MORTGAGE BANKING OUTLOOK 2021: KPR KEMBALI BERGAIRAH

0
22
MORTGAGE BANKING OUTLOOK 2021: KPR KEMBALI BERGAIRAH
Heintje F Mogi Heintje F Mogi Mortgage & Indirect Auto Business Head PT Bank CIMB Niaga

Pandemi Covid 19 telah memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kredit KPR perbankan. Sebelum Covid-19 mewabah, kredit KPR perbankan bisa tumbuh mencapai 8 persen, namun pada tahun 2020 data per Oktober, pertumbuhan KPR turun drastis menjadi 1,9 persen yoy. Meskipun demikian, pertumbuhan tersebut masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan total kredit perbankan yang tumbuh negative 0.41 persen yoy dan diperkirakan mengalami konstraksi hingga 2 persen diakhir tahun 2020.

MORTGAGE BANKING OUTLOOK 2021: KPR KEMBALI BERGAIRAH

Berkaca kepada apa yang sudah dilalui perbankan pada 2020 yang lalu, berbagai tantangan yang sudah dihadapi serta konsentrasi perbankan untuk menjaga kualitas asset dengan melakukan restrukturisasi kredit, maka saatnya perbankan untuk lebih fokus pada
pertumbuhan kredit di tahun 2021. Pertumbuhan KPR perbankan kami proyeksikan bisa
tumbuh sekitar 5-7 persen di 2021. Memang kondisi masih dalam pandemi Covid-19, tapi
geliat pertumbuhan kredit KPR sudah mulai terlihat pada semester 2 2020 sejak diberlakukan kondisi new normal dimana penyaluran KPR bankbank pemain KPR mulai mengalami peningkatan. Ditambah lagi mulai awal tahun 2021 ini vaksinasi sudah mulai diberlakukan yang memberikan optimisme market untuk dapat tumbuh kembali.

Jika melihat lebih detail pertumbuhan kredit tahun 2020, KP Rumah tumbuh 2,4 persen,
KP Apartemen tumbuh 1,7 persen dan untuk KP Ruko mengalami pertumbuhan
negative
8,8 persen. Pada tahun 2021 ini, KPR Rumah tetap akan menjadi segmen yang akan diminati dan mengalami pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan untuk segmen apartemen dan ruko, ditambah kondisi work from home menyebabkan orang selalu berada di rumah tanpa harus ke kantor atau ke pusat Kota Jakarta.

Setidaknya ada beberapa faktor yang dapat mendorong pertumbuhan kredit KPR antara lain:

Pertama, kondisi perekonomian dunia yang sudah masuk tahap recovery yang ditandai pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di akhir 2020 dibanding awal-awal masa Covid-19, bahkan China dan Vietnam mencatatkan positif growth.

Kedua, relaksasi kredit yang dilakukan perbankan, dimana perbankan akan lebih longgar dalam penyaluran kredit dengan memberikan plafond yang lebih tinggi, tenor yang lebih panjang, serta mulai menyalurkan kredit ke sektor-sektor usaha yang terdampak.
Setelah bank-bank fokus pada penyelamatan kualitas kredit melalui restrukturisasi, perbankan akan diminta untuk mulai menjalankan peran intermediasi untuk merespon dana-dana yang
idle di perbankan. Dari data Bank Indonesia per Oktober 2020, total
DPK yang dihimpun perbankan sebesar Rp6,723 triliun masih tumbuh 10,69 persen secara
YoY, sedangkan kredit perbankan sebesar Rp5,591 triliun tumbuh
negative 0.41 persen, artinya masih banyak masyarakat yang wait and see untuk melakukan kredit di bank.

Ketiga, tingkat suku bunga KPR yang masih kompetitif. Suku bunga KPR merupakan
faktor utama yang mempengaruhi nasabah untuk memilih KPR. Saat ini suku bunga KPR perbankan lagi menarik dan sangat kompetitif di market, berbagai promo bunga murah bisa diperoleh oleh nasabah misal untuk
fix 3 tahun mulai 5,75 – 6 persen, atau bunga fix 10 tahun sebesar 9 – 9,5 persen. Semua ini tidak terlepas dari tingkat suku bunga Bank
Indonesia yang saat ini berada di 3,75 persen dan diproyeksikan pada tahun 2021 sekitar 3,75-4 persen. Kestabilan suku bunga ini akan sangat berpengaruh kepada tingkat bunga KPR perbankan yang pada akhirnya akan menjadi pertimbangan nasabah untuk
mengambil KPR.

Di masa new normal ini, KPR perbankan tidak akan serta merta langsung tumbuh sebagai mana kondisi normal sebelum Covid-19, yang ada adalah tumbuh secara new normal. Proses recovery ekonomi dan perbankan akan membutuhkan waktu yang cukup
lama dan sangat bergantung kepada keberhasilan kita bersama melalui pandemi Covid-19 ini.