Jakarta, Propertyandthecity.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kabar baik terkait kondisi kemiskinan di Indonesia. Plt. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan bahwa rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap Garis Kemiskinan semakin kecil. Hal ini terungkap berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) periode September 2024.
“Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) yang mengukur rata-rata kesenjangan tersebut mengalami penurunan,” ujar Amalia di Jakarta, Rabu (15/1/2025).
Indeks Kedalaman Kemiskinan nasional pada September 2024 tercatat sebesar 1,364, turun dari 1,461 pada Maret 2024. Penurunan ini menunjukkan bahwa jarak antara pengeluaran penduduk miskin dengan Garis Kemiskinan semakin mengecil.
Amalia menjelaskan, “Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan di perkotaan lebih rendah daripada di pedesaan.”
Pada bulan September 2024, Indeks Kedalaman Kemiskinan di perkotaan sebesar 0,981, sementara di pedesaan mencapai 1,918.
Distribusi Pengeluaran Semakin Merata
Selain Indeks Kedalaman Kemiskinan, Susenas September 2024 juga menunjukkan peningkatan dalam Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) yang menggambarkan penyebaran di antara penduduk miskin.
Indeks Keparahan Kemiskinan nasional turun dari 0,347 pada Maret 2024 menjadi 0,322 pada September 2024. “Penurunan ini menunjukkan distribusi pengeluaran di antara penduduk miskin semakin merata,” jelas Amalia.
Seperti halnya Indeks Kedalaman Kemiskinan, Indeks Keparahan Kemiskinan di perkotaan (0,215) juga lebih rendah daripada di pedesaan (0,476).
Baca Juga: Hari Ini Bank Indonesia Pangkas BI Rate jadi 5,75%
Amalia menambahkan, “Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan pada September 2024 di perkotaan turun lebih cepat dibandingkan di pedesaan.”
Garis Kemiskinan Naik
Meskipun terjadi perbaikan dalam indeks kedalaman dan kemiskinan, Garis Kemiskinan nasional mengalami kenaikan sebesar 2,11 persen, dari Rp582.932 per kapita per bulan pada Maret 2024 menjadi Rp595.242 per kapita per bulan pada September 2024.
Garis Kemiskinan di perkotaan tercatat lebih tinggi (Rp615.763 per kapita per bulan) dibandingkan di pedesaan (Rp566.655 per kapita per bulan). (*)



















