Beranda Berita Properti Pasokan Perkantoran CBD 2017, Melonjak

Pasokan Perkantoran CBD 2017, Melonjak

965
0

 

 

Colliers International Indonesia mencatat pasokan perkantoran baru di CBD Jakarta pada tahun 2017 ini akan melonjak 731.164 meter persegi, atau 95 kali luas stadion Senayan. Hal itu sampaikan Senior Associater Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto kepada pers di Jakarta, (5/1/2017).

 

Padahal, menurut Ferry, di sepanjang tahun 2016 lalu, pertambahan pasokan perkantorannya di area CBD Jakarta tidak signifikan. “Pasokan kumulatif sepanjang  tahun 2016 lalu tercatat 5 juta meter persegi. Tidak ada suplai baru. Tanpa suplai tambahan di semester kedua di tahun yang sama,  suplai kumulatif perkantoran CBD Jakarta tetap berada di angka 5,48 juta meter persegi,” kata Ferry. Pada akhir kuartal IV-2016, okupansi melorot 4,6 persen lebih rendah dibanding tahun lalu menjadi 84,8 persen. Meski menurun, permintaan untuk perkantoran premium menunjukkan pertumbuhan tipis  2,5 persen.

 

Colliers juga melaporkan ada 18 gedung perkantoran yang secara signifikan telah menyesuaikan harga sewanya lebih rendah dari tahun sebelumnya yaitu antara sekitar Rp 100.000-Rp 250.000 permeter persegi. Ditahun sebelumnya harga sewanya tercatat Rp 311.750 permeter  persegi.  “Ini terjadi karena lonjakan pasokan  tidak disertai dengan tingginya permintaan. Akhirnya, kondisi ini memaksa harga sewa jadi turun. Dan ini sudah  berlangsung selama dua tahun terakhir ini,” tandas Ferry. 

 

Di tempat yang sama, Associate Director Residential Colliers International Indonesia, Aleviery Akbar menandaskan kondisi pasar properti di tahun 2017 ini masih sangat lambat dan tidak jauh berbeda dengan tahun 2016 lalu. “Booming properti justru terjadi di tahun 2010 sampai 2012. Pada saat itu  kenaikan nilai properti yang sangat tinggi. Peristiwa fenomena di tahun 2010-2012 sangat sulit terulang lagi dalam beberapa tahun ke depan.  Kenaikan harga properti waktu  itu mencapai 25 persen/tahun. Sejumlah pengembang berlomba meluncurkan produknya danmengharapkancapital gainyang tinggi. Memburuknya kondisi makro ekonomi dan lahirnya beberapa regulasi sejak tahun 2013 lalu hingga sekarang, membuat  nilai properti terus menurun,  khususnya di segmen apartemen.

 

Menurut Aleviery, di  tahun 2013 lalu, kenaikan harga propertitidak lebih besar dariGDP  yang hanya 5 persen lebih sedikit. Di tahun 2016 lalu,  kenaikan harga apartemen rata-rata hanya 3,8 persen.  Namun demikian, Aleviery mengemukakan,  di beberapa lokasi masih ada yang kenaikannya cukup tinggi, seperti area selatan dan barat Jakarta. Aleviery berharap konsumen properti harus lebih cermat dalam memilih produk dan lokasi properti yang akan dibeli. Pengembangan proyek infrastruktur  dalam kenyataannya pengaruhnya tidak  signifikan. “Banyak pengembang dalam memasarkan produk propertinya dengan menjual akses transportasi seperti MRT, LRT dan dekat dengan akses tol. Faktanya,  penjualannya tidak naik secara signifikan,” ujar Aleviery.(w)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini