Bogor, propertyandthecity.com – Setiap pagi, masih ada anak-anak di berbagai pelosok negeri yang memulai perjalanan ke sekolah dengan rasa waswas. Sebagian harus menyeberangi sungai, sementara lainnya meniti tali seadanya demi mencapai ruang kelas.
Kondisi tersebut tergambar dalam sebuah video yang diputar saat pembukaan taklimat awal tahun Presiden Prabowo Subianto dalam rangkaian retret kabinet. Rekaman itu memperlihatkan siswa berseragam sekolah menyeberangi sungai dengan pakaian basah atau berpegangan pada tali sederhana, menandakan masih terbatasnya akses aman menuju pendidikan di sejumlah wilayah.

Berangkat dari kenyataan itu, pemerintah mempercepat pembangunan jembatan gantung di berbagai daerah terpencil. Hingga awal 2026, sebanyak 11 jembatan gantung telah diselesaikan, sementara sekitar 6.900 jembatan gantung lainnya masuk dalam daftar kebutuhan mendesak.
Capaian tersebut disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam taklimat awal tahun Presiden Prabowo saat retret kabinet di kediaman pribadi Presiden di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1/2026) dilansir Badan Komunikasi Pemerintah.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan, progres pembangunan jembatan bergerak cepat hanya dalam hitungan bulan sejak Satuan Tugas (Satgas) Jembatan dibentuk.
”Dalam satu bulan sudah ada perkembangan, 11 jembatan gantung sudah selesai, sedang dalam proses 50, dan terus akan kami kejar di tahun 2026 yang sangat urgen tadi dilaporkan kurang lebih 6.900 jembatan,” tutur Prasetyo dalam konferensi pers di Hambalang, Bogor, Selasa (6/1/2026).

Satgas Jembatan mencatat, ribuan jembatan tersebut merupakan jalur vital penyeberangan warga, terutama anak-anak sekolah.
”Yang sangat urgen tadi dilaporkan kurang lebih 6.900 jembatan,” kata Prasetyo.
Bagi Presiden Prabowo, persoalan jembatan bukan sekadar urusan infrastruktur, melainkan soal keselamatan dan keadilan akses pendidikan. Dalam sambutannya pada puncak peringatan Hari Guru Nasional 2025, Presiden bahkan menyebut Indonesia membutuhkan hingga 300.000 jembatan di seluruh pelosok negeri.
Ia menegaskan tidak ingin ada lagi anak-anak yang harus mempertaruhkan nyawa demi menimba ilmu.
”Masalah jembatan ini menjadi prioritas karena saya tidak rela anak-anak seperti itu tiap hari mempertaruhkan nyawanya ke sekolah,” ucapnya.
Dalam video yang diputar di Hambalang, turut ditampilkan daftar 11 jembatan gantung yang telah disiapkan untuk memudahkan anak-anak menuju sekolah tanpa harus berbasah-basah di sungai. Jembatan-jembatan tersebut tersebar dari barat hingga timur Indonesia.
Mulai dari Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, sepanjang 65 meter; Way Umbar, Tanggamus, Lampung, sepanjang 70 meter; Lopasir, Banyumas, Jawa Tengah, sepanjang 50 meter; hingga Ciparanti, Pangandaran, Jawa Barat, sepanjang 35 meter.
Pembangunan juga menyentuh wilayah Aik Lekok, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, sepanjang 80 meter; Likunggavali, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, sepanjang 20 meter; serta Ular, Deli Serdang, Sumatera Utara, sepanjang 150 meter.
Daftar itu berlanjut ke Bokpendem, Kediri, Jawa Timur, sepanjang 40 meter; Cisokan, Cianjur, Jawa Barat, sepanjang 100 meter; Cisurupan, Garut, Jawa Barat, sepanjang 50 meter; dan Krueng Arakundo, Aceh Timur, sepanjang 50 meter.
Jembatan-jembatan tersebut mungkin hanya bentangan besi dan kabel, tetapi bagi anak-anak di seberangnya, ia adalah jalan menuju sekolah tanpa rasa takut. Pemerintah berharap, percepatan pembangunan ini dapat mengakhiri cerita lama tentang seragam basah, kaki gemetar, dan nyali yang dipertaruhkan demi sebuah cita-cita.





















