Top 5 This Week

Related Posts

Saat Saham Bank Besar Melemah, BBTN Justru Bertahan di Zona Hijau

Jakarta, propertyandthecity.com — Di tengah tekanan pasar saham dan pelemahan sektor perbankan besar, saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) justru menunjukkan pergerakan yang relatif bertahan.

Saat sejumlah saham bank besar masuk fase downtrend, saham BBTN tercatat masih menguat 1,18 persen ke level Rp1.285 dan secara year to date masih tumbuh sekitar 9,36 persen.

Dalam satu tahun terakhir, saham BBTN bahkan melonjak lebih dari 46 persen, menjadikannya salah satu saham perbankan dengan penguatan tertinggi di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan rupiah.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai saham BBTN saat ini masih tergolong murah secara valuasi. Menurut dia, BBTN diperdagangkan dengan Price to Book Value (PBV) sekitar 0,5 kali dan price to earnings ratio (P/E) sekitar 4,1 kali.

“Dengan valuasi tersebut, BBTN termasuk kategori saham undervalued dan masih menarik untuk dikoleksi investor sebagai pilihan defensif,” ujarnya.

KPR dan Program 3 Juta Rumah Jadi Penopang

Ketahanan saham BBTN dinilai tidak lepas dari fokus bisnis perseroan yang masih kuat di sektor pembiayaan perumahan.

Di tengah tekanan suku bunga dan ketidakpastian global, pasar melihat sektor KPR subsidi dan non subsidi masih memiliki ruang pertumbuhan relatif stabil dibanding sektor kredit lain yang lebih sensitif terhadap volatilitas kurs mata uang asing.

Nafan menilai sentimen positif juga datang dari posisi strategis BTN dalam mendukung program pembangunan 3 juta rumah pemerintah.

Selain itu, rencana spin-off unit usaha syariah BTN dinilai menjadi katalis tambahan bagi prospek saham perusahaan ke depan.

“BBTN tidak memiliki eksposur terhadap kredit koperasi berbasis valas karena fokus utamanya pada sektor properti,” katanya.

Pasar Mulai Melihat BTN Sebagai Deep Value Play

Pandangan serupa juga disampaikan Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata.

Menurut dia, BBTN saat ini menjadi saham bank besar dengan valuasi paling murah di kelompok perbankan nasional.

Liza menyebut saham BBTN mulai masuk kategori deep value play karena diperdagangkan di level PER rendah, sementara pertumbuhan laba dan kredit masih tumbuh dua digit.

Namun demikian, pasar disebut masih memberikan diskon terhadap saham BTN karena sensitivitas perusahaan terhadap biaya dana (cost of fund), likuiditas, dan siklus suku bunga properti dinilai lebih tinggi dibanding bank lain.

“BBTN lebih cocok untuk investor agresif yang percaya ada peluang penurunan suku bunga pada semester kedua 2026,” ujarnya.

Fundamental BTN Masih Tumbuh Double Digit

Di sisi fundamental, BTN mencatat laba bersih sebesar Rp1,1 triliun pada kuartal I 2026 atau tumbuh 22,6 persen secara tahunan (year-on-year).

Penyaluran kredit mencapai Rp400,63 triliun atau naik 10,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 9,9 persen menjadi Rp422,63 triliun. Komposisi CASA juga meningkat menjadi Rp212,11 triliun atau sekitar 50,2 persen dari total DPK.

Perbaikan struktur pendanaan tersebut membuat cost of fund BTN turun menjadi 3 persen dari sebelumnya 4 persen pada kuartal I 2025.

Secara keseluruhan, total aset BTN tumbuh 10,5 persen menjadi Rp517,54 triliun. (AS/Ant)

+ posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles