Perusahaan-perusahaan besar dengan banyak unit bisnis sering mengalami kesulitan ketika harus menentukan prioritas investasi. Hal ini
disebabkan karena perusahaan memiliki keterbatasan sumber daya. Kesalahan dalam menentukan arah dan prioritas investasi bisa berakibat fatal dan membawa perusahaan ke dalam kesulitan. Karena itu, perusahaan perlu menetapkan strategi portfolio perusahaan.
Dengan menetapkan strategi portfolio, maka perusahaan dapat mengelola sumber daya secara lebih efektif dan efisien dan menentukan prioritas pengembangan bisnisnya. Dan pada akhirnya mempertahankan keunggulan daya saing secara berkelanjutan.
Ada beberapa alat untuk menetapkan strategi portofolio, antara lain Matrix Boston Consulting Group (BCG) yang memetakan unit bisnis berdasarkan penguasaan market share relatif dan pertumbuhan pangsa pasar. Hasil dari analisis tersebut akan menghasilkan pemetaan produk/ bisnis menjadi cash cow, dog, star atau tanda tanya. Dalam perjalanannya, Matrix BCG. banyak dikritik, karena hanya memperhitungkan aspek pasar saja dan kurang fleksibel dalam penggunaannya.
Alat strategi lainnya, yaitu Matrix GE McKinsey yang dikembangkan sekitar tahun 1970-an, merupakan penyempurnaan daripada Matrix BCG. Matrix GE melakukan analisis unit bisnis berdasarkan 2 kriteria, yaitu: Daya Tarik Industri / Pasar dan Kekuatan Unit Bisnis. Kedua kriteria tersebut digolongkan ke dalam skala rendah, sedang dan tinggi, sehingga menghasilkan 9 kotak.
Daya Tarik Industri / Pasar, merupakan aspek yang terkait dengan seberapa menariknya pasar atau industri dimana unit bisnis tersebut akan berkompetisi di dalamnya. Daya Tarik Industri meliputi beberapa hal, seperti: ukuran industri, pertumbuhan industri, profitabilitas pasar, tren
harga, Intensitas kompetisi, peluang untuk membedakan produk dan layanan, struktur distribusi, tahapan PLC, perubahan perilaku, dan lain-lain.
Kekuatan Unit Bisnis, adalah aspek yang menentukan seberapa kuat posisi perusahaan dalam menghadapi persaingan dengan kompetitor, dengan kata lain seberapa kuat keuntungan kompetisi dibanding pesaing. Kekuatan Unit Bisnis meliputi: total pangsa pasar, pertumbuhan
pangsa pasar dibandingkan dengan saingan, brand value, profitabilitas perusahaan, kesetiaan pelanggan, sumber daya atau kemampuan VRIO, kekuatan rantai nilai, tingkat diferensiasi produk, dll.
Setelah menetapkan posisi Daya Tarik Pasar dan Kekuatan Unit Bisnis, maka hasil daripada Analisis bisa dipetakan ke dalam matrix GE McKinsey Berikut:

Strategi Portfolio.
Hasil dari pemetaan unit bisnis berdasarkan analisis terhadap Daya Tarik Industri dan Kekuatan Unit Bisnis, dapat dikategorikan ke dalam strategi:
1. Kotak Investasi/Tumbuh
Perusahaan harus berinvestasi ke unit bisnis yang termasuk dalam kotak ini karena mereka menjanjikan pengembalian tertinggi di masa depan. Unit bisnis ini akan membutuhkan banyak uang tunai karena mereka akan beroperasi di industri yang berkembang dan harus mempertahankan
atau menumbuhkan pangsa pasar mereka. Sangat penting untuk menyediakan sumber daya sebanyak mungkin bagi Unit Bisnis sehingga tidak ada kendala bagi mereka untuk tumbuh. Investasi harus disediakan untuk R&D, periklanan, akuisisi dan untuk meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan di masa depan.
2. Kotak Selektif.
Perusahaan bisa berinvestasi ke unit bisnis ini hanya jika perusahaan memiliki sisa uang setelah alokasi investasi di grup unit bisnis investasi
dan jika Anda yakin bahwa unit bisnis akan menghasilkan uang di masa depan. Unit bisnis ini sering menjadi prioritas terakhir karena ada
banyak unsur ketidakpastian. Secara umum, perusahaan akan berinvestasi pada unit bisnis yang beroperasi di pasar yang relatif besar dan
tidak banyak pemain dominan di pasar tersebut, sehingga investasi akan membantu untuk dengan mudah memenangkan pangsa pasar yang lebih besar.
3. Kotak Panen/Divestasi.
Unit bisnis yang beroperasi di industri yang tidak menarik, tidak memiliki keunggulan kompetitif yang berkelanjutan atau tidak mampu
mencapainya dan berkinerja relatif buruk jatuh ke dalam kotak panen/divestasi. Pilihan strateginya adalah; pertama, jika unit bisnis menghasilkan kas surplus, perusahaan boleh berinvestasi ke unit bisnis ini hanya cukup untuk membuat mereka tetap beroperasi dan mengumpulkan semua uang tunai yang dihasilkan olehnya. Dengan kata lain, layak untuk berinvestasi ke bisnis semacam itu selama investasi ke dalamnya tidak melebihi uang tunai yang dihasilkan darinya. Kedua, unit usaha yang hanya merugi harus didivestasikan. Jika itu tidak mungkin dan tidak ada cara untuk mengubah kerugian menjadi keuntungan, perusahaan harus melikuidasi unit bisnis.
Bagaimana menerapkan strategi portfolio untuk perusahaan developer yang memiliki banyak unit usaha/proyek? Bagaimana bila unit usaha
tersebut ternyata berada dalam kotak divestasi? Apakah kemudian proyek tersebut harus dilikuidasi? Penulis akan membahas strategi
portfolio perusahaan developer dalam edisi berikutnya.•






















