Beranda Berita Properti Polemik Kisruh Internal Crown Group, Iwan Sunito Menjawab

Polemik Kisruh Internal Crown Group, Iwan Sunito Menjawab

0
Mantan CEO Crown Group, Iwan Sunito, yang kini menjabat sebagai Founder dan CEO ONE Global Capital, dalam jumpa pers daring, Rabu (20/3/2024).

PropertyandTheCity.com, Jakarta – Perusahaan pengembang properti Australia, Crown Group tengah bergejolak. Tuntutan Paul Sathio, Co-Founder Crown Group, untuk melikuidasi perusahaan dan memutuskan kerja sama dengan mitra bisnisnya, Iwan Sunito, menuai kritikan tegas dari pihak Iwan Sunito.

Kemesraan yang sempat terjalin antara keduanya selama 30 tahun lamanya buyar dan berakhir menjadi pertikaian sengketa bisnis, yang mengakibatkan kegiatan bisnis perusahaan tersendat sejak beberapa tahun terakhir. Narasi-narasi Paul Sathio soal Iwan yang menghalangi proses pembayaran kepada pihak berelasi dengan Crown Group sehingga menyebabkan beberapa proyek dalam posisi default, bertebaran di berbagai platform media massa.

Benarkah demikian dan bagaimana peristiwa sebenarnya? Iwan Sunito buka suara atas tuduhan-tuduhan yang dipaparkan Paul dalam keterangan tertulis beberapa waktu lalu itu. 

“Saat ini Crown Group sudah masuk ke dalam proses likuidasi, dan memang itu harus dilakukan. Tentu saja ada kekecewaan karena kemitraan kami harus berakhir seperti ini, namun hidup terus berjalan. Every partnership will have an end. Dan setelah hampir 1,5 tahun berjalan perselisihan terjadi, saya melihat ini yang terbaik bagi kami berdua. Kami bisa bebas mengembangkan visi bisnis kami,” tutur Iwan kepada puluhan media massa Indonesia melalui Jumpa Pers daring, Rabu (20/3/2024).

Iwan melugaskan bahwa eksistensi Crown Group dalam perjalanan dan pencapaian bisnis profesionalnya tidaklah sesignifikan yang digambarkan Paul. Menurut pria kelahiran Surabaya (Jawa Timur) ini, kehadirannya sebagai profesional dan juga pemegang saham justru telah membuat Crown Group menjelma menjadi perusahaan pengembang properti yang disegani di Australia. Sejumlah penghargaan diraih Crown Group dalam kurun waktu kehadiran Iwan sebelum perpecahan terjadi.

Sebut saja, Best Technology Hotel HM Awards 2019 yang disematkan pada SKYE Suites Sydney, dan Highly Commended for Best Serviced Apartment SKYE Suites Parramatta.

Seiring waktu, Iwan mengakui terjadi banyak perubahan pengelolaan di tubuh perusahaan. Keputusan sepihak Paul memplot anaknya , Ronald Sathio sebagai pimpinan di salah satu proyek membuat hubungan Iwan dan Paul makin tak harmonis. Pada titik ini, Iwan terpaksa angkat kaki. 

“Lama-lama saya lihat perusahaan ini jadi family business. Saya melihat anaknya belum siap di posisi itu. Sejak tiga tahun lalu mulai kelihatan hal-hal yang tidak etis, termasuk pembagian saham yang tidak 50:50 karena dia bukan pemegang saham terbesar Crown Group. Kalau perlu kami kirimkan kesepakatan kerja samanya,” beber Iwan.

Hal lain yang memicu Iwan menabuh genderang perang ialah karena adanya perbedaan visi mengenai pembiayaan konstruksi proyek yang tidak terkontrol dengan baik. “Sudah unruly dan unprofessional dimana saya tidak bisa membawa efisiensi konstruksi di bawah divisi Paul Sathio. Cost (sebuah proyek) senilai 17 juta dollar Australia (AUD) harusnya selesai dikerjakan dua tahun, tapi molor menjadi 4 tahun sehingga biayanya membengkak menjadi AUD 34 juta. Proyek lain direncanakan cost AUD 70 juta naik 40 persen menjadi 110 juta dollar. And I thought like, wow,” tandasnya.

It’s Over

Iwan mengakui kecewa kemitraannya dengan Paul Sathio di Crown Group berakhir dengan perselisihan. Alasannya, selama hampir 30 tahun kehadirannya Crown Group telah melahirkan puluhan proyek yang disebutnya amazing dan unexpected, karena mendapat respon pasar yang sangat baik dan mendapat banyak penghargaan global. Proyek-proyek itu tersebar di seantero Sydney (Australia), ditambah di Melbourne, dan kota besar lain di AS dan Indonesia. “Tapi bagaimana pun berbisnis itu akan selesai juga, tidak ada yang langgeng sekalipun itu bisnis keluarga,” imbuhnya.

Iwan dan Paul memiliki masing-masing 50% saham di Crown Group yang dibentuk tahun 1996. Keduanya berbagi otoritas. Paul menjadi CEO Construction yang memastikan konsep pengembangan yang dirancang Iwan pada sebuah proyek dan biaya investasinya bisa diimplementasikan. Sedangkan Iwan menjadi front man alias Chief Executive Officer (CEO) Development Crown Group.

Iwan melalui One Global Capital sempat mengajukan penawaran 45 juta dolar untuk membeli 50% saham Crown Group, agar perpisahan bisa berlangsung baik-baik, tidak harus di pengadilan. “It’s over. Kenapa kita ngga pisah baik-baik saja,” keluhnya.

Tawaran itu menurut Iwan jauh lebih tinggi daripada penawaran Paul yang hanya 15 juta dolar AS untuk 50% saham Iwan di Crown Group. Tapi, Paul tidak mengindahkan tawaran itu. Ia tetap mengajukan tuntutan melalui pengadilan di Sydney untuk memutuskan kemitraan dengan Iwan dan melikuidasi Crown Group. Akibatnya operasional perusahaan terhenti dan diambil alih likuidator. 

Ia menyebut Paul seperti orang yang putus asa dalam menyelesaikan perselisihan keduanya. Bahkan, kata Iwan, pesangon yang diberikan Paul kepada para pekerja asal Indonesia hanya separuh. “He is a desperate person who is doing the desperate thing. Tidak ada penjelasan, mereka dipaksa tanda tangan. Sangat tidak etis dan tidak bermoral. Itu satu hal yang saya benci,” tutup Iwan. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini