Strategi Broker Jualan Properti di Masa Covid-19

“Kondisi sekarang di rumah saja, kami tetap bisa bekerja. Semuanya beralih ke teknologi. Tetap bisa branding, tetap bisa jualan tapi soft selling. Yang penting adalah tetap membangun komunikasi, follow up database kami. Juga kolaborasi dengan jaringan dan bangun aliansi dengan agen-agen lain,” Yohan.

1
403
strategi broker jualan properti
Ilustrasi - Transaksi properti./ Foto: instagram Yohan Yan

Propertyandthecity.com, Jakarta Virus Corona atau Covid-19 telah melanda Indonesia lebih dari sebulan. Banyak pengembang telah mengeluhkan penurunan penjualan produk propertinya. Sementara para broker atau agen properti yang juga harus merevisi targetnya. Lantas, bagaimana strategi broker jualan properti di masa pandemi ini?

Ketua Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) DPC Bekasi, Yohan Yan yang juga juga Principal Century 21 Metro Group mengungkapkan, semua segmen properti pasti akan berdampak, namun untuk Maret memang belum terasa karena ada akumulasi sejak Januari lalu.

Baca: Century 21: Transaksi Turun di Semua Wilayah

“Dampak sesungguhnya baru terasa mulai bulan April, Mei dan Juni. Apalagi basic kami di secondary,” ujar Yohan ketika dihubungi, awal bulan ini.

Kondisi saat ini, lanjut Yohan, banyak konsumen yang akhirnya pending, terutama yang memilih transaksi dengan skema KPR bank. Ditambah lagi, kantor BPN dan kantor pajak juga tutup. Kecuali cash masih tetap ada transaksi.

“Beberapa transaksi khususnya melalui skema KPR yang di-hold. Mungkin bisnis atau pekerjaan mereka kena dampak. Padahal SPK-nya sudah keluar, tinggal akad tapi mereka hold dulu,” sambungnya.

Dia pun mengakui, jika transaksi di Century 21 Metro Group juga sudah mulai terasa adanya perlambatan. Apalagi sekitar 70-80 persen calon konsumen menggunakan skema kredit bank (KPR/KPA). “Biasanya setiap hari ada transaksi, ada closing. Tapi saat ini per minggu. Seperti minggu kemarin ada 4 closing, dimana 2 jual dan 2 lainnya sewa,” katanya.

Meski demikian ada pula beberapa konsumen yang tetap mencari hunian baik untuk tinggal, termasuk untuk investasi. Menurut Yohan, sektor-sektor tertentu justru bisnisnya mendapatkan benefit di Covid-19 ini. Seperti alat kesehatan, bahkan mungkin juga garmen.

Baca: Agar Pemasaran Properti Sukses di Tengah Covid-19, Lakukan Ini!

“Jadi sebenarnya duit mereka ada. Cuma bagaimana kita sebagai agen mampu mengajak mereka untuk berani beli saat ini. Bahwa selepas Covid-19 ini kan pastinya harga akan naik, sehingga sekarang adalah waktu yang tepat untuk beli properti,” ungkap Yohan.

Produk properti dengan konsep dan segmen yang tepat, cara bayar yang tepat, termasuk beberapa gimik dan program yang menarik tentu akan membuat konsumen tertarik membeli. “Ini tentu ada dan pas di primary,” imbuhnya.

Sementara untuk secondary pada segmen menengah bawah, termasuk FLPP, sambung Yohan, masih berlangsung proses akad di beberapa bank. Meski demikian, bank kini lebih selektif terhadap calon konsumen, terutama pekerja swasta.

Menghadapi tantangan ke depan ini, terutama di tengah masa pandemi Corona, Century 21 Metro Group menerapkan strategi work smart.

Baca: CIMB Niaga: Hadapi Covid-19, Strategi Harus Diperbaharui

“Kondisi sekarang di rumah saja, kami tetap bisa bekerja. Semuanya beralih ke teknologi. Tetap bisa branding, tetap bisa jualan tapi soft selling. Yang penting adalah tetap membangun komunikasi, follow up database kami. Juga kolaborasi dengan jaringan dan bangun aliansi dengan agen-agen lain,” terang Yohan.