Senin, November 9, 2026
Beranda Berita Properti Dari Pekarangan ke Ketahanan Pangan: Ketika Rumah Kembali Jadi Ruang Produksi

Dari Pekarangan ke Ketahanan Pangan: Ketika Rumah Kembali Jadi Ruang Produksi

0
60
Dari Pekarangan ke Ketahanan Pangan: Ketika Rumah Kembali Jadi Ruang Produksi
Program “Memperkasa Petani Wanita – Program Benih Cili untuk Keselamatan Makanan Masa Hadapan” yang diinisiasi Yayasan Perempuan Tani Sejahtera Indonesia (PTSI), dengan dukungan donasi masyarakat Malaysia melalui TheNoor, menjadi titik awal perubahan tersebut.

Karanganyar, propertyandthecity.com — Di tengah dominasi narasi urbanisasi dan tekanan ekonomi, sebuah inisiatif kecil di Desa Tohudan, Karanganyar, justru menunjukkan arah sebaliknya. Sebanyak 35 perempuan desa mulai membangun kemandirian pangan dari ruang paling sederhana: pekarangan rumah mereka sendiri.

Program “Memperkasa Petani Wanita – Program Benih Cili untuk Keselamatan Makanan Masa Hadapan” yang diinisiasi Yayasan Perempuan Tani Sejahtera Indonesia (PTSI), dengan dukungan donasi masyarakat Malaysia melalui TheNoor, menjadi titik awal perubahan tersebut.

Bantuan yang diberikan bukan sekadar simbolis. Para peserta mendapatkan bibit cabai, media tanam, hingga pupuk organik, disertai pelatihan budidaya yang aplikatif. Hasilnya, ruang yang sebelumnya pasif kini mulai berfungsi sebagai sumber pangan sekaligus potensi ekonomi rumah tangga.

“Ini sangat membantu ibu-ibu di sini. Mereka jadi punya kegiatan produktif dan bisa membantu kebutuhan dapur sendiri,” ujar Ketua RT setempat, Teguh Wijono.

Langkah ini terlihat sederhana, namun di baliknya tersimpan perubahan paradigma yang lebih besar: rumah tidak lagi hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi unit produksi.

Kemandirian Pangan Skala Rumah

Dalam konteks yang lebih luas, inisiatif seperti ini menyentuh isu yang semakin relevan—ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Ketika harga bahan pokok fluktuatif dan distribusi pangan sering terganggu, kemampuan memproduksi sendiri, meski dalam skala kecil, menjadi nilai strategis.

Tokoh masyarakat setempat, Agus, melihat program ini sebagai langkah awal yang berpotensi berkembang lebih jauh.

“Kalau ini terus berjalan, bukan tidak mungkin bisa meningkatkan ekonomi keluarga. Ini langkah awal yang sangat baik,” ujarnya.

Namun, di titik ini perlu dilihat secara lebih objektif. Skala program yang masih terbatas membuat dampaknya belum bisa dianggap sebagai solusi struktural terhadap persoalan pangan maupun ekonomi desa. Pertanyaannya bukan pada niat tetapi pada keberlanjutan dan skalabilitas.

Implikasi ke Properti: Pergeseran Fungsi Hunian

Dari perspektif properti, program ini membuka sudut pandang yang jarang dibahas. Selama ini, nilai rumah sering diukur dari lokasi, akses, dan harga pasar.

Namun di wilayah non-urban, ada dimensi lain yang mulai kembali relevan, yaitu kemampuan rumah sebagai ruang produktif, luas lahan yang bisa dimanfaatkan, dan kemandirian penghuni terhadap kebutuhan dasar.

Dalam konteks ini, rumah dengan pekarangan bukan sekadar aset pasif, tetapi bisa menjadi sumber nilai tambahan, baik secara ekonomi maupun ketahanan hidup.

Ini menjadi kontras dengan tren hunian urban yang semakin padat dan minim ruang terbuka, di mana fungsi rumah semakin terbatas pada konsumsi, bukan produksi. (*)

+ posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini