Jakarta, Propertyandthecity.com – Menara Astra, sebagai bagian dari Astra Property, mulai menerapkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mengoptimalkan sistem Heating, Ventilation, and Air Conditioning (HVAC) di gedungnya. Teknologi bernama BTune ini diperkenalkan Colliers Indonesia dan menjadi implementasi pertama solusi tersebut pada gedung komersial di Jakarta.
Penerapan BTune di Menara Astra ditandai dengan penandatanganan perjanjian antara Menara Astra dan Colliers Indonesia pada Senin (28/9/2026). Teknologi ini digunakan untuk mengoptimalkan penggunaan energi pada sistem HVAC yang menjadi salah satu sumber konsumsi energi terbesar di gedung komersial.
Colliers Indonesia memperkenalkan BTune sebagai solusi optimasi HVAC otomatis yang dapat bekerja dengan Building Management System (BMS) atau Building Automation System (BAS) yang telah tersedia di gedung. Sistem tersebut melakukan penyesuaian pengendalian HVAC secara real-time berdasarkan kondisi operasional gedung.
Penerapannya tidak membutuhkan penambahan peralatan HVAC maupun pemrograman ulang sistem secara menyeluruh. Dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada, implementasi BTune juga dirancang untuk meminimalkan gangguan terhadap operasional gedung.
Selain melakukan optimasi secara berkelanjutan, teknologi ini dapat membantu mengidentifikasi dan menangani persoalan kinerja HVAC dengan lebih cepat. Penerapannya menggunakan model berbasis kinerja sehingga tidak membutuhkan investasi awal (capex).
President Director Astra Property, Wibowo Muljono mengatakan sistem HVAC menyumbang porsi signifikan terhadap penggunaan energi di gedung komersial sehingga efisiensi pengoperasiannya menjadi salah satu perhatian Menara Astra.
“Sistem HVAC menyumbang porsi yang signifikan terhadap penggunaan energi di gedung komersial, sehingga pengoperasian yang efisien menjadi prioritas penting bagi Menara Astra. Sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan kami, kami terus berfokus pada pengurangan jejak karbon sekaligus meningkatkan kinerja operasional dan kenyamanan penghuni. Penerapan BTune mencerminkan komitmen kami dalam memanfaatkan teknologi yang praktis dan inovatif guna mengoperasikan Menara Astra secara lebih efisien dan berkelanjutan,” ungkapnya, dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (29/9/26).
Pada tahap awal implementasi, BTune di Menara Astra ditargetkan menghasilkan penghematan energi rata-rata 10%-20%. Penghematan tersebut diharapkan turut menekan emisi karbon dan biaya operasional gedung.

Dalam berbagai implementasinya, BTune mencatat rata-rata penurunan konsumsi energi keseluruhan gedung sebesar 18%. Teknologi tersebut juga dilaporkan dapat mengurangi waktu penelusuran dan identifikasi gangguan HVAC sebesar 30%-50%, tanpa perlu mengganti peralatan yang sudah tersedia.
Selain efisiensi energi, optimasi HVAC dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga kondisi operasional sistem dan kenyamanan penghuni gedung. Pendekatan ini memungkinkan kinerja HVAC disesuaikan dengan kondisi gedung secara real-time.
Managing Director Colliers Indonesia, Mike Broomell, mengatakan solusi keberlanjutan di sektor properti perlu memberikan manfaat yang dapat diukur, baik dari sisi operasional maupun lingkungan.
“Colliers Indonesia berkomitmen untuk menghadirkan solusi keberlanjutan yang memberikan manfaat operasional dan lingkungan yang terukur bagi pemilik properti. Kerja sama ini menjadi langkah penting bagi sektor properti komersial Jakarta, yang menunjukkan bagaimana gedung perkantoran modern seperti Menara Astra dapat memanfaatkan teknologi cerdas untuk meningkatkan efisiensi energi tanpa mengorbankan kenyamanan penghuni maupun keunggulan operasional. Kami bangga dapat memperkenalkan BTune dan membantu mewujudkan kolaborasi ini,” ungkapnya.
BTune dirancang untuk gedung yang disewakan maupun ditempati pemilik sendiri dan telah dilengkapi BMS atau BAS. Teknologi ini dapat diterapkan pada berbagai properti dengan sistem pengelolaan gedung terpusat, seperti perkantoran, pusat perbelanjaan, pusat konvensi, hotel, hingga properti berskala besar lainnya.
Penerapan teknologi optimasi HVAC tersebut menunjukkan penggunaan manajemen gedung berbasis data semakin relevan bagi sektor properti komersial. Selain membantu mengendalikan konsumsi energi, teknologi ini dapat mendukung pengurangan emisi karbon sekaligus menjaga kinerja operasional dan kenyamanan penghuni gedung.





















