Jakarta, Propertyandthecity.com – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kalangan broker properti di Indonesia terus meningkat. Namun, tingginya penggunaan teknologi tersebut belum diikuti dengan kemampuan broker untuk meningkatkan visibilitas sehingga dapat direkomendasikan AI kepada calon pembeli properti.

Hal itu terungkap dalam riset kolaborasi antara Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) dan peneliti Dedy Budiman terhadap 196 broker properti anggota AREBI yang dilakukan pada 2 hingga 24 Juni 2026.
Studi tersebut menemukan sebanyak 78,1 persen broker properti telah menggunakan AI setidaknya beberapa kali dalam sebulan. Angka ini dinilai cukup tinggi mengingat profesi broker properti didominasi oleh kelompok usia di atas 45 tahun.
Meski demikian, hanya 24,5 persen responden yang memahami faktor yang memengaruhi nama mereka muncul dalam rekomendasi AI. Bahkan, hanya 12,2 persen broker yang mengetahui perbedaan optimasi mesin pencari (SEO) dengan optimasi AI serta telah menerapkan keduanya.
Peneliti Dedy Budiman mengatakan temuan utama riset ini bukan terletak pada penggunaan teknologi, melainkan adanya kesenjangan antara kesadaran akan pentingnya AI dan pemahaman untuk memanfaatkannya.
“Temuan paling penting dari riset ini bukan soal teknologi, tapi soal kesenjangan. Sebanyak 80,6 persen broker menilai AI visibility penting untuk bisnis mereka dalam dua sampai tiga tahun ke depan. Tapi ketika ditanya hambatannya, jawaban terbanyak bukan waktu atau biaya, melainkan tidak tahu caranya dan tidak tahu harus mulai dari mana, masing masing 41,3 persen. Kami menyebutnya importance understanding gap, yaitu sadar penting tetapi belum tahu jalannya,” ujar Dedy.
Riset juga menunjukkan perubahan perilaku konsumen dalam mencari properti mulai terlihat. Sebanyak 25,5 persen broker mengaku pernah mendengar klien menyebut memperoleh informasi dari AI dalam enam bulan terakhir. Sementara itu, 15,8 persen broker menyatakan pernah ditemukan klien melalui AI, dengan ChatGPT menjadi platform yang paling sering disebut.
Menariknya, pengguna AI tidak hanya berasal dari kalangan investor. Mayoritas merupakan pembeli rumah pertama atau rumah untuk dihuni sendiri dengan kisaran anggaran Rp1 miliar hingga Rp3 miliar.
Temuan tersebut mengindikasikan adanya fenomena silent AI assisted buyer journey, yaitu calon pembeli memanfaatkan AI pada tahap awal pencarian properti sebelum akhirnya menghubungi broker melalui WhatsApp atau telepon tanpa pernah menyebut bahwa mereka menggunakan AI.
Sebanyak 78,6 persen broker bahkan memperkirakan sebagian klien mereka telah menggunakan AI dalam proses pencarian properti meski aktivitas tersebut tidak terlihat dalam data trafik digital.
Hasil ini juga sejalan dengan riset Dedy Budiman sebelumnya bertajuk The Rise of AI Assisted Consumer Information Search yang melibatkan 1.596 responden valid. Penelitian tersebut menemukan 74,6 persen konsumen Indonesia telah menggunakan AI untuk mencari informasi produk dan 79,8 persen responden menilai AI mampu mempercepat proses pengambilan keputusan.
Marketplace Kuat, Identitas Digital Broker Belum
Selain itu, riset menemukan sebanyak 75,5 persen broker menilai marketplace properti lebih mudah ditemukan AI dibandingkan broker individu. Ketika membayangkan AI ditanya mengenai broker terpercaya di suatu kota, hanya 7,7 persen responden yang memperkirakan nama broker individu akan muncul sebagai rekomendasi. Selebihnya meyakini AI akan lebih banyak merekomendasikan perusahaan besar atau marketplace.
Penelitian juga mengukur lima indikator kesiapan aset digital broker, yaitu kelengkapan profil marketplace, akun LinkedIn aktif, Google Business Profile yang telah terverifikasi, liputan media, serta konsistensi identitas digital. Hasilnya, hanya 12,2 persen broker yang memenuhi empat hingga lima indikator tersebut.
AREBI: Momentum Profesionalisasi Broker
Ketua Umum AREBI, Clement Francis, menilai hasil riset ini menjadi masukan penting bagi organisasi dalam mendorong profesionalisme broker properti di Indonesia.
Menurutnya, tingginya adopsi AI menunjukkan broker telah terbuka terhadap perkembangan teknologi. Tantangan berikutnya adalah memastikan broker tidak hanya menggunakan AI, tetapi juga memiliki visibilitas sehingga dapat direkomendasikan kepada calon konsumen.
“Riset ini memberi kami peta yang jelas. Anggota kami sudah adaptif terhadap teknologi, itu terbukti dari tingginya penggunaan AI. Tugas kami sekarang memastikan broker Indonesia tidak hanya menggunakan AI, tapi juga hadir dan direkomendasikan di dalamnya. Ini bagian dari standar profesionalisme baru, yaitu broker yang tersertifikasi, kredibel, dan dapat ditemukan oleh manusia maupun oleh AI,” kata Clement.
Saat ini AREBI menargetkan sebanyak 5.000 broker properti tersertifikasi hingga Oktober 2026 seiring penerapan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 33 Tahun 2025 yang mewajibkan broker properti memiliki sertifikat kompetensi.
Menurut Clement, sertifikasi menjadi bukti kompetensi dan legalitas profesi, sedangkan AI visibility menjadi faktor penting agar broker mudah ditemukan di era digital.
“Sertifikasi menjawab soal kompetensi dan legalitas. AI visibility menjawab soal keterlihatan. Keduanya adalah dua sisi dari kepercayaan publik terhadap profesi broker,” ujarnya.
Riset tersebut menyimpulkan bahwa semakin banyak masyarakat memanfaatkan AI untuk mencari informasi properti, semakin besar pula pengaruh rekomendasi AI dalam menentukan broker yang dipertimbangkan calon pembeli. Karena itu, penguatan kredibilitas dan identitas digital broker dinilai menjadi kepentingan bersama seluruh ekosistem properti, mulai dari broker, developer, hingga konsumen.





















