Skema pembiayaan model apapun dilansir sejumlah lembaga demi mengail respon kalangan milenial untuk segera membeli rumah. Mulai dari cicilan uang muka super ringan tanpa batasan gaji bahkan nol rupiah, juga bunga flat sampai cicilan rumah lunas menyesuaikan dengan kemampuan anak muda seperti masa kerja cukup setahun, tenor kredit hingga 25 tahun, sampai tak perlu ada pengendapan sejumlah dana di tabungan bank. Namun secara umum belum banyak kalangan muda yang tertarik untuk segera mewujudkan punya hunian sendiri. Apa sebenarnya masalah yang dihadapi para pekerja muda saat ingin membeli rumah pertama?.
baca juga, Kementerian PUPR Siapkan Jalur Alternatif ke Puncak Bogor Jelang Liburan Nataru 2023
Tinton Respati, seorang milenial berusia 28 tahun, telah menabung selama beberapa tahun terakhir untuk mewujudkan cita-cita punya rumah sendiri. “Harus beli rumah, karena ada semacam tekanan sosial, kalau tidak punya rumah seperti belum mencapai sesuatu. Rumah adalah pencapaian yang lebih dari resepsi mahal,” kata Tinton kepada Property and the City, di sebuah warung kopi di sekitaran Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, medio Oktober lalu.
Karyawan di sebuah start up alias perusahaan rintisan ini menjelaskan bahwa mahalnya uang muka menjadi hambatan utama kenapa hingga
saat ini dia belum membeli rumah. “Kalau cicilannya saja, saya mampu. Tapi sekarang masih menabung untuk membayar uang muka,”
kata Tinton.
Meskipun bekerja di sebuah kantor di Jakarta Pusat, Tinton mengincar rumah di daerah Pamulang, Tangsel. Bukan karena tak berminat
tinggal di Jakarta, namun setelah sempat melihat-lihat beberapa rumah yang ditawarkan pengembang, harga rumah di Jakarta dinilainya
sudah tidak masuk akal karena mahalnya kelewatan dan tak terjangkau orang biasa.
Tinton adalah satu dari banyak anak muda yang harus putar otak dan banting tulang untuk mendapat rumah, bahkan kalau pun letaknya
nun jauh di mana. Dia tidak sendiri. Ribuan bahkan barangkali jutaan generasi langgas juga mengalami hal yang sama: ingin membeli rumah sendiri, namun mahalnya uang muka, besarnya cicilan dan durasi cicilan serta jauhnya perumahan yang terjangkau dari tempat kerja menjadi alasan jamak disebutkan oleh sebagian besar generasi ini sebagai alasan kenapa mereka tak kunjung membeli rumah.
Upaya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menerbitkan harapan bagi mereka sebetulnya sudah dilakukan, melalui
rancangan sejumlah pembiayaan perumahan khusus untuk mengatasi masalah perumahan yang dihadapi generasi milenial.
Sebut contoh Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk mereka yang berpenghasilan antara Rp4 – 7 juta. Mereka yang berpenghasilan lebih dari Rp7 juta tidak dapat mengakses fasilitas ini dan harus mengajukan pinjaman komersial.
Sebagai langkah menanggapi berbagai kebutuhan segmen milenial, sejumlah bank memberi skim pembiayaan rupa-rupa sesuai kemampuan
debitur usia muda. BCA menawarkan 28 fitur suku bunga dan tenor 25 tahun yang diharapkan dapat menjadi solusi pembiayaan bagi nasabah.
“Bank Indonesia sudah beberapa kali menaikkan suku bunga, namun BCA konsisten. Bahkan BCA masih bisa menurunkan suku bunga menjadi
3,75% fix 2 tahun dan cap 3 tahun 6,75% dengan minimum tenor 10 tahun. Tidak berhenti di situ karena ada berbagai kebutuhan segmen KPR, kita ada bunga fix berjenjang. Hanya BCA yang bisa memberikan variasi suku bunga yang banyak dan menarik,” ujar EVP Consumer Loan BCA Welly Yandoko.
CIMB Niaga meluncurkan KPR Xtra Manfaat yang memungkinkan debitur membayar angsuran rumah dengan cicilan pokok, sementara bunganya nol rupiah, dengan catatan debitur harus memiliki simpanan di Bank CIMB Niaga sebesar 120% dari nominal KPR-nya. Jika simpanannya tidak mencapai 120%, maka tabungannya bisa dihubungkan dengan sembilan rekening tabungan milik keluarga, seperti simpanan anak, mantu, dan keponakan di Bank CIMB Niaga. Tenang saja, simpanan tersebut sifatnya tidak terikat. Dananya kapan saja bisa dipakai oleh debitur.
Bank BTN saat ini sedang ada promo melalui program KPR BTN Gaess dan bisa mendapatkan suku bunga mulai dari 1,99% untuk developer
tertentu dengan fixed rate 1 tahun dan setelahnya akan dikenakan suku bunga floating. Sementara untuk non-fixed income suku bunga KPR mulai dari 4,29%.
Tinton, tokoh kita ini sudah jelas tertarik. Tapi dia masih ingin mengetahui detil program tersebut. “Berapa uang mukanya, dan berapa bunganya, karena biasanya DP kecil cicilannya mahal,” kata Tinton.
Sementara Monik Nur, 27 tahun, karyawan swasta yang bekerja di Radio Dalam, Jakarta Selatan, menceritakan kesulitannya mencari rumah yang dekat dengan tempat kerjanya. “Uang muka tinggi, cicilan tinggi dan lama. Harga yang lebih murah, adanya di sekitar Parung Panjang dan Tigaraksa. Jauh banget dari kantor,” tukas Monik. Jika membeli rumah di Parung Panjang dan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Monik butuh waktu 90 menit hingga dua jam untuk pergi ke kantornya dalam sekali jalan. Artinya, waktu 3-4 jam sehari akan dihabiskan dalam perjalanan pergi dan pulang kantor.
baca juga, Promo Beli 1 Gratis 1! Dekoruma Gelar Super Year-End Sale, di…
“Agak galau, uang DP sudah terkumpul tapi hanya cukup untuk beli rumah di sekitaran Tigaraksa. Bahkan wilayah Cisauk yang dekat BSD sudah tinggi harganya. Parung di Bogor sudah susah cari yang subsidi,” terang akuntan sebuah perusahaan diler mobil Jepang yang hingga saat ini masih tinggal di sebuah kamar kost, dengan biaya sewanya juga terus naik setiap bulannya.
Ryan (30) dan Ira (27), pasangan yang baru saja menikah, masih berusaha mencari rumah yang sesuai dengan anggarannya. Dia sudah beberapa kali melakukan survei di perumahan, tapi masih terkendala mahalnya uang muka. “Info DP-nya melebihi tabungan, sekitar Rp30 juta belum termasuk uang administrasi dan notaris,” kata dia.
R.Madya Januar, Division Head Consumer Sales Management PT Bank Rakyat Indonesia (Persero),Tbk. mengatakan, beli rumah itu komitmen jangka panjang. Maka itu, ia menyarankan kepada gerenasi muda untuk tak sungkan memanfaatkan program subsidi atau bantuan pemerintah, baik program FLPP dan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera). Pertimbangkan juga untuk berkonsultasi dengan seorang ahli keuangan atau perencana keuangan untuk mendapatkan nasihat yang lebih rinci tentang rencana keuangan Anda. “BRI memiliki Relation Manager KPR terpercaya yang bisa memberikan panduan kepada nasabah untuk melakukan perencanaan keuangan khususnya pembiayaan properti,” jelasnya.





















