Djoko Yoewono: KPR Program Atau FLPP Tetap Berjalan

KPR untuk rumah subsidi diperkirakan akan tetap jalan tahun ini karena masih menyimpan stok yang belum terserap tahun kemarin. Adapun pertumbuhan KPR tahun ini akan menurun di angka di bawah 5 persen.

0
763
Djoko Yoewono
Djoko Yoewono, Senior Vice President Consumer Loans Group Bank Mandiri/ Foto: dokpri

Propertyandthecity.com, Jakarta – Sampai pertengahan April ini belum ada tanda-tanda wabah Covid-19 di Indonesia mereda, begitu pun di belahan dunia lainnya. Sementara ancaman krisis ekonomi sudah di depan pelupuk mata. Walaupun belum ada yang mengatakan secara terbuka tetapi realitas akibat wabah Covid-19 yang memukul sendi-sendi ekonomi sudah tampak jelas. Angka-angka korban PHK terus bermunculan setiap hari akibat pabrik atau pusat belanja tutup. sektor informal sudah babak belur. Bahkan, sudah ada yang menghitung 3 bulan ke depan beberapa sektor riil diperkirakan bakal kolaps.

Kondisi ekonomi sekarang memang harus disikapi dengan serius. Negara-negara yang paling parah terkena wabah Covid-19 sudah siap ancang-ancang merevisi pertumbuhan ekonominya. IMF sendiri sudah mengatakan dunia sudah memasuki krisis ekonomi dan bisa lebih buruk dari krisis tahun 2008. Indonesia yang masih berjuang dengan wabah asal China ini, harus siap menghadapi kondisi ekonomi yang terburuk. Bank Indonesia, misalnya, sudah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional di rentang antara 4,2 persen hingga 4,6 persen. Ini lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang dipatok antara 5 hingga 5,4 persen.

Baca: BTN Tetap Lakukan Akad Kredit

Properti adalah sektor yang sudah merasakan dampaknya. Beberapa pengembang sudah mengakui terjadinya penurunan penjualan dalam dua bulan ini akibat keharusan social distancing. Bank-bank penyedia KPR pun setali tiga uang, mengakui sudah terjadi penurunan konsumen KPR akibat kemampuan daya beli masyarakat yang sudah menurun. Bahkan, sudah ada yang mengajukan permohonan restrukturisasi kreditnya akibat pukulan ekonomi.

Menurut Djoko Yoewono, Senior Vice President Consumer Loans Group Bank Mandiri, dampak dari Covid-19 sudah mulai dirasakan bank-bank. Saat ini bank sudah pasti disibukkan dengan banyaknya permohonan restrukturisasi atas nasabah KPR yang ekonominya kena imbas wabah Covid-19. Sementara untuk booking KPR baru, bank akan lebih selektif memilih konsumen yang disetujui. Seperti fokus ke segmen pekerja khususnya untuk perusahaan yang tidak terlalu kena dampak Covid-19.

Secara umum pasar KPR yang tadinya tahun ini diharapkan bisa naik angka pertumbuhannya pasca relaksasi BI perihal LTV dan KPR indent, akan kembali mengalami tekanan. Angkanya bisa dibawah angka pertumbuhan ketika tahun 2013 sampai dengan 2016 yang di angka rata-rata 7 persenan. Itupun pertumbuhannya tetap masih di-generate segmen first buyer dan kredit program.

Walaupun terjadi tekanan di pasar KPR, lanjut Djoko, tetapi khusus segmen KPR lewat program seperti Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) masih akan tetap jalan di tengah situasi wabah Covid-19. Pasalnya, para pengembang di segmen ini masih menyimpan banyak stok rumah subsidi tahun lalu yang belum terserap habis. Ditambah lagi kuota FLPP tahun ini diprediksi masih belum mencukupi untuk menampung stok dan permintaan yang ada saat ini. “Pertumbuhan KPR tahun ini akan menurun dibawah 5 persen dengan penopang pertumbuhan masih di segmen first buyer khususnya kredit program atau FLPP,” ujar Djoko.

Baca: PUPR Gulirkan Stimulus, Pengamat: Lihat Urgensinya!

Dari pertumbuhan pasar KPR tersebut, sekitar 35 sampai 40 persen akan dikontribusi oleh KPR program atau FLPP, ditambah dengan penurunan angka prepayment dan repayment karena adanya debitur yang direstrukturisasi dan menurunya pelunasan dipercepat karena faktor wabah Covid-19. Harap maklum, kondisi ini terjadi karena sekarang orang fokus untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari dibandingkan dengan melakukan percepatan pelunasan kredit. (Hendaru)