Home Travel and City MENYUSURI SUNGAI DELANG SAMBIL BERBALAS PANTUN

MENYUSURI SUNGAI DELANG SAMBIL BERBALAS PANTUN

1410
0

Dibelah oleh sebuah sungai yang airnya sepanjang tahun tak berhenti mengalir, meskipun di musim kemarau sekalipun. Di Delang, masyarakatnya masih melestarikan hutan hujan tropis Kalimantan yang identik dengan rimbunnya pohon ulin, meranti merah, juga pohon endemik Kalimantan lain yang besar-tinggi menjulang, lengkap dengan kehidupan liar serta keanekaragaman hayatinya.

Delang didominasi oleh suku Dayak Tomun yang menurut sejarahnya berasal dari tanah Minangkabau. Hal ini dibuktikan antara lain dari dialek bahasa, musik lokal, serta bentuk rumah adat yang dikenal sebagai rumah panjang yang menyerupai rumah gadang.

Saat ini masyarakat Delang, khususnya Desa Lopus, dengan dukungan pemerintah daerah setempat sedang bergiat mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat melalui kelompok sadar wisata (Pokdarwis).

Untuk mewujudkannya, masyarakat Desa Lopus mulai menggali potensi desanya, baik dari sisi alam dan budayanya. Selain sungai berair bening-bersih, Lopus mempunyai beberapa air terjun yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau trekking menyusuri hutan primernya.

Silikan Garung (silikan adalah bahasa lokal untuk air terjun), ditempuh kurang lebih enam jam, dengan jalur setapak naik-turun termasuk yang cukup menantang. Butuh kehati-hatian ekstra, terutama saat musim hujan.

Oleh karena itu, ditemani pemandu lokal yang mengetahui jalur trekking menjadi sebuah keharusan. Bagi pencinta hutan perawan, mata dan jiwa kita akan dimanjakan dengan berbagai pesona kekayaan rimba Kalimantan serta cerita kearifan masyarakat Dayak di sana.

Di antaranya adalah bagaimana mereka memanfaatkan berbagai tanaman hutan untuk obat-obatan. Di sinilah peran pemandu lokal menjadi penting karena selain membantu memandu, mereka juga mampu menerjemahkan berbagai hal menarik selama perjalanan.

Bagi yang ingin trekking tingkat medium, Silikan Todung bisa menjadi pilihan. Cukup tiga jam perjalanan, melewati ladang masyakat serta menyusuri hutan dan sungai dengan airnya yang bening dan bisa diminum langsung. Lelahnya perjalanan menjadi tak berarti saat mandi di bawah air terjun yang dingin menyegarkan.

Tak lengkap ke Lopus bila tidak mencoba atraksi wisata air yang ditawarkan oleh Pokdarwis Desa Lopus, yaitu menyusuri Sungai Delang dengan menggunakan ban, dikenal juga dengan “river tubing”, atau perahu karet.

Uniknya, yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain, para pemandu lokalnya, baik laki-laki maupun peremuan, dan tua maupun muda, mengunyah sirih-pinang. Keseruan bertambah saat mereka saling bersahutan berbalas pantun selama kegiatan wisata air ini.

Suasana mengundang gelak-tawa tentu saja tak terelakkan. Menyirih dan berpantun adalah salah satu budaya khas masyarakat Dayak Tomun di Lopus ini. Mengunjungi Desa Lopus dapat ditempuh langsung selama empat jam perjalanan dari Pangkalan Bun. Perjalanan dapat dikombinasikan dengan beristirahat untuk minum kopi atau makan siang di Nanga Bulik, ibukota Kabupaten Lamandau.

Bagi siapa saja yang ingin menginap, Pokdarwis Desa Lopus menyediakan sebuah “guest house” yang cukup nyaman. Bila membutuhkan oleh-oleh kerajinan khas buatan masyarakat lokal, ada produk kerajinan “kapuak” atau kulit kayu dalam berbagai bentuk, seperti tas. Juga berbagai produk anyaman dari bambu, rotan, hingga bomban (atau dikenal juga dengan bamban).

Pastikan juga untuk datang pada saat musim buah. Desa Lopus tidak saja terkenal dengan duriannya, tapi juga berbagai macam buah lokal Kalimantan yang lain, seperti langsat, rambai, mentawa, rambutan, manggis, dan masih banyak lagi buah hutan yang lain.

Previous articleBUSAN KOREA SELATAN
Next articleSudah Tidak Gratis, Tol Kelapa Gading-Pulo Gebang Mulai Besok Berbayar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here