Jakarta, propertyandthecity.com – Pembangunan sistem perlindungan pesisir di Pantai Utara Jawa terus memasuki tahap perencanaan yang lebih terintegrasi. Pemerintah kini mendorong integrasi proyek Giant Sea Wall dengan Jalan Tol Semarang–Demak sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mengatasi banjir rob sekaligus memperkuat struktur kawasan pesisir yang memiliki aktivitas ekonomi tinggi.
Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa, Didit Herdiawan Ashaf, mengatakan bahwa pembahasan integrasi tanggul laut dengan infrastruktur jalan tol telah dilakukan pemerintah. “Ada, sudah dibicarakan,” ujar Didit dalam media briefing di Jakarta, (23/02/2026).
Menurut Didit, pembangunan Giant Sea Wall tidak hanya difokuskan pada konstruksi tanggul laut, tetapi dirancang sebagai sistem perlindungan pesisir yang terintegrasi. Konsep tersebut menggabungkan tanggul laut (offshore dike), tanggul darat (onshore dike), serta pendekatan berbasis alam melalui penguatan ekosistem mangrove.
Ia menjelaskan kawasan Pantura saat ini menghadapi tantangan serius berupa penurunan muka tanah, kenaikan muka air laut, banjir akibat curah hujan, serta banjir rob yang berdampak luas terhadap permukiman, kawasan industri, hingga infrastruktur strategis nasional.
“Perlindungan pesisir yang dikembangkan tidak dimaknai semata sebagai pembangunan tanggul laut, tetapi sebagai sistem terintegrasi untuk menjaga keberlanjutan kawasan pesisir Pantura,” kata Didit.
Secara konseptual, sistem perlindungan pesisir tersebut direncanakan membentang sepanjang sekitar 535 kilometer yang melintasi lima provinsi di Indonesia, yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Wilayah tersebut dihuni sekitar 17 juta penduduk dan memiliki kontribusi besar terhadap aktivitas ekonomi nasional.
Sementara itu, Menteri Kementerian Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyampaikan bahwa integrasi proyek tanggul laut dengan jalan tol diharapkan menjadi solusi permanen untuk mengatasi banjir rob yang selama ini terjadi di kawasan Semarang dan sekitarnya hingga Demak.
“Pembangunan Jalan Tol Semarang–Demak yang terintegrasi dengan tanggul laut ini diharapkan menjadi solusi permanen permasalahan banjir rob di kawasan Semarang, khususnya pada jalur Pantura Semarang–Demak,” ujar Dody.
Pemerintah saat ini terus mempercepat pembangunan Tol Semarang–Demak Seksi 1 Kaligawe–Sayung sepanjang 10,64 kilometer yang dibangun di atas laut. Hingga 12 Juni 2025, progres fisik proyek tersebut tercatat mencapai 44,26 persen.
Pembangunan Seksi 1 terbagi dalam tiga paket pekerjaan, dengan progres Paket 1A mencapai 65,92 persen, Paket 1B sebesar 42,97 persen, dan Paket 1C sebesar 22,77 persen. Secara keseluruhan, jalan tol sepanjang 26,95 kilometer tersebut dibangun dalam dua seksi, dengan Seksi 2 Sayung–Demak sepanjang 16,31 kilometer telah beroperasi sejak Februari 2023.
Integrasi fungsi jalan tol dan tanggul laut ini dinilai menjadi pendekatan baru dalam pembangunan infrastruktur pesisir, terutama untuk meningkatkan perlindungan kawasan sekaligus memperkuat konektivitas wilayah Pantura yang menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional. (*)















