Pada Minggu siang yang cukup hangat di awal Juli 2025, ballroom megah Vertu Hotel Harmoni di Jakarta disulap menjadi dunia yang penuh warna dan gaya. Lampu sorot menari, kain-kain eksotis berkibar di runway, dan ratusan mata tertuju pada satu hal: Karya para desainer muda yang tampil percaya diri di panggung Indonesia Trend Fashion Week (ITFW) 2025.
Baca Juga, Savyavasa Tawarkan Hunian Premium Bernilai Investasi Tinggi di Dharmawangsa Jakarta Selatan
Tahun ini, Indonesia Trend Fashion Week—yang sebelumnya dikenal dengan nama Indonesia Teen Fashion Indonesia—menginjak usia kelima. Namun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, ITFW 2025 terasa seperti lahir kembali. Bukan hanya karena nama baru, tetapi juga karena visi dan semangat yang ikut berubah.
Dari Remaja ke Tren Nasional
Dulu, ajang ini lebih dikenal sebagai panggungnya para desainer remaja. Kini, lewat transformasi nama, ITFW menjelma jadi arena yang jauh lebih luas: Panggung tren fashion tahunan yang terbuka bagi siapa pun yang punya ide, kreativitas, dan keberanian untuk tampil beda.
“Fashion itu harus dinamis. Harus berani berubah,” kata Derry Dahlan, pengamat fashion sekaligus pendiri ITFW, yang juga dikenal lewat kiprahnya di DD Foundation—organisasi yang konsisten mendukung desainer lokal.
Perubahan ini bukan sekadar soal branding, tapi tentang memberi tempat yang lebih adil untuk desainer muda dan pelaku UMKM di industri fashion. Lewat tema besar tahun ini, “Totalitas Mendukung Industri Fashion Milenial”, Derry dan timnya ingin memastikan bahwa talenta muda Indonesia tak lagi terpinggirkan hanya karena kurangnya akses atau biaya.







Fashion Tak Lagi Eksklusif
Selama ini, dunia fashion kerap dianggap elitis dan penuh sekat. Banyak desainer muda yang punya ide cemerlang, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ada juga yang menyerah sebelum sempat tampil, karena panggung fashion week terasa terlalu mahal dan terlalu jauh.
Inilah yang ingin diubah oleh ITFW.
“Kami ingin membuat panggung fashion yang inklusif. Bukan cuma untuk yang punya nama besar, tapi juga untuk yang baru mulai dan butuh tempat berkembang,” ujar Derry. Maka, selain peragaan busana, ITFW juga menghadirkan berbagai kegiatan pendukung: mulai dari workshop desain, kelas bisnis fashion, hingga networking session antara desainer muda dan pelaku UMKM.
“Kolaborasi itu penting,” lanjut Derry. “Kreativitas butuh ruang. Tapi tanpa akses ke pasar, semua itu hanya akan jadi mimpi di atas kertas.”
Menyulam Mimpi, Menjahit Harapan
Dibalik lampu-lampu panggung dan dentuman musik runway, ada cerita haru dari para desainer muda yang akhirnya bisa tampil. Ada yang baru pertama kali memperlihatkan koleksi ke publik. Ada juga yang berasal dari daerah dengan keterbatasan akses, namun nekat menembus Jakarta demi satu hal: Mewujudkan mimpi.
Salah satunya adalah Nabila, desainer 23 tahun asal Malang, yang membawa koleksi bertema urban nature dari bahan-bahan ramah lingkungan. “Kalau bukan lewat acara seperti ini, saya mungkin tidak pernah punya kesempatan tampil di depan orang banyak,” katanya sambil tersenyum.
Kisah seperti Nabila inilah yang membuat ITFW lebih dari sekadar ajang fashion. Ia adalah jembatan. Ia adalah ruang aman bagi kreativitas untuk tumbuh tanpa takut dicemooh, ditolak, atau dilupakan.
Masa Depan Fashion Indonesia
ITFW 2025 menunjukkan bahwa fashion di Indonesia bukan hanya milik segelintir orang. Dengan keterbukaan, kolaborasi, dan dukungan komunitas, mimpi besar para desainer bisa tumbuh menjadi nyata.
Karya-karya yang ditampilkan tahun ini tidak hanya tampil cantik dan trendi, tetapi juga sarat makna. Beberapa membawa nilai budaya, lainnya mengangkat isu lingkungan atau pemberdayaan perempuan.
Bagi Derry Dahlan dan DD Foundation, ini adalah awal dari perjalanan panjang. Mereka ingin agar ITFW terus hadir setiap tahun, menjadi ruang yang hidup dan relevan dengan zaman.
“Selama masih ada desainer muda yang punya semangat dan mimpi, kami akan terus buat panggung ini,” ucap Derry.
Di tengah gemerlap lampu, suara tepuk tangan, dan kilatan kamera, satu hal jadi sangat jelas: Masa depan fashion Indonesia sedang dijahit—bukan oleh tangantangan besar dari luar, tapi oleh generasi muda negeri sendiri. l [ed.AS]





















