Top 5 This Week

Related Posts

DAPUR DAN KEBUN RUMAH, SINERGI MENUJU KUALITAS HIDUP LEBIH SEHAT

Tren gaya hidup sehat sudah berkembang sejak lama, namun semakin kuat dan meluas sejak pandemi 2020. Saat ini, hidup sehat telah menjadi kebutuhan dalam kehidupan manusia secara global. Hidup sehat tidak hanya berkisar di lapangan olahraga, gym ataupun fasilitas kesehatan, namun sebenarnya tempat terbaik untuk memulai hidup sehat adalah dari rumah.

Dalam mendesain suatu rumah, tidak hanya terkait estetika dan kenyamanan saja, tapi juga perlu mempertimbangkan adanya pencahayaan alami, sirkulasi udara, efisiensi energi, hingga penyediaan area hijau. Salah satu area yang sering mendapatkan perhatian lebih terkait fungsinya sebagai ‘jantung’ pada suatu rumah adalah dapur, tempat dimana bahan pangan diolah menjadi makanan bagi seluruh penghuni rumah. Bagi sebagian besar orang, makanan bukan hanya sumber energi, tetapi erat kaitannya dengan kesehatan. Sehingga, jika dipadukan dengan perkebunan berbasis rumah, memungkinkan rumah tangga untuk mengakses bahan pangan segar dan bergizi, sembari mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan pangan eksternal sehingga meningkatkan ketahanan pangan.

Konsep dapur terbuka dengan akses mudah ke kebun sayur atau buah, dikenal dengan istilah Farm to Table, di mana dapur dapat menyajikan makanan yang diolah dari bahan pangan segar yang diambil langsung dari kebun. Farm to Table berangkat dari ‘budaya makan’ bersama keluarga maupun suatu acara, di areal terbuka di kebun sekitar rumah, yang biasa dilakukan oleh masyarakat di Eropa dan Amerika Serikat sebelum era industri (revolusi industri).

Konsep awal farm to table ini muncul sebagai counter-culture atas membanjirnya makanan instan dan ultra-produksi. Konsep ini juga banyak diadopsi oleh usaha restoran, yang dirancang dengan kebun sayur atau buah, dimana konsumen dapat memilih dan memetik bahan pangan yang ada untuk menu makanannya. Manfaat paling dekat yang dapat dirasakan adalah penghuni rumah/konsumen bisa mendapatkan produk atau bahan makanan yang segar langsung dari sumbernya tanpa melewati proses pengawetan dan pengiriman jarak jauh, sehingga kualitas gizinya terjaga lebih baik.

Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau

Dalam konteks hunian di kawasan urban, keberadaan taman lingkungan dan area hijau merupakan fasilitas bersama yang esensial, sebagai ruang rekreasi, bersosialisasi antarwarga, ruang berolahraga, atau pun sekedar menikmati hijauan dan udara segar. Desain lanskap di lingkungan hunian saat ini mengalami perkembangan yang tidak hanya menitikberatkan pada estetika, tetapi juga mempertimbangkan aspek fungsional, ekologis, dan sosial. Salah satu fungsi yang potensial untuk dikembangkan adalah mengintegrasikan elemen urban farming/ edible garden, yaitu konsep penataan ruang terbuka hijau yang mengintegrasikan fungsi estetika dengan fungsi produksi pangan. Konsep ini selaras dengan prinsip keberlanjutan, peningkatan kualitas kesehatan dan lingkungan hidup, serta meningkatkan ketahanan pangan skala rumah tangga hingga komunal, terutama di lingkungan perkotaan.

Mengacu pada publikasi “Cities Farming for the Future: Urban Agriculture for Green and Productive Cities” yang diterbitkan oleh RUAF Foundation, International Institute of Rural Reconstruction International dan Development Research Centre di tahun 2006, berikut adalah berbagai kota di dunia yang telah membuktikan kesuksesan urban farming sebagai bagian dari strategi peningkatan ketahanan pangan skala kota:

  • New York City – memiliki 550 kebun komunitas di properti kota, lebih dari 745 kebun sekolah, dan lebih dari 700 kebun di kompleks perumahan umum.
  • Havana, Kuba – lebih dari 50% kebutuhan sayur di kota ini dipenuhi oleh pertanian perkotaan. Mengintegrasikan organoponicos, yaitu system pertanian urban berbasis organic
  • Singapura – dengan program ‘30 by 30’: target 30% kebutuhan pangan dipenuhi lokal pada 2030. Pengembangan system hidroponik, aeroponik dan rooftop farming di pusat perbelanjaan dan HDB (Housing and Development Board).
  • Paris, Perancis – dengan proyek Les Parisculteurs, memberikan akses lahan atap, dinding bangunan, dan area kosong untuk pertanian. Memberikan 100 hektare lahan untuk urban farming.
  • Detroit, Amerika Serikat – mendorong swasembada pangan warga melalui organisasi Detroit Black Community Food Security Network dan The Greening of Detroit. Bangkit dari kota industri menjadi pusat gerakan komunitas urban farming terbesar di AS.
  • Vancouver, Kanada – memprioritaskan urban farming dalam kebijakan tata ruangnya, melalui penyusunan Vancouver Food Strategy untuk mendukung pertanian kota sebagai bagian dari ketahanan pangan lokal.
  • Tokyo, Jepang – telah menyelenggarakan edukasi berkebun sejak dini, dan inovasi dalam penggunaan ruang terbatas.
  • Melbourne, Australia – mengembangkan model food forest, kebun komunitas dan sistem pertanian ekologis di kawasan urban dan peri-urban.

Gerakan Urban Farming Menuju Ketahanan Pangan

Pemerintah Indonesia pun sudah sejak lama mendorong peningkatan ketahanan pangan, salah satunya dengan penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) No. 68 tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan. Ketahanan pangan suatu negara akan menjadi salah satu indikator dari kedaulatan negara itu sendiri. Sumber pangan tidak hanya bersumber dari pola pertanian konvensional yang membutuhkan lahan luas. Akan tetapi, dapat juga adaptif dengan kehidupan masyarakat perkotaan sebagaimana model pertanian urban, yang salah satu aplikasinya dengan mengintegrasikan praktek urban farming / edible garden pada kawasan hunian, bahkan di unit rumah tangga. Menurut publikasi Jurnal Pengabdian Sosial berjudul “Pemenuhan Pangan Berkelanjutan Melalui Pemanfaatan Lahan Pekarangan Sebagai Adaptasi Baru Urban Farming di Kota Bandung” pada tahun 2024, urban farming dapat dipraktikkan di pekarangan rumah atau dalam skala mikro di lokasi yang tidak jauh dari tempat tinggal. Menjadi sebuah hal penting untuk memberikan pelatihan dalam pemenuhan pangan berkelanjutan melalui pemanfaatan lahan pekarangan sebagai adaptasi baru urban farming dalam skala rumah tangga.

Praktek terkait peningkatan ketahanan pangan ini juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang diadopsi oleh Indonesia sebagai bagian dari komitmen global untuk mencapai pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan. Beberapa target yang relevan terhadap ketahanan pangan antara lain Tanpa Kemiskinan, Tanpa Kelaparan, Kehidupan Sehat dan Sejahtera, serta Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan.

Peningkatan ketahanan pangan di level rumah tangga khususnya pada masyarakat perkotaan mungkin terlihat sebagai upaya-upaya individual maupun komunitas skala kecil. Namun, ketika upaya-upaya ini diadopsi dan dilakukan secara masif oleh banyak rumah tangga di kawasan perkotaan, dampaknya terhadap ketahanan pangan nasional menjadi signifikan. Pendekatan ini juga mendukung gaya hidup sehat, hemat, dan ramah lingkungan.

Dapur rumah tangga tidak hanya menjadi tempat konsumsi makanan, namun juga memiliki potensi sebagai simpul produksi dan pengolahan pangan. Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari skala besar atau nasional, namun dapat dibangun secara bertahap dari unit lingkungan terkecil yakni rumah tangga. Sebuah langkah kecil dimulai dari rumah menjadikannya suatu kontribusi nyata kita dalam memenuhi kebutuhan pangan, meningkatkan kualitas kehidupan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Jadi kualitas hidup yang lebih sehat dan berkelanjutan dapat dimulai dari dapur dan kebun rumah…

Townland
+ posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles