Beranda Berita Properti Mengubah Stigma Kusutnya Pengelolaan Sampah Perumahan, Berkaca dari Tetangga Jakarta

Mengubah Stigma Kusutnya Pengelolaan Sampah Perumahan, Berkaca dari Tetangga Jakarta

1
Waste4Change: Hingga saat ini, belum ada penanganan sampah skala kota yang 100 persen tuntas.

PropertyandTheCity.com, Tangerang – Menuju Indonesia Hijau bukanlah tugas yang mudah dan memerlukan kerja sama dari berbagai pihak. Selain pemerintah, sektor swasta, komunitas lokal dan setiap individu memiliki peran yang tidak dapat diabaikan.

Pembuangan sampah selama ini menjadi salah satu masalah yang dihadapi kompleks perumahan di mana pun. Tak mau terjebak persoalan ini, pengembang kota mandiri BSD City, yang terletak tak jauh dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing, Tangerang, yang menerima 1.500 ton sampah per hari, justru  secara aktif mengajak warga untuk ikut serta memilah dan mengolah sampah rumah tangga. Cara ini diharapkan bisa mengurai persoalan sampah dan menghasilkan kawasan hunian ramah lingkungan.

Sejak pertama kali didirikan, Sinar Mas Land, pengembangnya, berkomitmen merancang dan membangun BSD City sebagai kawasan berkelanjutan untuk penghuninya. Pemilahan dan pengolahan sampah di perumahan BSD City terbagi menjadi tiga, yaitu sampah organik, anorganik, dan residu. Sampah organik dimanfaatkan sebagai pupuk kompos. Sampah anorganik didaurulang sesuai jenisnya, seperti plastik, kardus, dan kertas. Sehingga yang tersisa hanyalah residu, atau sisa pengolahan sampah, untuk dikirim ke TPA Rawa Kucing.

Pengolahan sampah di BSD City bekerja sama dengan Waste4Change, perusahaan pengelolaan sampah yang memiliki misi mengurangi jumlah sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Bersama Waste4Change, pengembang tidak hanya memperbaiki sistem pengolahan sampah, tetapi juga mengedukasi warga agar peduli terhadap lingkungan.

“Sepanjang 2023 Waste4Change telah membantu kami mengelola dan mengolah sampah di 3.244 unit rumah dan 4 tower area komersial sebanyak 2.304,4 ton sampah. Tahun lalu, rerata targetnya 10 ton sampah per hari, masuk tahun 2024 naik jadi 40 ton per hari. Ini dilakukan secara bertahap,” ujar M. Reza Abdulmajid, Chief Risk & Sustainability Officer Sinar Mas Land, saat diskusi ringan bersama Waste4Change mengenai keseriusan BSD City dalam mewujudkan kota bersih dan sehat di Serpong, Tangerang, Rabu (5/6).

Dari pengolahan sampah tersebut, sebanyak 515,3 ton sampah sisa makanan diubah menjadi protein maggot dan kompos, serta 356,4 ton sampah didaur ulang menjadi material baru bermanfaat. Pengolahan sampah tersebut setara dengan pengurangan karbon sebesar 163,1 ton CO2-eq/tahun, sehingga turut berkontribusi pada upaya mitigasi perubahan iklim melalui pengurangan emisi karbon.

Menurut Reza, sampah telah menjadi masalah serius di Indonesia. Mengutip Bank Dunia, Reza menyebut bahwa bumi menghasilkan 2,01 miliar ton sampah urban setiap tahunnya, dan setidaknya 33 persen dari jumlah tersebut tidak dikelola dengan cara yang aman bagi lingkungan. Melihat tren ke depan, volume sampah global diperkirakan akan meningkat menjadi 3,5 miliar ton pada tahun 2050.

“Prediksinya akan ada 3,5 miliar ton sampah perkotaan per tahun pada 2050 kelak. Indonesia dengan populasi besar akan menghadapi pengolaan sampah terbesar di Asia Tenggara. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat pada 2023 ada  7,3 juta ton yang belum bisa dikelola. Jumlah sampah berbanding lurus dengan pembangunan kota. Apabila pembangunan kotanya cepat tapi pengolaan sampahnya tidak baik itu akan menimbulkan masalah-masalah lain. Sebab itu semua harus bisa saling bersinergi, sama-sama mencari jalan. Supaya program penanganan sampah di Indonesia bisa berjalan dengan baik,” ucap Reza.

Founder & CEO Waste4Change, Mohammad Bijaksana Junerosano, menjelaskan, per Mei lalu setiap hari pihaknya menerima 50 ton sampah warga di BSD City. Secara menyeluruh, dari Januari 2023 hingga Aoril 2024, pihaknya mengolah sampah di 11.300 unit rumah dan 230 unit komersial dengan jumlah tonase lebih dari 8.100 ton. Sampah tersebut diubah menjadi protein magot sebagai sumber pakan dan didaur ulang menjadi material baru. 

Praktik itu juga mampu mengurangi karbon sebesar 585 ton CO2-eq, sehingga turut berkontribusi pada upaya mitigasi perubahan iklim melalui penekanan efek gas rumah kaca. Catatan positif lainnya, kegiatan ini mempekerjakan 180 orang sehingga berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Dengan adanya pemilahan dan pengolahan sampah, ia berharap dapat mengurangi pengiriman sampah ke Rawa Kucing. 

“Yang bisa didaurulang, langsung didaurulang. Semuanya bertahap. Kita masih dalam upaya mengenalkan pilah sampah plastik warna. Syukurnya, warga BSD City makin terbuka atas isu ini. Setiap Sabtu dan Minggu mereka setor ke bank sampah. Kalau problem sampah ini ditangani dengan tepat dan konsisten, masalah antrean sampah ke TPA bisa diminimalisir sehingga mengurangi penumpukan sampah di rumah warga,” kata Sano, sapaan akrabnya.

Kado Istimewa

Atas komitmen dan praktik baik tersebut, township BSD City didapuk sebagai “Circular Township Award” oleh Award4Change. Penghargaan itu diplot sebagai kado istimewa dari Sinar Mas Land untuk Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni lalu. Penghargaan diberikan Edi Rivai, Board of Director Waste4Change dan diterima langsung oleh Reza, di Marketing Gallery BSD City, sesaat sebelum diskusi dimulai.

Sinar Mas Land melalui proyek BSD City di Tangerang, Banten, menerima penghargaan Award4Change “Circular Township Award”.

Board of Director Waste4Change, Edi Rivai, mengapresiasi komitmen BSD City dalam mengimplementasikan praktik baik pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dan menjadi fenomena teladan untuk Indonesia bahwa dengan kolaborasi dan kesungguhan demi bumi lestari, ekosistem sehat dan berkelanjutan adalah sebuah keniscayaan. 

“Pengentasan masalah sampah harus kolaboratif. Maka itu kami gencar mengenalkan keberadaan Waste4Change ke banyak stakeholder. Semua harus terlibat langsung, baik pemerintah, swasta maupun warganya. Kami mendorong kawan-kawan developer supaya berkiprah lebih signifikan untuk kemajuan negeri ini.  Sampah bukan bisnis, tapi lebih ke tanggung jawab. Maka itu, kita patut apresiasi karena mengelolah sampah di 11.000 rumah di BSD City bukan hal mudah. Praktik baik BSD City ini bisa menjadi teladan mengatasi sampah dan mewujudkan bumi yang selaras,” ujar Edi.

Melalui konsep ekonomi sirkular, limbah plastik di BSD City diolah sebagai campuran aspal dengan pendekatan kolaborasi multipihak, satu diantaranya dengan Chandra Asri Group. Keduanya menerapkan aspal plastik di jalanan kawasan BSD City sejak tahun 2021. “Ini sangat positif karena memberi nilai tambah khususnya bagi warga yang tinggal di sini,” imbuh Edi. 

Award4Change merupakan ajang penghargaan tahunan yang konsisten diselenggarakan sejak tahun 2020, memberikan penghargaan kepada berbagai pemangku kepentingan multisektor, termasuk kementerian, swasta, BUMN, kedutaan negara sahabat, hingga NGO (non-governmental organization), yang dianggap memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan menjalankan pembangunan berkelanjutan. 

“Penghargaan ini merupakan momen World Environment Day 2024 terbaik tahun ini, wujud nyata bahwa dengan circular township maka sampah yang sejatinya material, bukan lagi menjadi masalah, melainkan sumber daya yang turut menggerakkan perekonomian bangsa,” pungkasnya.

Kunci Persoalan

Dalam konteks penanganan sampah yang benar, selain peningkatan investasi dalam teknologi yang ramah lingkungan, penegakan hukum yang lebih ketat terhadap pelanggaran lingkungan juga menjadi aspek penting dalam isu ini.

Sano menyebut masalah sampah di Indonesia cukup rumit. Sehingga tidak hanya bisa diselesaikan oleh satu pihak tetapi perlu melibatkan banyak elemen. Dirinya menjelaskan bahwa ada tiga masalah fundamental dalam masalah sampah. Hal yang pertama baginya adalah tidak adanya penegakan hukum kepada pelaku pembuang sampah. Banyak pihak yang masih seenak-maunya membuang sampah, bahkan industri yang tidak mengelola limbahnya dengan benar.

Melihat ke beberapa contoh kebijakan yang telah diterapkan di negara lain, kita bisa memperoleh inspirasi dan panduan. Misalnya, di Jepang. Jika ada satu unit apartemen tidak memilah sampah, seluruh penghuninya terkena hukuman.

“15 tahun terakhir saya berkecimpung di isu sampah, di negara-negara maju, perusahaan waste management dianggap pelayanan publik yang didukung aturan law enforcement (penegakan hukum) yang jelas. Kedua, negaranya mendorong willingness to pay. Warga dipaksa untuk membayar sesuai dengan hitungan yang sesuai. Regulasi di Indonesia ada, Undang-Undang sampah itu ada. Tapi menjadi percuma  kalau kita tidak menegakkan hukumnya. Orang buang sampah di sungai tidak ada konsekuensinya, orang buang sampah di jalan tidak ada konsekuensinya,” papar Sano.

Padahal diutarakannya dalam Undang-Undang pun ada peraturan untuk pemilahan sampah. Tetapi masyarakat masih abai karena kurangnya penegakan hukum. Dia menjelaskan bila ada penegakan hukum masyarakat punya kewajiban untuk memilah sampah. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah dari sumbernya juga membuat proses pengelolahan di TPA menjadi tidak efisien. 

 “Hingga saat ini, belum ada penanganan sampah skala kota yang 100 persen tuntas. BSD City sudah memulai atas kesadaran diri, kami sangat mengapresiasinya. Kita harus mengakui ini tantangan bahwa masih ada yang tidak peduli terhadap pengolaan sampah yang benar. Ayo kita sama-sama mau, sadar diri dan serius mengatasi permasalahan ini, butuh dukungan semua pihak,” tandas Sano.

+ posts

1 KOMENTAR

  1. Keren bgt BDSD konsep nya soal pengelolaan sampah …Semoga bisa di contoh sama daerah lain untuk bisa peduli dengan sampah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini