Beranda Travel and City Skiing Eiger!

Skiing Eiger!

0

SKIING EIGER!

Sebelum winter berakhir, meluncur dengan papan ski di kaki Mount Eiger adalah sebuah keharusan.

Keriuhan dan kerepotan orang-orang tampak sekali di stasiun kereta api Kleine Scheidegg. Hampir setiap orang memanggul papan ski di pundak kirinya, dengan tangan kanan memegang tongkat ski. Sebagian juga sekaligus menenteng sepatu ski yang berat sehingga mereka tampak repot. Sebagian lagi sudah langsung memakai sepatunya, sehingga cara berjalannya seperti robot dan menimbulkan bunyi “jduk, jduk” setiap kali melangkah.

Sepatu ski itu memang kaku, dan juga berat. Mungkin beratnya sekitar 2 kilo. Makanya saya memilih alternatif pertama, menenteng dulu sepasang sepatu ski itu, yang sudah dimasukkan ke dalam tas cangklong. Dan terus terang itu tadi, repot! Sebab saya juga memakai baju dan celana musim dingin yang berlapis-lapis, dan memakai helm. Orang-orang lain masih memakai goggles –kacamata ski– dan menyandang backpack juga. Saya, demi mengurangi kerepotan, terpaksa menaruh tas berisi kamera SLR beserta lensa-lensanya di tempat penyewaan alat ski ini, dan cuma membawa satu kamera poket saja. Saya hanya bisa berharap, mudah-mudahan baterenya tidak segera habis, dan hasil fotonya tidak mengecewakan.
Pagi ini, saya dan enam teman lain dari media di Jakarta, memang hendak berlatih bermain ski di Kleine Scheidegg ini, dalam rangkaian kunjungan ke Jungfrau Region, Swiss. Seorang teman media dari Bangkok, Mr. Panu, dan satu lagi dari Bombay, Mr. Sandeep, juga akan ikut berlatih. Kami sendiri menginap di Interlaken, dan pagi-pagi tadi naik kereta ke Grindelwald-Grund dulu untuk menyewa peralatan main ski di toko Intersport. Kami ditemani host kami selama di sini, Pennie, dan dua instruktur ski dari Interlaken Tourism, Sandra dan Arlette. Di stasiun Kleine Scheidegg ini kami bertemu dengan satu instruktur lagi, Martin, dari Jungfrau Railway.

Meski rempong dan ngos-ngosan karena badan saya yang mungil ini membawa banyak bawaan berat, namun melihat cuaca cerah dan langit yang biru sempurna serta orang-orang yang sepertinya buru-buru saja untuk segera meluncur, membuat saya tak sabar untuk segera mulai.

Martin membawa kami menyeberangi rel kereta, menuju arena bermain ski. Sebuah gapura bertuliskan Beginners Park yang dilengkapi tongkat rambu-rambu berwarna biru menunjukkan bahwa arena ski ini untuk pemula. Sedangkan arena ski untuk yang sudah mahir membelok ke kiri dan ditandai dengan rambu-rambu warna merah. Dari kontur arena skinya saja sudah kelihatan. Yang untuk pemula menurunnya landai, sedangkan untuk yang mahir menurunnya langsung tajam. Tapi banyak juga yang sepertinya sudah mahir namun mengambil jalur untuk pemula. Kami yang sedang berjalan mesti hati-hati karena mereka meluncur cepat dari belakang kami dengan suara papan ski yang menggesek salju seperti suara es sedang diserut. Dari lembah, nanti mereka akan naik lagi dengan gondola-gondola khusus untuk pemain ski, yang tadi kami lihat sewaktu masih di kereta.

Kami sampai di lapangan salju yang miring landai, dengan terowongan travalator di belakang kami dan, wohoo… Gunung Eiger menjulang di depan kami! Memang, Kleine Scheidegg berada di ketinggian 2.061 mdpl dan dekat dengan Gunung Eiger (3.970 mdpl). Tapi saya tidak mengira kami akan berlatih ski di sisi Utara Eiger yang nyaris vertikal, yang sudah menelan jiwa banyak pendaki yang mencoba menaklukkannya.

Pelajaran pertama adalah pemanasan lebih dulu, dengan latihan peregangan. Meski, peregangan selama 10 menit ini rasanya masih kurang, dan saya mulai cemas ketika melangkah ke tahap berikutnya: memakai sepatu ski. Memakai kaus kaki dua lapis dan sepatu gunung saja kaki mulai dingin, bagaimana kalau memakai sepatu ski yang ketat dan berat? Saya khawatir kaki saya malah kram. Untuk memakai sepatu ini, saya harus dibantu Sandra dan Arlette. Arlette yang berbadan tinggi besar menarik pengait besi pada ‘lidah’ sepatu, sementara Sandra menuntun kaki saya agar bisa masuk ke sepatu. Lubang sepatunya sempit dan tinggi seperti sepatu boots jadi tungkai kaki saya mesti lurus dengan betis supaya bisa masuk ke dalamnya.

Tahap berikutnya adalah melatih keluwesan kaki setelah bersepatu. Caranya, dengan menekuk paha dan bertumpu pada lutut, tanpa menggerakkan kaki bagian bawah. Ini maksudnya supaya kalau kita jatuh saat bermain ski, kita bisa mengangkat tubuh bagian atas dengan bertumpu pada kekuatan lutut, tanpa harus meminta bantuan pada tungkai atau telapak kaki. Sebab saat memakai sepatu ski ini, bagian lutut dan tungkai benar-benar terperangkap di dalam sepatu ski yang kaku. Untuk melatih kekuatan lutut, kami juga berlatih meloncat dari tempat kami berdiri, persis seperti foto-foto leloncatan teman-teman traveller yang sering saya lihat di Facebook. Tentu saja, saya hanya bisa meloncat beberapa senti, karena memang sepatunya berat! Namun yang saya rasakan kemudian, kaki jadi terasa hangat dan nyaman, dan kekhawatiran akan kram pun lama-lama menghilang.

khusus pada masing-masing papan ski. Dudukan itu sudah disetel oleh staf toko penyewaan alat ski tadi di Grund, agar pas dengan ukuran sepatu. Begitu kita injak dudukan itu, ‘klek’, sistem penguncinya akan bekerja. Untuk membukanya lagi, nah ini dia, perlu tangan yang cukup panjang agar bisa menjangkau ujung sepatu dengan tungkai kaki tetap lurus. Membuka kuncian di sepatu berikutnya lebih mudah, dengan cara menginjaknya memakai sepatu yang sudah terlepas dari papan ski. Tapi ini juga mesti dengan dua tangan bertumpu pada tongkat ski (stock) agar badan tidak roboh karena hilang keseimbangan.

Martin lalu menyuruh kami semua untuk berdiri berjajar, kedua papan ski diluruskan. Ini menjadi tantangan lagi. Berpindah tempat dengan kaki terikat di papan ski juga tidak semudah yang diduga. Kalau kaki diarahkan ke permukaan salju yang menurun, papan ski akan meluncur dan kami belum tahu cara menghentikannya. Kalau diarahkan ke tempat mendatar atau menaik, papan ski tidak akan bergerak. Kaki juga tidak bisa melangkah seperti biasa karena papan ski yang panjangnya sekitar 1.5 meter itu hanya memungkinkan kaki untuk menggeser maju-mundur. Dan caranya ternyata… dengan mengangkat papan ski ke samping. Kaki yang diangkat itu agak membentuk sudut ke dalam kira-kira 10 derajat. Lalu kaki berikutnya diangkat dengan cara yang sama. Begitu terus hingga kami bisa berpindah ke tempat yang diinginkan. Kami lalu mengarahkan papan ski lurus membentuk sudut 90 derajat dengan permukaan salju yang menurun, agar papan ski tetap di tempatnya dan tidak meluncur.

Ternyata, dengan latihan awal ini saja, kami sampai ngos-ngosan dan berkeringat. Tak lain karena kami mesti mengerahkan tenaga pada tongkat ski agar tetap bisa bertumpu pada papan ski, tidak roboh. Ditambah lagi, kadar oksigen yang menipis di ketinggian ini, membuat kami sekarang haus sekali meski suhu di tempat ini sekitar -3 derajat Celsius. Arlette segera pergi ke restoran terdekat dan kembali dengan membawa banyak air mineral. Kalau tidak, mungkin terpaksa saya makan salju  yang ada di bawah kaki, hahaha…

Martin meminta Sandra untuk mencontohkan cara meluncur, lalu menjathkan diri untuk menghentikan laju papan ski. “Cara jatuhnya yang lembut ya, seperti wanita,” tutur Martin. Ia tidak bergurau. Sandra mencontohkan cara jatuhnya. Begitu ia mengayuh tongkat ski, papan ski pun meluncur, lalu beberapa meter kemudian ia merendahkan badannya ke sisi kiri, sehingga jatuh dengan mulus dengan bokong kiri, dan posisi kedua kaki agak menekuk di depan tubuh.

Kini giliran kami satu-satu mencobanya, dengan Sandra menunggu di tempat yang lebih rendah, bersiap menangkap kalau-kalau kami meluncur terlalu cepat dan tidak bisa berhenti. Saat giliran saya, Martin membantu saya berdiri dengan stabil dengan menahan papan ski saya dengan sepatunya. Ia meminta saya agak menekuk lutut, kedua tongkat ski menekan salju di kedua sisi badan.

“Ready?” tanyanya. Saya mengangguk. Ia pun menyingkirkan kakinya, dan saya pun mengayuh tongkat ski. Whuzzz…! Cukup dengan sekali kayuh saja, papan ski sudah meluncur. Posisi badan agak dicondongkan ke depan, dengan kaki agak menekuk. Kedua tongkat ski saya pegang, menggantung beberapa senti di atas permukaan salju. Begitu sudah mendekati Sandra, saya pun merendahkan badan ke kiri, lalu berusaha jatuh dengan gaya sefeminin mungkin.

Brukkk!

Alhamdulillah, saya bisa jatuh dengan mulus, dan kini badan rebah di salju dengan posisi miring. Aduh, ternyata enak juga ya tiduran di salju. Apalagi memandang Eiger yang berdiri tegar di atas sana, berhias langit biru. Dingin, tapi tak terasa beku karena memakai pakaian khusus main ski.
“Wow, cara jatuh kamu sudah bagus,” Sandra memuji.    
“Sekarang, coba bangun sendiri, bisa nggak?” Nah, masalah yang sesungguhnya baru datang. Ternyata, bangun sendiri setelah jatuh itu yang paling susah di latihan ini. Sebabnya, kita tidak bisa lagi menggunakan kedua kaki –yang sudah ‘terpasung’ di papan ski– sebagai tumpuan untuk mengangkat badan. Jadi badan sepenuhnya harus diangkat dengan kekuatan tangan, dengan bertumpu pada tongkat ski. Selain kekuatan tangan, keluwesan juga sepertinya diperlukan agar bisa membantu mengangkat badan. Saya, yang tak biasa berolahraga, dengan sia-sia mencoba mengangkat badan saya sendiri, sampai keringatan. Akhirnya, Sandra dan Pennie mengandeng lengan saya dari kedua sisi, lalu mengangkatnya.“Are you ok?” tanya Pennie. Hahaha!

Yang saya perhatikan, memang masalah bangun dari jatuh ini yang paling susah. Apalagi kalau punya badan yang besar. Saya lihat Mr. Panu sampai bercucuran keringat dan gemetaran saat mencoba mengangkat badannya. Dan akhirnya ia tetap mesti dibantu Martin, yang badannya lebih besar dan lebih tinggi. Hahaha!

   

 

   

 

Karena yang dilatih banyak orang, saya jadi punya waktu untuk beristirahat sambil berfoto-foto. Cuaca menjelang siang ini masih secerah seperti pagi. Matahari bersinar terang tapi tidak panas, dan langit yang tadi biru kini masih biru namun sudah berhias garis-garis putih bekas lintasan-lintasan pesawat terbang. Puncak Eiger yang mengerucut sepertinya sudah tak jauh lagi kalau didaki, meski sebenarnya masih dua kilometer lagi ke atas, dan vertikal!

Di depan tempat kami latihan, para pemakin ski yang sudah mahir meluncur dengan cepat menuju lembah. Sepasang remaja Asia malah melintas dengan sledge, kereta luncur salju. Pastinya mereka sudah ahli bermain alat itu, karena mereka kini hendak meluncur ke bagian lembah yang agak curam. Sementara, seorang wanita tua malah datang dari lembah bersama dua anjingnya. Sepertinya ia sedang dog-walking, karena ia tidak memakai sepatu dan papan ski, melainkan cuma tongkatnya. Di belakang tempat kami, dibatasi oleh travalator, ibu-ibu yang masih muda mengajari anak-anak balita mereka. Jelas sekali, anak-anak itu sudah jauh lebih mahir main ski dibanding saya. Begitu sudah meluncur agak ke bawah, mereka naik lagi dengan memakai travalator, begitu berulang-ulang.

Hari sudah jam 1 siang, dan kami akan makan siang dulu di restoran Bahnhof di stasiun. Dengan sepatu ski yang berat, saya berjalan tertatih-tatih dan ngos-ngosan karena kini mesti berjalan menanjak menuju stasiun. Namun saya masih sempat melongo ketika berpapasan dengan seorang peselancar yang meluncur cepat di atas papan skinya, tanpa membawa tongkat ski, sambil asyik menelepon!

Setelah makan siang, kami boleh memilih aktivitas bebas. Yang masih terus berlatih ski kini tinggal dua, Panu dan Sandeep. Sepertinya mereka serius sekali, dan kini pelatih pengganti Martin mulai mengajari mereka cara mengerem luncuran dengan papan ski. Saya dan Dwi, yang sudah melepas sepatu ski, memilih aktivitas lain yang ditawarkan Pennie, bermain sledge.

Ternyata meluncur dengan kereta ski ini asyik juga, meski tetap harus pandai mengarahkan setirnya yang cuma dikendalikan dengan tali, dan mengerem laju kereta dengan cara kaki menggusur salju. Pertama mencobanya, muka saya langsung mencium salju, terlempar dari kereta akibat mengerem mendadak karena panik hendak menabrak dinding travalator! Tapi setelah itu, makin lama makin menyenangkan mengendarai kereta tanpa roda ini. Saya dan Dwi baru berhenti ketika sepatu kami mulai basah dan dingin oleh salju.

Pukul 4 sore, matahari masih putih cerah, dan salju yang mengepul dari puncak Eiger pun beterbangan ke langit biru. Kami meninggalkan Kleine Scheidegg untuk mengembalikan alat-alat ski kami ke Grindelwald-Grund. Mudah-mudahan saya bisa ke sini lagi tahun depan, untuk menyelesaikan kursus ski tingkat pemula saya. (JKT,27/1/2016)

Website | + posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini