PULAU JEFMAN, KEINDAHAN ALAM SISA KEJAYAAN PENERBANGAN

0
1377

PULAU JEFMAN,  KEINDAHAN ALAM  SISA KEJAYAAN PENERBANGAN

Saya tidak membayangkan bagaimana jika saya berdiri di landas pacu pesawat sebelum tahun 2004. Pasti saat itu saya akan ditangkap oleh petugas bandara, tetapi kali ini saya bebas mau apa saja di landas pacu pesawat sepanjang 1,8 km. Benar, saya sedang berada di pulau Jefman, distrik Salawati, Kabupaten Raja Ampat. Pulau ini menjadi saksi akan sebuah kejayaan karena menjadi bandara pertama di Papua bagian Barat. Bandara Jefman terakhir beroperasi pada tahun 2004 dan setelah itu pindah di Bandara Dominik Eduard Osok di Sorong. Tak hanya cerita landasan bandaranya saja, tetapi pesona alam dan dunia bawah airnya begitu memincut saya untuk berlama-lama disana.

Pulau Jefman berjarak 16,7 km jika ditarik garis lurus dari pelabuhan Sorong. Akses menuju Pulau Jefman dengan menggunakan kapal motor dengan mesin 40Pk dengan waktu tempuh sekitar 1 jam pelayaran. Ada 2 kali jadwal penyebrangan, yakni pukul 8 pagi dari Jefman dan 2 siang dari Sorong. Sekali menyebrang dikenakan tiket sebesar Rp50.000. Jika terlambat maka bisa men-carter 1 unit kapal motor dengan harga antara Rp300-500 ribu sekali jalan. Perlayaran menuju Jefman akan melewati 2 buah pulau yakni, pulau Doom dan Soom yang keduanya secara administratif masuk Kota Sorong.

Senja itu saya berdiri duduk di sebuah bekas dermaga yang sudah tidak terpakai. Pulau Jefman sisi Barat memberikan pesona dikala sang Surya akan beranjak menuju peraduannya. Debur ombak mengalun pelan yang saat itu laut sedang dalam keadaan pasang. Semilir angin laut menambah suasana semakin hangat seiring rona merah yang semakin merekah. Nampak siluet nelayan yang mulai berangkat menuju sero untuk melihat atau mengambil hasil tangkapan ikan. nampat terjebak di sela-sela karang. Seekor bintang laut nampak terdiam dan sepertinya tahu akan apa yang akan saya lakukan.

Tiba-tiba ada seorang bapak dan anaknya yang mengajak saya untuk menuju sero. Longboat dengan mesin 15 PK berjalan pelan menyibak helaian lamun dan sela-sela acropora. Jaring yeng berdiri sepanjang 100 meter adalah tujuannya. Sero adalah alat tangkap ikan dengan membentangkan jaring sepanjang 100 meter lalu ujung yang mengarah ke laut dibuat ruang berbentuk lingkaran untuk menampung ikan yang tertangkap. Sistem kerja sero adalah memanfaatkan pasang surut air laut. Saat pasang ikan akan naik ke tepian, lalu saat surut akan kembali ke laut dan saat itula ikan akan masuk dalam jebakan sero dan terkumpul di ujung jaring.

Sero adalah alat tangkap yang ramah lingkungan. Hanya ikan yang terjebak saja yang akan tertangkap itupun akan dipilih ikan mana saja yang akan diambil, dan sisanya akan dikembalikan ke laut. Pagi ini pak Darwis dan Iwan putranya hanya memeriksa dan membersihkan sero jika ada sampah laut yang masuk. Air yang masih pasang maka ikan belum masuk dalam jebakan sero. Pak Darwis menyelam dengan menggunakan kacamata selam buatan tangan dan dengan jaring dia masuk ke dasar sero. Beberapa hewan yang terjebak seperti beberapa ikan hias, bintang laut, ikan buntal di jaring dan dikembalikan ke laut. Ikan-ikan tersebut selain mengotori sero, juga tidak memiliki nilai ekonomis sekaligus menjaga kelestarian alam.

“Maaf mas tidak ada ikan,” kata Pak Darwis saat kepalanya menyembul ke permukaan, tetapi jaringnya berkata lain. Jaringnya telah berisi beberapa ikan Lema (Rastrelliger Kanagurta), ikan Samadar, dan Gutila. Saya heran, masih saja kondisi tersebut tidak ada ikan, bagaimana jika ada ikan. Konon ceritanya saat musim ikan, jebakan sero sampai tidak muat menampung ikan dan harus di lepaskan sebagian agar bisa diambil. Saya pun mendapat ikan-ikan tersebut secara gratis dan kemudian bingung mau dibuat apa ikan sebanyak ini.

Kekaguman saya akan pulau ini belum usai. Di bawah pohon Nyamplungan (Calophyllum Tetrapterum) nampak seorang bapak sedang sibuk merakit lambung perahu. Akhirnya saya duduk sambil bertanya-tanya tentang seputar pembuatan perahu. Alangkah terkejutnya saya, saat saya menyadari dia membuat perahu seoalah seperti melukis tanpa sketsa. Dia hanya mengandalkan patokan ukuran saja sambil berimprovisasi. Berbeda dengan teknik pembuatan perahu yang terlebih dahulu membuat gading atau rangka perahu lalu membuat dinding lambungnya. Di sini membuat lambung perahu dulu lalu gading akan menyesuaikan bentuk perahu. Dia menjelaskan semua ada sisi lebih dan kurangnya, tergantung waktu, bahan, dan anggaran saja.

Lambaian tangan dari Pak Is sudah terlihat dari tengah-tengah lapangan terbang. Nada panggilan untuk mengajak sarapan rupanya dan sesuatu yang tidak bisa ditolak. Menu ikan bakar dan kali ini dengan pisang goreng. Jangan harap di sini ketemu dengan nasi, karena ternyata lebih enak makan ikan bakar dengan sukun atau pisang goreng. Suara deru pesawat yang melintas dan hendak mendarat di Sorong sepertinya mengembalikan kenangan masa lalu. Pulau Jefman yang menyimpan kenangan yang penuh kejayaan.

Senin,16/2/1015

{jcomments on}

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here