Jakarta, Propertyandthecity.com – Pemerintah mendorong percepatan Program Gentengisasi Nasional sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hunian rakyat sekaligus memperkuat industri genteng dalam negeri. Jawa Barat menjadi wilayah awal yang disiapkan untuk menopang kebutuhan pasokan, seiring tingginya permintaan rumah subsidi dan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) menegaskan program ini dirancang sebagai strategi jangka panjang, bukan sekadar bantuan sosial.
“Program ini bukan charity. Ini program kualitas dan keberlanjutan. UMKM harus naik kelas, industrinya kuat, dan rumah rakyat tidak panas. Kita ingin multiplier effect-nya terasa. Masyarakat senang, industri tumbuh,” tegas Ara, dikutip Senin (02/03/2026).
Ia menekankan pentingnya menjaga kualitas dan kapasitas produksi. Genteng yang dipasok ditargetkan memiliki ketahanan minimal 15 tahun, tahan panas dan hujan, serta memenuhi aspek estetika, termasuk pengembangan model flat untuk desain perumahan modern. Pemerintah daerah juga akan memfasilitasi proses sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) melalui tahapan permohonan, verifikasi, hingga audit agar mutu produk terjamin.
Dari sisi industri, Majalengka diproyeksikan menjadi salah satu sentra utama penyedia genteng nasional. Harga genteng untuk wilayah Jawa Barat telah disepakati sebesar Rp4.300 per unit hingga lokasi proyek. Salah satu pengembang bahkan menyatakan komitmen transaksi awal sekitar Rp12,6 miliar, dengan target realisasi pada awal April 2026.
Di sektor pembiayaan, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) menyatakan kesiapan mendukung program melalui Kredit Program Perumahan (KPP) atau KUR Perumahan. Skema ini difokuskan untuk menopang UMKM genteng agar mampu memenuhi permintaan dalam skala besar.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjelaskan perseroan berperan sebagai penghubung antara pengrajin dan pengembang perumahan.
“Jadi nanti kalau sudah ada kontrak antara pengrajin dan pembeli atau usernya, ya, BRI ada di tengah. Kebetulan kita, kan, sudah ada pembiayaan KUR Perumahan. Bahan bangunan ini, kan, bagian dari KUR Perumahan juga. Kalau batch pertama ini nanti bagus, ya, tentunya bisa mengembang ke daerah lain juga, sentral-sentral genteng di Indonesia,” katanya saat konferensi pers di BriLian Club, dikutip Senin (02/03/2026).
Menurut Hery, dukungan pembiayaan tersebut juga diharapkan mendorong penggunaan genteng sebagai material atap yang lebih nyaman dibandingkan seng atau asbes.
“Kalau pakai genteng, kan, lebih dingin dibandingkan kalau pakai seng ataupun asbes dan lain sebagainya. Jadi kita dukung, ya, BRI sebagai bank yang memang DNA-nya adalah untuk berpihak kepada rakyat kecil. Jadi kita menyediakan pembiayaannya,” tutur Hery.
Apabila implementasi awal berjalan baik, program ini berpeluang diperluas ke sentra genteng lain di berbagai daerah, memperkuat rantai pasok sekaligus meningkatkan daya saing UMKM bahan bangunan nasional.





















