Beranda Berita Investasi Indonesia Jadi Destinasi Kompetitif bagi Perusahaan Manufaktur Global

Indonesia Jadi Destinasi Kompetitif bagi Perusahaan Manufaktur Global

0
Indonesia Jadi Destinasi Kompetitif bagi Perusahaan Manufaktur Global (Foto: Shutterstock)
Indonesia Jadi Destinasi Kompetitif bagi Perusahaan Manufaktur Global (Foto: Shutterstock)

Property and The City, Jakarta – Perusahaan real estate komersial dan manajemen investasi global, Jonas Lang LaSalle (JLL) menjelaskan bahwa Indonesia kini menjadi negara yang mendapatkan manfaat besar dari perusahaan yang mendiversifikasi manufaktur mereka untuk melengkapi basis manufaktur yang sudah ada di Tiongkok

Dalam satu dekade ke depan, JLL memperkirakan akan terjadi percepatan pergeseran dalam rantai pasokan global. Diversifikasi manufaktur dan produksi diprediksi akan semakin terfokus pada beberapa lokasi di Asia Tenggara dan India. Namun, perusahaan perlu tetap fleksibel dalam memilih lokasi dan opsi pembiayaan untuk menghadapi volatilitas rantai pasokan yang mungkin terjadi.

Tren ini terlihat semakin jelas dalam beberapa tahun terakhir, di mana banyak perusahaan mempertimbangkan relokasi manufaktur mereka keluar dari China. Di kawasan Asia Pasifik, strategi seperti near-shoring, re-shoring, dan friend-shoring telah menghasilkan strategi China+1. Strategi ini memungkinkan perusahaan menambahkan basis manufaktur tambahan di luar China, dengan tujuan mengurangi risiko gangguan rantai pasokan dan ketergantungan pada satu negara.

Berdasarkan analisa JLL, dampak utama telah dirasakan di negara tujuan, terutama di Asia Tenggara dan India. Hasilnya, sejumlah pemerintahan di kawasan tersebut menunjukkan dukungannya terhadap peluang tersebut dan menerapkan lebih banyak kebijakan untuk mendukung industri manufaktur lokal mereka, yang memprioritaskan ketersediaan lahan dan akses ke sumber modal.

“Diversifikasi dalam rantai pasok adalah langkah alami bagi perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur di lifecycle ekonomi yang lebih besar di wilayah ini. Kami melihat bahwa Kawasan Asia Tenggara dan India dapat saling melengkapi dengan kekuatan produksi yang sudah ada dari Tiongkok, namun menurut kami, agar perusahaan dapat merespons pergeseran rantai pasokan ini dengan cepat, mereka perlu mengadopsi pola pikir yang fleksibel terhadap pemilihan lahan dan opsi pendanaan,” kata Head of Manufacturing Strategy, Asia Pacific, JLL, Michael Ignatiadis.

Indonesia berada pada posisi yang strategis untuk menjadi pusat manufaktur baru, mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, dan mengurangi risiko gangguan rantai pasokan global.

“Indonesia kini muncul sebagai hub untuk manufaktur besar. Populasi yang besar, tenaga kerja yang melimpah, biaya yang menarik, serta insentif-insetif yang ditawarkan menjadikan Indonesia sebagai destinasi investasi manufaktur yang menarik,” ungkap Michael.

Pada 2023, Indonesia mencatat peningkatan penanaman modal asing langsung (FDI) dalam bidang manufaktur, dengan kenaikan sebesar US$4 miliar sehingga mencapai total US$28,7 miliar.

“Indonesia juga mengalami pertumbuhan signifikan di sektor-sektor utama seperti elektronik dan peralatan, bahan kimia dan farmasi, serta kendaraan bermotor dan transportasi lainnya,” jelasnya.

Pemerintah Indonesia telah menerapkan berbagai kebijakan untuk mendukung dan menarik investasi di sektor manufaktur. Beberapa inisiatif utama termasuk insentif untuk kendaraan bermotor tenaga baterai, insentif pajak investasi melalui Kawasan Ekonomi Khusus, dan strategi “Making Indonesia 4.0” yang bertujuan mengintegrasikan teknologi manufaktur mutakhir.

Selain itu, Indonesia mengizinkan 100% kepemilikan asing di sektor-sektor utama seperti logistik dan e-commerce. Indonesia juga berkomitmen untuk mencapai net-zero emisi karbon pada 2050 melalui Strategi Jangka Panjang Rendah Karbon dan Ketahanan Iklim 2050. Kebijakan-kebijakan ini menciptakan lingkungan yang mendukung investasi manufaktur, menempatkan Indonesia sebagai destinasi kompetitif bagi produsen dunia.

Country Head dan Head of Logistics and Industrial, JLL Indonesia, Farazia Basarah mengatakan, Indonesia menawarkan ekosistem manufaktur yang kuat dengan inisiatif pemerintah, insentif, dan tenaga kerja yang besar. Lokasi strategis dan berlimpahnya sumber daya alam menjadikan Indonesia destinasi utama bagi produsen yang ingin mendiversifikasi dan memperkuat rantai pasok mereka.

Meningkatnya biaya di China dalam beberapa dekade terakhir telah mempercepat peralihan menuju diversifikasi ini. Permintaan yang lebih besar terhadap lahan industri, ditambah dengan upah dan biaya bahan baku yang meningkat, juga membuat harga tanah lebih mahal di China.

“Ini membuat Indonesia menjadi alternatif yang lebih cost-effective. Selain itu, faktor-faktor seperti tenaga kerja ahli, infrastruktur, regulasi lingkungan, kedekatan dengan pemasok dan pelanggan, serta stabilitas politik sangat berkontribusi pada kesuksesan dan keberlanjutan pabrik dalam jangka panjang. JLL merekomendasikan perusahaan untuk cermat dalam mengevaluasi faktor-faktor non-biaya atau kualitatif ini karena sangat penting untuk membuat keputusan yang tepat dan membangun fondasi yang kuat untuk pertumbuhan di masa depan,” tutupnya.

+ posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini