Beranda Berita Properti Properti (Masih) Menjadi Kebutuhan Prioritas Masyarakat Indonesia

Properti (Masih) Menjadi Kebutuhan Prioritas Masyarakat Indonesia

0

Ilustrasi – Its.

Mayoritas masyarakat Indonesia masih menjadikan properti sebagai prioritas belanja mereka dalam enam bulan ke depan. Ini terlihat dari hasil riset yang diumumkan oleh portal properti Rumah123.com. Sebanyak 33,5 persen responden menempatkan properti di posisi teratas. Selanjutnya pendidikan menjadi pengeluaran terbesar berikutnya dengan porsi 22,2 persen, dan beli kendaraan 12,8 persen, serta menikah dan liburan, masing-masing di 10,4 persen dan 9,1 persen.

“Data ini sangat menarik karena ternyata lebih banyak masyarakat Indonesia yang ingin beli rumah. Menariknya juga responden yang merupakan masyarakat Indonesia 60,5 persen aktif mencari properti,” ujar Country General Manager Rumah123.com, Ignatius Untung, dalam pemaparan hasil Sentiment Survey H2/2016 di Jakarta, Rabu (26/10/2016).

[Baca: Ignatius Untung: Banyak Pengembang Properti Belum Melek Digital]

Survei dilakukan terhadap 3.436 responden yang mayoritas merupakan penduduk Jakarta (27%), Jawa Barat (21%), Jawa Timur (15%), dan Jawa Tengah (10%), dan lainnya.

Kebanyakan masyarakat Indonesia, sebut Untung, punya kebiasaan saat memulai pencarian properti, yakni dengan kata kunci “Lokasi, Harga, dan Desain”.

“Dan ternyata masyarakat yang semakin mapan dari sisi umur, tidak lagi mementingkan desain dan harga. Golongan ini memiliki kecenderungan terfokus pada lokasi, namun sebaliknya masyarakat muda Indonesia akan mencari dengan kata kunci desain,” jelas Untung.

[Baca: Usia 25-34 Tahun Dominasi Pencarian Properti Secara Online]

Sementara properti dalam bentuk rumah tapak/landed kembali menjadi preferensi utama, yakni sebesar 88,6 persen. Sedangkan kelompok properti kantor, ruko, atau kawasan komersial juga sangat diminati.

Meski demikian, hasil survei kali ini juga menemukan sejumlah masalah klasik yang masih menjadi kendala transaksi properti. Persoalan pertama adalah belum cukup uang untuk membayar uang muka (30%), tidak mampu menemukan properti di lokasi yang diinginkan (20%), serta pendapatan yang belum mencukupi untuk menutupi pembayaran kredit perumahan (KPR), sebesar 16%.

“Untuk uang muka saja, sekitar 71,5 persen masyarakat Indonesia harus menabung antara 1-5 tahun baru bisa membayar uang muka tersebut,” kata Untung. [pio]

Website | + posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini