Top 5 This Week

Related Posts

Preferensi Rumah Idaman Anak Muda Moderen Kompak Dan Kemana-Mana Dekat

Generasi muda merupakan kalangan produktif yang salah satu cirinya tanggap pada berbagai isu lingkungan. Hal ini juga berdampak pada preferensi kalangan ini dalam memilih huniannya yang harus memperhatikan dampak terhadap lingkungan. Aspek sumber daya yang efisien, pengurangan limbah, penerapan desain, hingga penggunaan teknologi menjadi faktor penting yang harus diterapkan.

Baca juga, Sengketa Lahan Pondok Indah: Ini Jejak Panjangnya dan Siapa Pemilik Sahnya?

Aktris Yuki Kato memiliki konsep hunian ideal yang hingga saat ini belum bisa diwujudkan dan dirasakannya. Menurut wanita kelahiran Malang, 2 April 1995 ini, hunian yang ideal itu harus banyak tanaman (greenery) yang bisa dinikmati seluruh penghuni rumah dan aksesnya juga harus bebas macet.

“Kedengarannya mudah, tapi sulit ya. Saya sendiri akhirnya pragmatis saja dengan tinggal bersama orang tua di kawasan Cibubur, Jakarta Timur. Agak jauh (dari pusat bisnis Jakarta) tapi yang penting dekat akses tol karena memudahkan saya yang harus selalu mobile,” katanya kepada Majalah Property and the City di sela-sela acara pameran bahan bangunan dan konstruksi IndoBuildTech 2025, Tangerang, awal Juli lalu.

Aktivitasnya ke seantero Jabodetabek ini pada akhirnya membuat wanita bernama lengkap Yuki Anggraini Kato ini menjadi terbiasa dengan kawasan di sekitaran rumahnya. Seperti layaknya kawasan pinggiran Jakarta, perempuan cantik semampai ini memutuskan untuk bertempat tinggal secara permanen di wilayah Cibubur yang disebutnya relatif masih hijau.

“Hawanya masih sejuk meskipun lumayan macet di jam-jam tertentu, tapi untungnya banyak jalan tol. Jadi lebih efisien,” jelasnya.

Cerita menarik datang dari Adelia Nur Rizky, salah seorang karyawan perbankan di kawasan SCBD, Jakarta. Menurutnya, rumah idaman harus terintegrasi dengan konsep ramah lingkungan.

“Karena gue belum married, jadi mulai sekarang sudah berandai-andai kalau sudah berkeluarga nanti pengen banget punya rumah yang banyak cahayanya. Bukaan jendela harus luas-luas supaya dapat ventilasi alami. Desain yang begitu kayaknya bakal homey parah sih,” ungkap Adelia, yang sehari-hari tinggal di wilayah Pondok Pinang, Jakarta Selatan ini.

Penggunaan material bangunan juga harus dioptimalkan, lanjutnya. Misal, material bisa didaur ulang atau terbuat dari bahan-bahan alami yang ramah lingkungan seperti kayu dari hutan yang dikelola secara berkelanjutan, bahan daur ulang, atau material lain yang meminimalkan jejak karbon.

“Bayangan gue rumah idaman yang bikin betah itu nggak harus gede. Ukurannya 70 meter persegi sudah cukup, tapi mesti ramah alam. Tapi itu kan butuh effort. Semoga ada developer yang bangun rumah konsep ramah alam, simple dengan harga terjangkau, jadi anak-anak muda bisa mewujudkan rumah impiannya dengan tetap menjalani hidup sehat karena rumah dan lingkungannya sehat,” pungkasnya.

Yuki Kato dan Adelia menjadi bukti, bahwa seiring perkembangan zaman, semua berubah termasuk konsep dan desain rumah. Dulu rumah ukurannya besar-besar dengan perabotan yang juga besar dan cenderung berat. Seiring harga tanah yang makin mahal dan perubahan lifestyle penghuninya, ukuran rumah kian mengecil dan penggunaan aneka perabotan juga makin simpel.

Menurut Adi Surya Triwibowo, Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII), banyak lagi perubahan dan perkembangan terkait desain rumah yang tidak bisa dibandingkan secara tegas dulu dengan sekarang karena perubahan dan tuntutan zamannya juga berbeda.

“Kalau kita ingat, dulu orang beli sofa, meja makan, tempat tidur, itu awetnya luar biasa, belasan hingga puluhan tahun, kalau belum rusak tidak akan diganti. Sekarang perabotan di dalam rumah cepat sekali berganti. Jadi keawetan barang tidak jadi faktor utama lagi, karena sofa saja sekurangnya diganti cover-nya bisa enam bulan atau setahun sekali,” katanya saat acara pembukaan pameran ARCH:ID di ICE BSD, beberapa waktu lalu.

Di rumah-rumah modern sekarang hampir pasti ada yang selalu berganti secara periodik, baik sekadar penghias berupa aksesoris untuk pemanis interior maupun mengganti berbagai perabotannya. Yang juga sering berganti adalah penggunaan warna dinding dengan cat baru atau aplikasi wall cover.

Anggapan rumah yang nyaman itu harus besar, akhirnya juga bergeser dan berganti menjadi hunian kecil yang lebih intimated. Dulu berbagai perabot digunakan karena fungsinya, sekarang berbagai perangkat yang ada selain fungsi juga harus memerhatikan tampilan bahkan unsur hiburan bagi penggunanya.

“Dulu kita cari suasana baru itu di luar rumah, sekarang suasana di luar sering diterapkan di rumah. Misalnya, ada restoran atau kafe yang nyaman, suasana itu pengen juga ingin kita terapkan di rumah. Rumah dibuat supaya nyaman jadi tempat kongkow seperti di kafe atau lounge. Nanti kalau bosan diganti lagi desainnya. Pergeseran-pergeseran seperti ini yang banyak terjadi di rumah-rumah zaman sekarang,” jelas Adi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles