Memasuki tahun 2026, tren dunia desain terkait industri konstruksi dan properti diprediksi makin mengedepankan pendekatan yang lebih berkelanjutan. Meningkatnya kesadaran akan penipisan sumber daya, perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi, peningkatan polusi dan pencemaran, menantang industri konstruksi dan properti, termasuk dari sisi desain untuk dapat mengadopsi praktik yang lebih berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Baca juga, Viridi Indonesia: The New Wood Dan Arah Baru Material Bangunan
Industri konstruksi sendiri merupakan salah satu konsumen energi dan bahan baku terbesar di dunia. Menurut data dari Green Building Council Indonesia (GBCI), bangunan mengkonsumsi 35% dari energi dunia dan 12% dari air dunia, serta menghasilkan 25% sampah dan 40% emisi gas rumah kaca. Menerapkan pendekatan ekonomi sirkular dalam bangunan, termasuk industri konstruksi dan properti akan memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Diperkirakan untuk tahun 2026, tema dunia desain akan terkait upaya pencapaian stabilitas dan pendekatan kepada alam. Setelah banyaknya perubahan yang terjadi secara global, manusia mendambakan pemulihan dan kehidupan berkelanjutan (sustainable living). Tema ini diprediksi dapat menjadi acuan terciptanya 2 tren warna utama untuk tahun mendatang, yaitu nuansa alam yang mendalam serta rona yang netral dan sederhana. Pantone, sebagai acuan utama, biasanya akan mengumumkan warna pilihannya pada awal Desember. Para desainer merasa mereka tahu arah yang dituju Pantone untuk pengumuman Warna Tahun 2026 berdasarkan tren umum yang condong ke warna-warna hangat, netral yang membumi, dan hijau yang elegan. Ini merupakan kelanjutan dan evolusi dari warna-warna hangat dan natural yang mendominasi tahun 2025. Tren utama diperkirakan berkisar pada nuansa hijau yang sangat terinspirasi oleh alam.
WGSN sebagai adalah suatu perusahaan yang memprediksi tren global dengan menyediakan jasa intelijen pasar, analisis tren, dan wawasan kreatif dan bisnis memilih warna Transformative Teal untuk tahun 2026, menggambarkannya sebagai perpaduan indah antara biru dan hijau akuatik, sebagai warna untuk periode perubahan dan peralihan. WGSN memproyeksikan tahun 2026 sebagai tahun pengalihan, yang dapat membantu mendorong ketahanan dalam menghadapi tantangan iklim yang kompleks. Hal ini ditandai dengan meningkatnya tuntutan konsumen akan tanggung jawab ekologis yang lebih besar. Pergeseran ini tidak hanya akan memengaruhi perilaku konsumen, dengan fokus yang semakin besar pada masa depan, tetapi juga dalam proses dan aspek produksi, untuk merespons kebutuhan dan keinginan konsumen di masa depan.
Dengan makin meningkatnya kesadaran lingkungan baik dari sisi perancang, pemasok, produsen dan juga konsumen, pemilihan material dalam desain dan konstruksi kini makin mengedepankan pada aspek alami dan ramah lingkungan (the sustainable choice) dengan mengusung pendekatan inovatif, fungsional dan kemudahan pemeliharaan.
Ragam pilihan material-material ramah lingkungan yang sebagian juga melibatkan proses daur ulang dalam produksinya terus bertumbuh dan bergerak dinamis, sehingga dapat dikatakan bahwa tren penggunaan material daur ulang akan terus meningkat dan berkembang. Material daur ulang kini bukan hanya sebagai alternatif, melainkan sebuah tren dunia. Kesadaran global terhadap limbah, polusi dan perubahan iklim memengaruhi industri konstruksi terus melakukan inovasi dalam menghasilkan material baru dengan menggunakan material limbah dari plastik, kaca, kayu, hingga serat. Material-material bekas, sisa dan limbah produksi diolah kembali hingga menjadi produk baru yang bernilai tambah atau ekonomi.
Banyak produk ramah lingkungan dan daur ulang memiliki ketahanan yang baik, bobot yang lebih ringan, serta dengan sistem pemasangan dan perawatan yang mudah ditambah harga yang cenderung lebih rendah dibandingkan material konvensional. Material-material ini pun memiliki bentuk, warna, tekstur yang menarik mengikuti perkembangan serta selera konsumen.
Beberapa contoh produk berbahan dasar material daur ulang, antara lain dapat ditemukan pada desain berbagai jenis furnitur, seperti kursi, meja, rak, peralatan makan dan elemen-elemen dekoratif ruang dan interior, misalnya tatakan gelas, tempat tisu, tempat sabun, vas bunga, lampu hias, jam dinding dan lainnya. Selain itu, ragam produk lainnya juga dapat berupa panel dekoratif dinding seperti wall panel atau panel akustik, maupun kaca dekorasi, seperti terrazzo glass & translucent panel. Untuk elemen eksterior, material daur ulang juga kerap kali dipakai pada produksi paving block atau conblok dan panel decking.
Penggunaan material-material komposit dan modular juga makin diminati, terkait jejak karbon yang rendah serta efisiensi proses produksi dan konstruksinya.
Beberapa manfaat yang bisa dicapai dengan penggunaan material-material ramah lingkungan, modular dan daur ulang adalah sebagai berikut:
- Mengurangi limbah dan polusi TPA dengan memanfaatkan kembali material yang seharusnya dibuang.
- Menurunkan konsumsi energi dalam manufaktur karena proses daur ulang membutuhkan lebih sedikit energi daripada memproduksi material baru (misalnya, aluminium daur ulang menggunakan energi hingga 95% lebih sedikit daripada aluminium baru).
- Mendukung sertifikasi bangunan hijau seperti Greenship dengan kontribusi terukur pada tujuan pembangunan keberlanjutan.
- Mendorong industri sumber daya lokal dan rantai pasokan yang lebih pendek, sehingga mengurangi emisi karbon dan transportasi.
- Menyediakan material tahan lama yang menurunkan biaya perawatan dan penggantian jangka panjang.
- Meningkatkan aplikasi struktural dan penahan beban, dibuktikan dengan keberhasilan penggunaannya dalam jangka Panjang.
Menyongsong tahun 2026 dan selanjutnya, sudah sepatutnya para pelaku di industri desain, properti dan konstruksi memberikan perhatian lebih dalam mendorong penggunaan material-material daur ulang, sehingga dapat berkontribusi secara signifikan dalam mendukung praktek pembangunan berkelanjutan dan ekonomi sirkular. Hal ini termasuk praktek penggunaan ulang, proses daur ulang, hingga mengkombinasikan material yang berasal dari limbah dalam pekerjaan konstruksi baru, sehingga mampu mengurangi permintaan akan sumber daya baru dan meminimalkan dampak lingkungan. Tanpa mengesampingkan kecenderungan dalam penggunaan material alami seperti batu alam, kayu, rotan, bambu dan lainnya, namun eksplorasi akan kombinasi dan upaya-upaya menggunakan material alternatif yang lebih ramah lingkungan pun perlu didukung dengan pendekatan kreatif, inovatif dan kolaboratif dalam proses desain maupun konstruksi. l
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin
- admin





















