Home Property Mind Games

[Wéijī]

75
0
Wéijī

“Krisis memberikan kesempatan bagi yang bisa mengelola bahayanya”

DR Mochtar Riady, seorang tokoh senior properti pernah mengatakan “Dalam tulisan Chinese, kata krisis terdiri dari dua kata yaitu Bahaya dan Kesempatan.”

Baca juga, Dirjen Perumahan: Saya Bukan Superman, Siap Bentuk Super Team Perumahan

Seperti kita ketahui dalam bahasa Mandarin kata “krisis” dituliskan sebagai 危机[Wéijī]. Kata ini terdiri dari dua kata, yakni 危 [Wéi] dan 机[jī]. 危[Wéi] artinya: bahaya (dangerous), dan 机 [jī] artinya: kesempatan (chance, opportunity). Namun ketika kedua kata itu digabungkan menjadi kata yang berarti “krisis”. Dalam setiap huruf Mandarin sangat kental filosofinya.

Tonton Property Unboxing :

Unboxing BSD City Makin Pesat Dari Kaum Kolonial Sampai Milenial Ada Disini | Talk Show

Unboxing Blizfield BSD City | Ada Ruang Rahasia di Blizfield @ BSD City

Kita telah melihat bagaimana ekonomi naik turun. Ekonomi sebuah negara sering turun dan naik, krisis sering terulang,
lucunya terjadi di tahun-tahun dengan angka yang bagus menurut sebagia orang, yaitu tahun 1998, 2008, 2018. Hal ini juga terjadi dalam pasar real estate. Biasanya pada masa krisis, perputaran ekonomi menjadi melambat. Banyak orang terkena dampaknya semisal bisnisnya tidak jalan, jadi terpaksa harus menjual asetnya yang mengakibatkan harga properti menjadi jatuh. Sebaliknya ketika ekonomi bertumbuh, banyak yang membeli properti dan mengakibatkan harga beranjak naik

Diawal tahun 2020, pandemi Covid-19 melanda. Dari krisis kesehatan dunia, pandemi ini dapat berimbas menjadi krisis
ekonomi. Orang-orang tidak dapat bergerak secara leluasa yang akan menyebabkan perputaran ekonomi tersendat sehingga mengakibat harga-harga properti juga terkoreksi sesaat. Kalau kita belajar dari pandemi besar dunia yang lalu yaitu Spanish Flu 100 yaitu di tahun 1918 dan berakhir 1920, kita semua berharap Covid-19 juga akan segera berakhir. Namun dalam krisis yang terjadi saat ini, ternyata ada sebagian bisnis yang malah memeroleh kesempatan, antara lain para pelaku usaha alat kesehatan, obatobatan, sampai sektor digital/IT.

Satu prinsip untuk dapat berinvestasi baik di dalam real estate adalah membeli sewaktu harga rendah dan menjual sewaktu harga tinggi. Lahan pun semakin terbatas, dunia tidak bisa lebih besar lagi dan terus terdorong oleh populasi dunia yang akan mengakibatkan harganya selalu naik meskipun siklus turun naik tetap terjadi. Kita hanya bisa memperkirakan, namun tidak bisa tahu kapan persisnya titik terendah akan tercapai atau kapan hampir terjadinya titik tertinggi (inflection point). Di dalam krisis seperti ini, sebagai pengembang pun dihadapkan dengan tantangan dan terus memutar akal untuk dapat tetap bertahan melalui kondisi ini, bahkan terkadang kesempatan datang lebih banyak dalam
kondisi normal. Sedikit berbeda dengan investor yang harusnya diuntungkan juga dalam kondisi krisis asalkan daya beli masih ada. Nah, semua tergantung bagaimana cara kita melihatnya.

( Jopy Rusli,Chief Marketing Officer PT Lippo Karawaci Tbk)

Previous articleDirjen Perumahan: Saya Bukan Superman, Siap Bentuk Super Team Perumahan
Next articleWavin Sukses Dorong Pembangunan Lingkungan Sehat dan Berkelanjutan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here