Jakarta, propertyandthecity.com – Kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) terbukti efektif dalam mendongkrak penjualan properti ready stock di akhir tahun 2024.
Berdasarkan data Indonesia Property Watch (IPW), penjualan ready stock meningkat tajam sebesar 82% dibandingkan triwulan sebelumnya. Insentif ini memberikan dorongan signifikan bagi konsumen yang ingin segera memiliki hunian tanpa harus menunggu proses pembangunan.
“Kebijakan PPN DTP masih cukup efektif dalam mendongkrak pasar yang relatif masih lemah. Banyak konsumen yang memanfaatkan insentif ini untuk segera memiliki properti tanpa harus menunggu proses pembangunan,” ujar Ali Tranghanda, konsultan properti dari Indonesia Property Watch (IPW) kepada propertyaandthecity.com, Jakarta, (01/02/2025).
Sementara Tren pembatalan pembelian properti di kawasan Jabodebek-Banten menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari Q4-2023 hingga mencapai puncaknya di Q2-2024 sebelum akhirnya mengalami penurunan pada Q4-2024.
Berdasarkan data yang dirilis oleh IPW kepada media, tingkat pembatalan pada Q4-2023 tercatat sebesar 5,2% dan meningkat menjadi 7,0% di Q1-2024. Kenaikan ini terus berlanjut hingga Q2-2024, mencapai angka tertinggi 14,8%, sebelum menurun menjadi 12,9% di Q3-2024 dan akhirnya turun kembali ke 11,3% pada Q4-2024.
Ali mengungkapkan bahwa meskipun terjadi penurunan pada akhir tahun, tingkat pembatalan masih relatif tinggi dibandingkan awal tahun 2023.

“Bekasi mencatat angka pembatalan tertinggi, diikuti oleh Tangerang dan sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat yang masih belum pulih sepenuhnya,” ujarnya.
Baca Juga: Segmen Rp1-2 Miliar Jadi Primadona Pasar Properti Jabodebek-Banten
Dengan demikian, pasar properti di Jabodebek-Banten masih menghadapi tantangan. “Kestabilan ekonomi dan kebijakan pemerintah akan sangat menentukan tren pasar ke depan. Dengan stimulus seperti PPN DTP terus diperpanjang, kemungkinan besar kita akan melihat tren positif berlanjut di 2025,” tambahnya.
Dengan adanya tren ini, para pengembang diharapkan dapat lebih adaptif dalam menawarkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar, baik dalam segi harga maupun skema pembiayaan. (AS)


















