Top 5 This Week

Related Posts

PROPERTI MEMASUKI CUTI TAHUN KE DELAPAN, KAPAN NAIK?

Sejak tahun 2013, pergerakan pasar properti terus mengalami tren perlambatan sampai tahun 2019. Ketika baru mulai sedikit menanjak, tiba-tiba dihantam pandemi yang membuat semua sektor hampir tiarap. Untungnya kondisi ini tidak membuat pasar properti sepenuhnya ‘bangkrut’, meskipun setelah satu tahun pandemi berlangsung banyak juga pengembang khususnya di segmen menengah yang menjerit kesulitan penjualan dan cashflow sangat terganggu.

Beberapa indikasi menyatakan bahwa daya beli masyarakat masih ada untuk membeli properti. Meskipun demikian tekanan berat terjadi di segmen bawah. Hal ini juga tergambar dari Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan yang malah mengalami kenaikan sebesar 8,53 persen pada Juli 2020. Kenaikan ini diperlihatkan untuk para deposan yang mempunyai tabungan diatas Rp5 miliar, berbanding terbalik dengan penabung di bawah Rp100 jutaan yang lebih banyak menarik tabungannya dibandingkan menabung. Artinya daya beli masyarakat masih cukup terjaga di golongan menengah atas. Dari data Indonesia Property Watch diperlihatkan juga ternyata minat orang untuk membeli properti masih tinggi di masa pandemi atau sebesar 68,05 persen. Namun demikian sebagian besar memang masih melakukan penundaan dan sebagian lagi disimpan ke bank. Bila ini berlanjut maka pastinya perekonomian tidak akan berputar.

Penundaan pembelian oleh para investor memang cukup beralasan melihat kondisi saat ini. Apalagi saat ini properti mulai memasuki cuti tahun ke delapan di tahun 2021. Apakah properti tidak akan pernah naik lagi?

Meskipun daya beli masih cukup tinggi, namun beberapa faktor lain yang membuat masyarakat masih agak ragu di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti. Beberapa indikator ekonomi yang memengaruhi pasar properti adalah inflasi, suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi. Inflasi saat ini sangat rendah, suku bunga pun sedang dalam tren menurun. Kedua hal ini menjadi modal dasar kebangkitan bisnis properti. Namun ada faktor lain yang masih tertinggal yaitu pertumbuhan ekonomi kita yang masih negatif, meskipun beberapa lembaga dunia memperkirakan ekonomi kita akan tumbuh 4,5 – 5 persen di tahun 2021.

Kita tidak tahu sampai kapan tepatnya pasar properti ini akan bangkit. Namun ketika semua fundamental telah terpenuhi, properti diperkirakan akan naik melejit sangat cepat karena sebenarnya minat masyarakat untuk membeli properti sudah tertahan sejak lama dan yang penting daya beli masih cukup tinggi untuk membeli properti. Golongan masyarakat menengah atas diperkirakan akan menjadi ‘penyelamat’ sekaligus akan membuat pasar properti berlari kencang saatnya nanti. Karena pasar pertumbuhan properti saat ini merupakan pertumbuhan terendah sejak tahun 2013 sehingga siklus berada di dasar. Ketika siklus di bawah kemungkinan akan naik sangat besar. Kita tunggu waktunya
bersama-sama. Jangan sampai terlambat mengambil momentum, jangan menunggu saat siklus sudah tinggi, ambil langkah untuk para investor untuk dapat membeli properti pada saat dan kondisi yang sangat tepat. Dan saat yang tepat itu, mungkin adalah saat ini…
● [AT]

Website | + posts

Popular Articles