Beranda Berita Properti Strategi Erick Thohir Atasi Masalah Utang BUMN Karya ke Subkontraktor

Strategi Erick Thohir Atasi Masalah Utang BUMN Karya ke Subkontraktor

48
0
Strategi Erick Thohir Atasi Masalah Utang BUMN Karya ke Subkontraktor (Foto: Erick Thohir, Dok: Bagaskara Lazuardi)
Strategi Erick Thohir Atasi Masalah Utang BUMN Karya ke Subkontraktor (Foto: Erick Thohir, Dok: Bagaskara Lazuardi)

Property and The City, Jakarta –  Dalam upaya memperbaiki kinerja BUMN di sektor konstruksi, Menteri BUMN Erick Thohir berkomitmen menghadirkan solusi inovatif yang diharapkan dapat mengatasi berbagai permasalahan bisnis. Salah satu fokus utamanya adalah menyelesaikan utang-utang BUMN Karya kepada subkontraktor, yang kerap menjadi batu sandungan dalam proyek-proyek besar yang mereka garap.

Erick Thohir menyebut, dalam pelaksanaan proyek-proyek yang digarap oleh BUMN, sering kali terdapat kendala yang tidak sesuai dengan perencanaan, seperti utang dari BUMN Karya, termasuk Waskita Karya, kepada subkontraktor.

“Nah, tetapi kalau untuk masing-masing proyek itu ada hal yang baik dan tidak baik, tentu kita mesti lihat, dan tentu yang paling tahu tentu dari Waskita sendiri. Tapi paling enggak solusi strateginya sudah jalan, dan itu yang kita pastikan pendanaan tidak langsung ke korporasi, tapi ke proyek saya sudah berulang-ulang waktu itu sampaikan,” ujar Erick di Sarinah, dikutip Senin (08/07/2024).

Erick menduga tidak ada penyelewengan yang dilakukan oleh manajemen saat ini, mengingat Waskita dan beberapa BUMN Karya lainnya sedang menjalani restrukturisasi atau penyehatan.

“Tetapi tentu kalau ada kasus penyelewangan lagi, ya kita pastikan (penindakannya), tapi saya rasa tidak lah,” ucapnya.

Erick menegaskan bahwa solusi sudah disiapkan guna menyelesaikan persoalan tersebut. Selain itu, ada perbaikan dalam pendanaan proyek yang bersumber dari pemerintah maupun sumber pendanaan lainnya. Dia menjelaskan bahwa solusi-solusi tersebut didorong untuk semua BUMN Karya, tidak hanya untuk Waskita dan Wika, dengan memastikan bahwa seluruh pendanaan baru, baik dari pemerintah maupun perbankan, masuk ke proyek yang sedang berjalan.

Soal kemampuan bayar utang vendor atau subkontraktor, Erick mengembalikan ke masing-masing BUMN karya. Lantaran, kebijakan pembayarannya akan tergantung pada kemampuan finansial masing-masing BUMN.

Cashflow-nya tergantung masing-masing Karya saya tidak tahu secara detail. Mungkin ditanyakan kepada Direksi dan Komisaris. Itu kan fungsinya Direksi-Komisaris mesti lebih detail dari saya,” urainya.

Proses Merger 7 BUMN Karya

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menjelaskan maksud di balik proses peleburan tujuh BUMN Karya yang ditargetkan selesai pada September 2024.

Adapun BUMN Karya yang akan merger antara lain PT Hutama Karya (Persero) dengan PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT PP (Persero) Tbk (PTPP) dengan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, serta PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Nindya Karya (Persero).

Dalam hal ini, Arya mengambil contoh merger antara PT Waskita Karya (Persero) Tbk dan PT Hutama Karya (Persero), yang ia sebut keduanya memiliki spesialisasi pekerjaan yang sama di bidang infrastruktur jalan dan jalan tol. Harapannya, konsolidasi Waskita Karya dan Hutama Karya membuat mereka tidak lagi saling berebut proyek, sehingga keduanya tidak saling bersaing dalam memperebutkan lelang atau tender di proyek yang sama.

“Jadi antar BUMN itu enggak akan tanding tender-tender lagi, enggak banting-bantingan harga lagi. Selama ini kan setiap proyek antar BUMN aja, swasta enggak ada,” ujar Arya.

Mencegah Terulangnya Masalah

Menteri BUMN Erick Thohir juga menjelaskan maksud proses konsolidasi BUMN Karya melalui merger yang sedang dilakukan. Ia menegaskan bahwa tujuan dari langkah ini adalah untuk mencegah terulangnya kasus seperti yang dialami PT Istaka Karya (Persero) yang terlilit utang kepada vendor.

“Kita mau carikan solusi. Jadi kita tidak mau cuci tangan, tapi kita akan cari solusi yang terbaik. Walaupun ini peristiwa 2006 seperti Jiwasraya, 2007 Istaka Karya, tapi kita coba selesaikan. Termasuk bagaimana kita konsolidasi (BUMN) Karya yang sejak awal saya sudah berulang-ulang kita coba konsolidasi,” ujar Erick Thohir beberapa waktu lalu.

Erick mengatakan bahwa merger BUMN Karya membutuhkan waktu setidaknya tiga tahun dan akan masuk dalam roadmap BUMN 2024-2034.

“Bagaimana nanti Hutama Karya dengan Waskita, PP dengan WIKA, dan ini ada prosesnya semua. Dan saya sudah bilang perlu waktu 3 tahunan,” tutur Erick Thohir.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini