Lima Makna Spiritual Rumah Tradisional Bali

Keluhuran nilai-nilai tradisional Bali yang diterapkan dalam keseharian masyarakat Bali di rumah mengilhami Waskita Realty untuk segera melakukan grand launching dua cluster Vasaka Bali pada Agustus ini yang juga akan mengaplikasikan nilai-nilai arsitek rumah tradisional Bali.

0
125
Cluster Evara di Vasaka Bali dan rumah tradisional bali
Cluster Evara di Vasaka Bali. (dok. Waskita Realty)

Propertyandthecity.com, Jakarta – Bali selalu memiliki pesona yang memikat hati dan tiada habis dibahas. Mulai dari keindahan alam, kekayaan budaya yang lestari, sampai nilai-nilai tradisional yang selaras dengan keseharian masyarakat Bali, termasuk dari segi arsitektur bangunan melalui rumah-rumah tradisional khas Bali.

Tidak hanya rumah tinggal, bahkan beragam resor di Bali juga mengusung konsep bergaya Bali yang tidak hanya sebatas dekorasi etnik, aroma dupa dan bebatuan, tetapi juga mengikuti pakem arsitektur dalam membangun rumah tradisional Bali. Semua ini bertujuan menciptakan keselarasan antara setiap elemen di dalamnya, baik dari segi bangunan maupun keseharian penghuni rumah.

Berikut adalah lima hal menarik tentang seluk beluk pakem arsitektur serta ritual di rumah tradisional Bali yang memberikan makna tersendiri. Sekaligus juga untuk menjawab rasa penasaran Anda kenapa orang Bali sering mengadakan upacara di rumah, meletakkan canang sari di halaman atau depan rumah, sampai denah yang berbeda dari rumah-rumah pada umumnya.

1. Fokus Pada Empat Aspek

Ada empat aspek utama yang menjadi acuan dalam membangun rumah tradisional Bali. Pertama, rumah tersebut harus memiliki sistem ventilasi yang baik yang diterapkan pada jendela-jendela besar dan ruang di antara atap dan dinding bangunan sehingga membantu sirkulasi udara.

Kedua, berdasarkan filosofi Tri Loka, yaitu rumah serupa tubuh manusia, sebuah rumah harus memiliki pondasi yang kokoh seperti kaki manusia.

Ketiga, halaman yang besar agar penghuni rumah terhubung dengan alam. Dan keempat, terdapat tembok penjaga untuk memberikan privasi dan menangkal energi negatif yang akan masuk ke rumah.

2. Asta Kosala Kosali, Fengshui Arsitektur Rumah Bali

Pada umumnya, rumah tradisional Bali tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal penghuninya, tetapi juga tempat bermasyarakat dan beribadah, khususnya bagi umat Hindu.

Oleh karena itu, arsitektur rumah tradisional Bali berpegang teguh pada asta kosala kosali, yaitu delapan pedoman desain arsitektur yang meliputi simbol, kuil, tahapan pembangunan, dan satuan pengukuran.

Selain itu, konsep tata ruang asta kosala kosali dilandasi oleh delapan hal: keseimbangan kosmos antara manusia, alam dan sang pencipta (tri hita karana), hierarki tata nilai (tri angga), arah mata angin (sanga mandala), ruang terbuka, proporsi dan skala ruang, kronologis dan prosesi pembangunan, kejujuran struktur dan kejujuran dalam menggunakan material.

Menariknya, dimensi pengukuran rumah tidak menggunakan meteran, melainkan ukuran anggota tubuh pemiliknya seperti tangan, jari, lengan dan kaki sebagai alat ukur sehingga dipercaya akan menciptakan ruang yang proporsional dan ikatan antara pemilik dan bangunan rumah.

3. Area Timur Laut Rumah Dianggap Paling Suci

Ketika memasuki rumah tradisional Bali, ada sepuluh ruang yang akan Anda jumpai berdasarkan arah mata angin.

Di bagian luar terdapat angkul-angkul, gapura jalan masuk di sebelah selatan atau barat daya; aling-aling, area tembok penghalang yang mengalihkan jalur masuk ke samping dan dipercaya menghalau energi negatif yang akan masuk ke rumah; dan natah atau halaman luar.

Untuk menerima tamu, biasanya keluarga Bali menggunakan bale dauh di sebelah barat, dan melakukan rapat keluarga di bale dangin yang terletak di sebelah timur.

Karena upacara sakral seperti pernikahan atau kematian dilaksanakan di rumah, umumnya keluarga-keluarga Bali menggunakan bale Bali saka yang merupakan bagian paling penting di rumah sehingga berada di tengah-tengah dengan alas yang lebih tinggi.

Setiap keluarga juga memiliki merajan atau tempat upacara yang terletak di sebelah timur laut atau lantai atas, area yang dianggap paling suci karena menghadap ke Gunung Agung.

Karena kepala keluarga dianggap terhormat dan area utara juga dianggap suci, maka bale daja digunakan sebagai paviliun bagi kepala keluarga atau pasangan yang baru menikah, sedangkan anggota keluarga lainnya tinggal dan bersantai di paviliun bale dauh. Paon atau dapur terletak di sebelah tenggara dan lumbung di bagian selatan.

4. Canang Sari, Persembahan Wajib dalam Ritual Sehari-hari

Keseharian masyarakat Bali di rumah tidak lepas dari filosofi tri hita karana yang mengutamakan keselarasan antara manusia, alam dan sang pencipta, sehingga ritual menghaturkan canang sari merupakan kewajiban sebagai wujud syukur sekaligus pengorbanan diri sendiri karena pembuatan canang sari juga memerlukan waktu dan materi.

Maka tak heran, faktanya, setiap rumah setidaknya membuat 25 hingga 60 canang sari sebagai sesajen setiap harinya, tergantung ukuran rumah dan diletakkan di berbagai sisi seperti depan angkul-angkul, bale bali saka dan tentunya merajan.

Rangkaian canang sari terdiri dari daun janur yang dibentuk segi empat sebagai alas, porosan dari pinang, sirih, daun janur dan kapur sebagai simbol Tridharma Hindu Bali (Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa), irisan tebu, jajanan khas Bali dan pisang, sampaian urasari, alas bulat untuk meletakkan bunga segar yang bermakna ketulusan, serta bunga rampai sebagai simbol kebijaksanaan dan dupa yang menyala di atas canang harus menghadap timur.

5. Rangkaian Upacara Saat Membangun Rumah

Saat membangun rumah, masyarakat Bali juga melakukan berbagai upacara pada setiap tahap pembangunannya.

Saat akan membangun pondasi rumah, biasanya Senin, Rabu, Kamis dan Jumat dianggap sebagai hari baik, dan diawali dengan upacara Ngruwak sebagai permohonan izin kepada roh halus agar berkenan mendirikan bangunan di tanah yang mereka tempati.

Kemudian pada saat peletakan batu bata pertama masyarakat Bali menyelenggarakan upacara Nasarin yang bertujuan rumah dan pemiliknya memegang teguh filsafat Hindu.

Selanjutnya, ketika rumah selesai dibangun upacara Mamakuh digelar dan dilengkapi prosesi ngurip-ngurip yang bertujuan menyucikan segala kekotoran dan mengubah benda mati menjadi hidup.

Terakhir, upacara Mlaspas dilakukan sebagai pembersihan dan penyucian rumah agar layak ditempati dan mendatangkan kedamaian di rumah tersebut.

Cluster Dhama Vasaka Bali
Cluster Dhama di Vasaka Bali. (dok. Waskita Realty)

Vasaka Bali

Keluhuran nilai-nilai tradisional Bali yang diterapkan dalam keseharian masyarakat Bali di rumah mengilhami Waskita Karya Realty (Waskita Realty), pengembang properti anak perusahaan PT Waskita Karya Tbk. Pengembang segera melakukan grand launching dua cluster Vasaka Bali pada Agustus ini yang juga akan mengaplikasikan nilai-nilai arsitek rumah tradisional Bali.

Dengan mengusung konsep modern tropical living, perumahan eksklusif yang menyelaraskan kehidupan masyarakat modern dengan sentuhan arsitektur bergaya Bali ini menyediakan fasilitas yang menunjang kenyamanan penghuni dan menjaga keasrian alam di kawasan penghubung Denpasar dan Ubud.