujarnya.

Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan tetap di bawah 5 persen pada 2026, Reiner menyimpulkan satu hal: tanpa perubahan cara berpikir dan strategi, hasilnya pun tidak akan berbeda. Tahun 2026, bagi dunia usaha, adalah tentang bertahan dengan cerdas—bukan sekadar berani mengambil risiko. (*)

+ posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles