Top 5 This Week

Related Posts

Permintaan Rumah Tapak di Bawah Rp2 Miliar Menguat

Propertyandthecity.com, Jakarta – Dalam berbagai kesempatan, kalangan pengembang kerap mengemukakan optimismenya menjalankan bisnis properti pada tahun ini bersamaan dengan tahun pemilu. Pasar yang besar serta regulasi dan insentif pemerintah di sektor properti diprediksi bisa mendorong kinerja bisnis ini tanpa ada halangan dari aktivitas politik.

Insentif bebas pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN-DTP) misalnya, bisa menjadi stimulus yang akan menggairahkan sektor ini. Rumah tapak (landed residential) masih menjadi permintaan favorit di pasar properti saat ini.

Konsultan properti Jones Lang Lasalle (JLL), salah satu perusahaan konsultan properti, mengungkapkan kecenderungan pasar tersebut dalam laporan rutin Jakarta Property Market Overview untuk kwartal 1 2024 di kantor JLL di Jakarta, Senin (13/5/2024).

Menurut Kepala Riset Jones Lang Lasalle (JLL), Yunus Karim, peluang pasar untuk rumah tapak di segmen menengah ke bawah akan tetap menggeliat pada tahun ini.

“Data JLL terakhir menyimpulkan, pemasok penjualan rumah tapak di kawasan perumahan besar skala township dengan luas (lahan pengembangan proyek) di atas 200 hektar sekitar 80 persen adalah rumah-rumah seharga di bawah Rp2 miliar, dan sekitar 70 persen adalah rumah seharga maksimum Rp1,2 miliar,” kata Yunus pada saat konferensi pers bersama media di Jakarta.

Harus diakui kendati ada tekanan ekonomi, subsektor perumahan tapak pertumbuhannya relatif stabil dibanding apartemen, pusat perbelanjaan dan perkantoran. Hal ini ditopang sebagian besar oleh permintaan hunian dari pembeli rumah pertama (end user). 

Yunus menyebut pasar landed house yang masih baik ini kemudian dioptimalkan oleh pengembang dengan meluncurkan beragam hunian dan segmen mulai kalangan milenial, menengah, hingga premium. Sejumlah pengembang mulai pede meluncurkan proyek atau produk baru pada kwartal pertama tahun 2024, sehingga pasar perumahan sepanjang semester I 2024 diperkirakan relatif lebih aktif dibandingkan tahun sebelumnya, kendati bisnis properti tahun ini ada peristiwa pemilu disusul pilkada serentak.

“Pengembang merespons itu, mereka bikin produk tidak hanya satu, tapi berbagai macam, dan yang paling banyak di segmen menengah dan menengah ke bawah,” jelasnya.

Keterjangkauan harga rumah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Pun dari sisi developer, pergeseran menuju segmen menengah ditempuh dengan melakukan down sizing atau memasarkan tipe lebih kecil dari sebelumnya. Dengan menawarkan bangunan lebih kecil harga jualnya dapat ditekan tanpa mengurangi harga jual per meter persegi. Cara demikian dapat mempertahankan target keuntungan yang ditetapkan perseroan.

+ posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles