PEREKONOMIAN BAKAL KEMBALI BANGKIT

0
28
PEREKONOMIAN BAKAL KEMBALI BANGKIT
LUKAS BONG, KETUA UMUM DPP AREBI

Tahun 2020 apakah bisa dianggap sebagai tahun paling berat yang dirasakan?

Tahun 2020 sebagai tahun yang penuh tantangan, tidak hanya di properti tetapi di semua sektor ekonomi. Para broker properti terkena dampaknya, dan omsetnya banyak yang turun. Harga properti secondary kita lihat terkoreksi cukup signifikan. Jarang sekali bisa menjual sesuai dengan harga pasar. Ini yang kita bicara tahun 2020. Kita lihat polanya tren properti di sepanjang tahun 2020 kelihatannya sudah terkoreksi.

Walaupun demikian setelah melewati beberapa bulan, developerdeveloper sudah berani launching produknya, tetapi dengan produk yang harganya terjangkau. Developer tetap menjual karena properti adalah kebutuhan utama. Orang tetap mencari rumah walaupun dengan budget terbatas. Umumnya pemain lama yang masuk market. Untuk yang high rise sudah launching 2-3 tahun sebelumnya. Tahun 2020 tidak ada program baru untuk high rise. Penjualan tetap ada di 2020 tetapi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Harga landed Rp500 jutaan masih dominan.

Kondisi itu cukup berat buat developer dan para broker?

Terjadi seleksi alam yang ketat, developer mengalami badai yang efeknya cukup berat buat penjualan produk mereka. Demikian juga teman-teman di broker merasakan hal yang sama. Hanya yang bisa mengadopsi teknologi properti yang bisa bertahan di masa pandemi, baik broker maupun developer. Sekarang ini broker harus bisa mengusai teknologi digital untuk meyakinkan konsumen. Demikian juga developer sedemikian rupa produknya harus dibuat digital sehingga bisa dilihat oleh konsumen.

Bagaimana melihat di tahun 2021?

Di akhir tahun 2020 beberapa negara sudah menemukan vaksin. Tahun pembukitan efektivitas vaksin di 2021. Kalau efektif, perekonomian bakal kembali bangkit. Artinya, semua tergantung dari vaksin. Sejauh ini pemerintah serius dengan mengimpor cukup banyak vaksin. Sekarang tergantung sejauh vaksin tidak dikaitkan dengan politik, saya percaya aman-aman saja dan membantu membangkitan perekonomian Indonesia. Jangan dikaitkan dengan faktor politik soal vaksin. Ini tidak sehat.

Artinya recovery bisa lebih cepat bila vaksin juga cepat?

Betul, apalagi kalau sudah ada tanda-tanda ternyata vaksinnya ampuh. Sehingga orang percaya lagi untuk beraktivitas di lapangan. Ini yang sangat kita tunggu. Tetapi kalau sekarang ada pro kontra soal vaksin, orang yang di vaksin jadi takut-takut.

Selain faktor vaksin, faktor apa lagi yang bisa membangkitkan ekonomi?

Campur tangan regulator yaitu pemerintah, misalnya, kondisi seperti ini para broker diberi kemudahan-kemudahan. Teman-teman di REI dan AREBI sudah memberikan usulan kepada pemerintah yang terkait pajak, misalnya, PPh yang sebesar 2,5 persen. Developer juga jangan dibebani dengan peraturan yang aneh-aneh. Sebetulnya kalau dijalankan, misalnya, dari tahun 2021 dan 2022 diberi kelonggaran buat developer dan broker, bisa saja tetapi dengan waktu yang terbatas. Pertumbuhan ekonomi ujungnya berpengaruh pada daya beli masyarakat.

Segmen apa yang cepat bangkit di 2021?

Developer-developer yang bisa bangkit adalah developer yang punya komitmen dan track record yang panjang. Kita tahu sekarang konsumen semakin smart dan jeli untuk membeli produk-produk yang mereka inginkan. Harapan saya kepada para developer membuat produk yang diinginkan demand. Jangan asal supply saja karena supply di luar sudah banyak, tetapi harus melihat demand. Sekarang membangun juga tidak harus di pusat kota dan dilokasi yang strategis, tidak perlu yang jaraknya harus dekat ke pintu tol. Tetapi yang konsumen butuhkan adalah akses transportasi umum yang mudah seperti kendaraan umum atau dekat stasiun commuter line.

Bank sepertinya masih ketat dalam pemberian KPR di 2021?

Bank selektif betul. Suku bunga diturunkan, bank tetap selektif. Dalam hal ini bank agak riskan, karena kondisi seperti sekarang ini, banyak debitur yang gajinya dipotong atau terkena PHK. Income masyarakat banyak yang menurun. Ini yang membuat bank selektif. Mereka selektif terhadap debiturnya.

Terhadap pengembang apakah selektif juga dalam memberikan kredit konstruksi?

Bank juga melihat developer seperti kepada konsumen KPR, dilihat dari kredibilitas, track record selama ini dan produk yang dijual. Apakah produk yang dijual sesuai dengan demand saat ini. Betul ada pengembang yang bisa menjual produknya sampai Rp30 miliar karena pengembang tersebut mencermati ceruk pasar. Kebetulan juga produk itu berada di kawasan yang sudah lengkap.