THE BLACK DOT , “Fokus bukan pada masalahnya, tapi pada solusinya.”

0
197
the black dot

Di sebuah universitas, seorang profesor memasuki ruang kelas dan
mengumumkan akan dilakukan ujian mendadak. Para mahasiswa
mulai riuh karena mereka tidak ada persiapan sama sekali. Profesor
pun mulai berkeliling membagikan kertas ujian dengan posisi terbalik.

baca juga : Kisah Seorang SPG

Para mahasiswa pun mulai membalikkan kertas ujiannya dan hanya
menemukan gambar titik hitam di tengah-tengah kertas putih
tersebut. Sontak mereka bertanya kepada profesor. Profesor hanya
meminta mahasiswa untuk menjelaskan apa yang dilihatnya. Aneh
bukan. . .

Setelah semua selesai mengerjakan ujiannya, profesor tersebut
membacakan dengan keras setiap jawaban atas ujian tersebut.
Sampai semua dibacakan ternyata semua mahasiswa menjelaskan
titik hitam, ada yang fokus pada bentuknya, posisinya, ada juga yang
mempermasalahkan ukurannya. Tidak ada yang menggambarkan
mengenai kertas yang putih.

Nah, hal ini yang sering terjadi ketika kita dihadapkan pada sebuah
masalah. Kita fokus terhadap masalah (titik hitam) namun tidak
mencoba untuk mencari solusi yang sebenarnya sangat banyak (kertas
putih).

Sebuah perusahaan pengembang kerap mempermasalahkan produk
yang diluncurkannya. Mereka kebingungan mengapa produknya tidak
laris di pasar. Yang dilihatnya hanyalah titik hitam di tengah kertas.
Disadari atau tidak, para pengembang ini sering melihat mereka
sebagai penentu pasar, dimana penentu pasar sebenarnya adalah
pasar itu sendiri. Pasar konsumen yang memutuskan mereka akan
membeli atau tidak.

Para pengembang sering melupakan proses pembentukan sebuah
produk yang harusnya melewati proses analisis pasar terhadap celah
pasar yang mungkin masih ada di sana. Klasik memang, namun proses
ini perlu dilakukan dalam sebuah persaingan yang ketat dan kondisi
pasar tidak menentu. Konsultan properti harus menjadi partner untuk
dapat melihat pasar secara obyektif dan tidak semata-mata mengikuti
kemauan di pengembang. Pada kondisi ini, pengembang harus bisa
mengalah untuk dapat mengikuti kemauan pasar. ● (Ali tranghanda)