Penjualan Perumahan Kuartal III 2020 Turun

Perumahan dengan harga di bawah Rp500 juta mengalami penurunan tertinggi hampir merata di semua wilayah.

0
86
INDONESIA PROPERTY WATCH : PASAR PERUMAHAN KEMBALI NAIK dan bp tapera
Ilustrasi - Perumahan

Propertyandthecity.com, Jakarta – Nilai penjualan pasar perumahan Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi dan Banten (JabodebekBanten) pada kuartal III 2020 turun sebesar 17,4 persen atau menjadi sekitar Rp1,08 triliun. Padahal, pada kuartal II lalu sempat mengalami kenaikan sebesar 81,4 persen menjadi Rp1,3 triliun.

Penurunan tersebut, menurut CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda, terjadi lantaran adanya kebijakan pengetatan PSBB Jilid II.

Baca: Dengan Bank Tanah, Negara Punya Land Manager

Adapun penelitian yang dilakukan di wilayah JabodebekBanten, disebut Ali sebagai benchmark properti, sehingga hasil temuan IPW tersebut bisa menggambarkan kondisi properti Indonesia saat ini.

Sementara jumlah unit terjual, lanjut Ali, juga mengalami penurunan sebesar 31,3 persen menjadi 1.594 unit, dari kuartal II sebanyak 2.319 unit. Padahal, pada kuartal II lalu sudah mengalami kenaikan 88,7 persen dari kuartal I sebanyak 1.229 unit.

“Jumlah unit yang terjual turun 31,3 persen, lebih tinggi dari nilai penjualan. Ini menggambarkan bahwa tipe besar lebih banyak terjual dibandingkan tipe di bawahnya,” terang Ali.

Jika dipetakan per wilayah, sebagian besar wilayah mengalami penurunan penjualan, kecuali DKI Jakarta yang masih mengalami kenaikan 11,5 persen. Kenaikan penjualan di DKI Jakarta diperkirakan dipengaruhi juga karena sebagian unit dijual dengan diskon antara 10–20 persen untuk rumah ready stock dan cara bayar tunai keras.

Baca: Omnibus Law dan Bank Tanah untuk Perumahan

Wilayah Serang juga mengalami kenaikan tipis berdasarkan jumlah unit terjual, yakni 1.5 persen, meskipun secara nilai penjualan mengalami penurunan. Adapun wilayah dengan tingkat penurunan penjualan unit tertinggi adalah Tangerang (-41,1%), Bekasi (-22.2%), Depok (-18.2%), Bogor (-10,5%) dan Cilegon (1.4%).

Segmen di bawah Rp500 juta mengalami penurunan tertinggi hampir merata di semua wilayah. “Segmen menengah bawah relatif semakin tertekan dibandingkan dengan segmen menengah atas. Bahkan segmen menengah atas di beberapa wilayah memiliki kecenderungan meningkat,” terang Ali.

Menurutnya, proyek yang telah mempunyai brand, lebih diminati pasar dibandingkan yang lainnya. Sementara persaingan justru semakin ketat untuk para pengembang kelas menengah sampai bawah.

Baca: Kepemilikan Properti WNA Pada Omnibus Law, Apa Sudah Jelas?

Adapun dari segi cara bayar, sejauh ini skema KPR tetap mendominasi sebesar 82,7 persen, namun peningkatan justru terjadi di pembayaran secara cash bertahap yang naik cukup tinggi dari 2,42 persen menjadi 8,19 persen. Sedangkan cash keras sebesar 9,11 persen.