Notes From Paradise, LABUAN BAJO

0
317
Text by : Muhammad Assad | photo by : Hanny Havidema

Dari ketinggian 36.000 kaki di atas permukaan air laut, saya melihat gugusan pulau-pulau yang sangat indah saat terbang di
atas langit Nusa Tenggara Timur. Tepat pada pukul 12 siang WITA (Waktu Indonesia Tengah), pesawat Kalstar Aviation KD-680 yang
membawa saya dan istri, Afra Nurina, mendarat dengan mulus di Bandar Udara Internasional Komodo.

Kami tidak sabar untuk segera menginjakkan kaki di pulau yang terletak di ujung barat Flores ini. Maklum saja, ini pertama
kalinya kami berdua mengunjungi tempat ini. Saat itu waktu menunjukkan pukul 12:30 siang dan matahari pun menyambut
dengan sukacita alias panas bangettt!.

Baca juga, Triniti Land Ground Breaking Fase Terakhir Collins Boulevard

Saat turun dari pesawat, sebuah bandara megah menyambut kami. Bandara seluas 3.300 meter yang baru saja diresmikan oleh
Presiden Jokowi pada tanggal 27 Desember 2015 ini memiliki arsitektur bangunan yang unik dan modern. Pemerintah memang
sedang gencar-gencarnya memoles dan merevitalisasi bandarabandara di Indonesia. Ini penting untuk membuat kesan pertama
yang baik, karena bandara merupakan pintu masuk pertama yang akan dilihat oleh para wisatawan yang datang ke Indonesia.
Setiap datang ke suatu daerah, saya senang melihat hasil kerajinan tangan tempat tersebut, baik itu kain batik, anyaman,
pahatan, ukiran dan berbagai suvenir lainnya.


Setiap kerajinan tangan itu bernilai mahal, karena handmade atau dibuat langsung oleh tangan. Ini merupakan kekuatan Indonesia di bidang ekonomi kreatif. Mata saya lalu tertuju kepada kain songket tenun khas Nusa Tenggara Timur yang indah dan patung pahatan kayu berbentuk komodo yang tersedia dalam berbagai bentuk. Keren-keren banget!.

Kemudian dan sekitar pukul 5 sore kami melanjutkan perjalanan menuju Kampung Ujung, tempat wisata kuliner di Labuan Bajo
yang terkenal dengan ikan bakarnya yang segar dan menggugah selera. Kata penduduk lokal, kalau belum makan di Kampung
Ujung, berarti belum ke Labuan Bajo Kampung Ujung berada di tengah kota dan cukup strategis, sekitar 10 menit dari Bandara Komodo. Lokasinya terletak persis berada di pinggir jalan dengan gerobak-gerobak pedagang yang bertenda dan berjejer.

Saat matahari terbenam, tempat ini menawarkan pemandangan yang spektakuler karena pulau-pulau kecil yang berada di
seberang membentuk siluet yang sangat indah, ditambah deretan lampu-lampu kapal yang menyala di pinggir pelabuhan.
Waktu menunjukkan pukul 6 pagi, dan mas Rezky dari Pesona Komodo sudah siap di lobby hotel untuk menjemput kami.
Sekitar 15 menit kami sampai di dermaga untuk berpindah ke kapal yang akan membawa kami mengelilingi pulau-pulau
di sekitar Labuan Bajo, atau yang lebih dikenal dengan nama Kawasan Taman Nasional Komodo. Kawasan ini terdiri dari 3
pulau terbesar, yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca dan Pulau Padar.

Sepanjang perjalanan, sejauh mata memandang banyak sekali deretan pulau yang mengelilingi area Taman Nasional Komodo.
Kombinasi warna cokelat pulau-pulau khas di Nusa Tenggara Timur dikombinasikan dengan warna biru samudera lautan,
keren banget!! Indonesia itu memang indah banget, nggak perlu ke luar negeri untuk cari tempat liburan yang unik dan menarik.

Tujuan pertama kami adalah Pulau Padar, tempat yang lagi hits di kalangan para traveler. Waktu tempuh yang dibutuhkan dengan
kapal sekitar 3 jam. Kami tiba sekitar pukul 10 pagi.

Sesampainya, kami melanjutkan trekking atau berjalan menyusuri pinggir bukit agar sampai ke puncaknya. Kurang
lebih waktu yang saya butuhkan sekitar 30 menit, tapi karena nungguin istri jadi 1 jam hehe…

Akhirnya kami sampai di puncak bukit Pulau Padar, dan Subhanallahhh… INDAH BANGETTT!!!

Rasanya perjalanan 3 jam di laut dan trekking 1 jam untuk mencapai puncak terbayar lunas. Indonesia memang surga yang jatuh ke bumi!

Setelah puas foto-foto, kami menuju destinasi selanjutnya, Pulau Komodo. Kata guide yang menemani kami dalam perjalanan, terdapat kurang lebih 1.500 ekor komodo yang hidup dan menetap di Pulau komodo. Wow!! Sebelum berkeliling lebih jauh di pulau ini, kami diberikan pengarahan oleh ranger atau pawang komodo tentang hal-hal apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan selama trekking. Kami pun mulai berjalan menyusuri Pulau Komodo. Di kejauhan saya melihat ada seekor komodo yang lagi santai di bawah pohon. Di sisi lainnya saya melihat sekawanan rusa sedang berjemur di pinggir pantai.

Saat saya tanyakan kenapa ada rusa di tempat ini, ranger menjawab bahwa rusa-rusa itu merupakan makanan komodo. Saya baru tahu kalau komodo makan rusa juga. “Komodo itu dalam jarak tertentu kecepatan larinya mengalahkan rusa, jadi seringkali rusa menjadi santapan komodo saat lengah,” lanjut mas ranger menjelaskan. Wow!

Selanjutnya, ini yang paling menantang. Ranger menawarkan kepada saya dan istri untuk foto bersama komodo sebagai kenang-kenangan. Meskipun ngeri, tapi kesempatan kan nggak datang dua kali. Saya dan istri pun mengiya-kan. Ada seekor komodo di depan kami yang terlihat sedang tidur jadi kami agak bernyali untuk mendekat dan berfoto bersama hehe…

Mas Ranger dengan sigap mengambil momen ketika sang Komodo siap menerkam dan saya tepat berada di belakangnya. What a cool shot!

Setelah itu kami menuju ke destinasi ketiga, yaitu pink beach atau pulau pink. Pantai ini sesuai dengan namanya “Pink Beach” yaitu pantai yang berwarna pink atau merah muda. Pink Beach adalah satu dari 7 pantai berpasir merah muda yang ada di dunia. Yang lainnya terdapat di di Harbor Island, Bahamas; Bermuda; Santa Cruz Island, Filipina; Sardinia, Itali; Bonaire, Dutch Caribbean Island; dan di Balos Lagoon, Yunani.

Selain kondisi pantainya yang unik dan indah, kehidupan bawah laut di Pink Beach juga menyimpan keindahan dan kekayaan yang menarik untuk diselami. Taman bawah laut Pink Beach adalah istana bagi beragam jenis ikan, ratusan jenis batu karang, dan berbagai jenis biota laut lainnya. Oleh karenanya, snorkeling atau diving adalah aktivitas yang tidak boleh dilewatkan. Saya pun tidak melewatkan kesempatan untuk langsung nyebur dan berenang.

Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti asal muasal warna pasir merah muda ini. Beberapa berpendapat mengatakan bahwa warna pink berasal dari pecahan karang berwarna merah yang sudah mati dan banyak ditemukan di pantai ini. Pendapat lain menyebutkan warna pink pada pasir Pink Beach adalah karena adanya hewan mikroskopik bernama foraminifera yang memproduksi warna merah atau pink terang pada terumbu karang. Apapun itu, pantai ini sungguh indah dan menawan. Ah, memang cantik
alam Indonesia.

Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 5.15 sore dan air laut semakin pasang. Kami pun menuju kapal dan bersiap-siap untuk pulang.
Alhamdulillah, sekitar pukul 8 malam kami tiba di dermaga Labuan Bajo, lalu makan malam dan kembali ke hotel untuk beristirahat.

Perjalanan yang melelahkan tapi membahagiakan. Saya dan istri senang sekali bisa melihat indahnya pulau-pulau yang berada di
kawasan Taman Nasional Komodo. It’s worth to come!

Keesokan harinya kami terbang menuju Jakarta via Denpasar dengan pesawat Kalstar KD-681. Di dalam pesawat saat sudah lepas landas, deretan pulau-pulau di Labuan Bajo seperti melambaikan tangannya dan mengucapkan selamat tinggal dengan senyuman terindah. Saya pun tersenyum ke arah mereka sambil berjanji dalam hati bahwa satu hari nanti akan kembali ke tempat ini.