Tren harga rumah sekunder di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang konsisten pada bulan Februari 2024. Fenomena ini bukanlah hal baru, melainkan merupakan bagian dari tren peningkatan yang telah terjadi secara terus menerus.
baca juga, Terus Meningkat, Investasi Sektor Properti Tembus Rp29,4 Triliun pada Kuartal I/2024
Data yang dirilis dalam Flash Report Rumah123 Edisi Maret 2024 menunjukkan bahwa harga rumah sekunder mengalami kenaikan sekitar 0,3% secara bulanan. Peningkatan ini juga didukung oleh pertumbuhan pasokan (supply) sebesar 2,6% secara bulanan.
Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa permintaan di pasar rumah sekunder secara monthon-month terus mengalami pertumbuhan sehingga mampu mendorong harga untuk terus naik.
Dengan kondisi ini, dapat diprediksi bahwa pasar rumah sekunder akan tetap menjadi fokus pertumbuhan dan perhatian di masa depan. Peluang ini juga akan menarik minat investor dan pelaku bisnis properti untuk terus memantau dan berpartisipasi dalam dinamika pasar yang menjanjikan.
Harga Rumah YoY Lebih Tinggi dari Bulan Februari 2023
Secara umum, harga rumah di Indonesia pada Februari 2024 mengalami pertumbuhan cukup signifikan dibandingkan pada
Februari 2023.

Berdasarkan Resale Price Index di 99.co Indonesia dan Rumah123, secara year-on-year, keseluruhan harga rumah lebih tinggi 2,4%
dari bulan Februari 2023.
9 dari 13 kota yang tercatat oleh Rumah123 mengalami kenaikan secara month-on-month. Kota Bogor mengalami kenaikan harga bulanan
tercepat sekitar (1,3%). Di sisi lain, 12 dari 13 kota mengalami kenaikan harga secara year-on-year. Denpasar mengalami kenaikan tercepat sebesar (12,0%).
Jabodetabek Alami Kenaikan Harga Rumah YoY secara Signifikan

Rumah123 juga mencatat adanya kenaikan harga rumah di area Jabodetabek secara beruntun pada Februari 2024.
Secara month-on-month Jakarta, Tangerang, Bogor, dan Bekasi mengalami kenaikan harga masingmasing sebesar 0,3%, 0,2%, 1,3%
dan 0,3%. Kenaikan bulanan juga terjadi di beberapa kota besar di Pulau Jawa, seperti Bandung (0,1%), Semarang (0,8%), Yogyakarta
(0,1%), dan Surakarta (1,0%).
Sementara untuk kota besar yang berada di luar Pulau Jawa, Medan mengalami pertumbuhan harga yang cukup besar secara month-on-month
yakni 1,1%.
Sedangkan secara year on year, Jakarta mengalami kenaikan (1,4%), Tangerang (2,6%), Depok (1,4%), Bogor (6,4%), dan Bekasi (1,9%). Kota besar lainnya di Pulau Jawa juga mencatat kenaikan harga, yakni Kota Bandung (1,1%), Surabaya (2,8%), Semarang (3,3%), dan Surakarta (2,7%).
Lalu, beberapa kota di luar Pulau Jawa mencatat kenaikan secara year-on-year, seperti Medan (5,2%), Denpasar (12,0%), dan Makassar (0,3%).
Tangerang Jadi Lokasi Paling Populer
Pada Februari 2024, pertumbuhan popularitas tahunan kembali dipimpin oleh kawasan Jabodetabek.
Pertumbuhan popularitas tertinggi terdapat di Tangerang (2,3%), Jakarta Selatan (1,6%), disusul oleh Jakarta Utara (1,3%), Tangerang Selatan (0,8%), lalu Bekasi dan Bogor (masing-masing 0,2%).
Rumah123 juga mencatat lokasi paling populer untuk rumah secara listing enquiries adalah Tangerang dengan persentase (14,4%) dari total listing enquiries untuk rumah di Indonesia pada bulan Februari 2024.
Lokasi terpopuler kedua adalah Jakarta Selatan dengan pangsa pasar (11,8%), diikuti Jakarta Barat sebesar (9,4%).
Pada area Jabodetabek, secara month-on-month, kota dengan kenaikan popularitas terbesar adalah Bogor dengan kenaikan sebesar
(0,4%), Bekasi (0,2%) dan Jakarta Timur (0,2%).
Daftar barusan bersaing dengan wilayah luar Jabodetabek tetapi masih di Pulau Jawa seperti Surabaya (0,3%), Semarang (0,1%) dan Sleman
(0,1%).
Sementara itu, kota besar di luar Pulau Jawa yang mengalami kenaikan popularitas secara month-on-month terbesar adalah Batam (0,2%),
Medan (0,1%) dan Badung (0,1%).
Di sisi lain, kota dengan proporsi penurunan enquiries terbesar secara month-on-month adalah Tangerang sebesar (0,5%), Jakarta Barat
(0,4%) dan Depok (0,2%).
Faktor Pendorong Peningkatan Harga Rumah
Adapun sejumlah faktor pendorong peningkatan harga rumah selama tahun 2023-2024, di antaranya:
- Inflasi
Dari perkembangan Makro Ekonomi pada bulan Februari 2024, inflasi IHK (Indeks Harga Konsumen) tercatat sebesar 2,75% (Year- on-Year). Angka inflasi naik dibandingkan dengan bulan Januari 2024, sebesar 2,57%.Hal tersebut lantaran suku bunga acuan di bulan
Februari 2024 masih dipertahankan pada level 6,00%
oleh Bank Indonesia. Setelah mempertahankan suku
bunga di level 5,75% sejak Desember 2022. - PPN
Selain itu, sepanjang tahun 2023, terdapat sejumlah perubahan regulasi, kebijakan fiskal, dan moneter yang dilakukan oleh pemerintah.Kebijakan pemerintah merupakan salah satu hal yang memberikan dampak signifikan kepada sektor properti di tanah air.
Salah satunya adalah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 120 Tahun 2023 tentang PPN atas Penyerahan Rumah Tapak dan Satuan Rumah Susun yang Ditanggung Pemerintah Tahun Anggaran 2023.Ketentuan tersebut berisi seputar kebijakan Insentif pajak pertambahan nilai (PPN) yang ditanggung pemerintah (DTP) untuk pembelian properti dari harga Rp2 miliar menjadi Rp5 miliar.PPN DTP ini berlaku mulai 1 November 2023 hingga 30 Juni 2024 dengan menetapkan bahwa pemerintah akan menanggung 100% PPN yang terutang dari bagian dasar pengenaan pajak (DPP) hingga Rp2 miliar.Adanya PPN gratis memberikan dorongan tambahan bagi calon pembeli properti sehingga langkah ini diyakini dapat meringankan beban finansial masyarakat, terutama bagi mereka yang mencari properti dengan anggaran terbatas.
- LTV
Lalu, ada kebijakan terkait perpanjangan LTV 100% oleh pemerintah hingga akhir tahun 2024 yang memungkinkan untuk membeli rumah atau hunian dengan DP 0% sesuai dengan kebijakan masingmasing bank yang ditunjuk. - Golden Visa WNA
Kebijakan Golden Visa bagi WNA yang diberlakukan sejak bulan Oktober 2023 juga dapat memberikan keuntungan secara ekonomi bagi negara, khususnya sektor properti.Kebijakan ini didasarkan pada Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 22 Tahun 2023 tentang Visa dan Izin Tinggal serta Peraturan Menteri Keuangan Nomor 82 Tahun 2023 yang diundangkan pada tanggal 30 Agustus 2023.
- Infrastruktur
Di sisi lain, perkembangan infrastruktur di sejumlah wilayah juga mempercepat pertumbuhan harga rumah di Indonesia. Misalnya, adanya Kereta Cepat Jakarta Bandung yang mulai beroperasi pada Oktober 2023 berpotensi memberikan dampak positif bagi kawasan di sekitar stasiun.Selain itu, sejak diluncurkan pada Agustus 2023, LRT Jabodetabek telah memberikan dampak positif pada mobilitas masyarakat di Jabodetabek. Jalur yang menghubungkan Jakarta (Stasiun Dukuh Atas) dengan Depok (Stasiun Harjamukti) dan Bekasi (Stasiun Bekasi Timur) ini memudahkan penduduk di sekitar stasiun untuk bepergian dari dan menuju pusat kota.
Kemudahan akses yang ditawarkan oleh LRT Jabodetabek ini meningkatkan permintaan hunian di sekitar wilayah stasiun. Hal ini terlihat dari meningkatnya harga rumah di kawasan Jabodetabek, khususnya di area yang dekat dengan stasiun LRT





















