Beranda Berita Properti Kritik Tajam Kepala Bappenas Terkait Tata Kota di Indonesia: Tidak Jelas Bentuknya

Kritik Tajam Kepala Bappenas Terkait Tata Kota di Indonesia: Tidak Jelas Bentuknya

19
0
Jakarta TOD
Kawasan Kota Bisnis Jakarta

PropertyandTheCity.com, Jakarta – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa menyatakan kota-kota di Indonesia itu amorf alias tidak mempunyai bentuk yang jelas.

“Kota-kota di Indonesia ini menurut saya amorf. Kota-kotanya itu enggak ada bentuknya. Kalau gitar itu kan ada bentuknya, gitar Spanyol gitu kan atau gitar listrik ada bentuknya. Nah, kota-kota kita, semakin hiruk pikuk dan semakin tinggi mobilitas penduduk di sana, dia semakin amorf,” ujarnya dalam acara Sustainable Development Goals (SDGs) Center Conference 2024 yang dipantau secara virtual, di Jakarta, Rabu (12/6/2024) seperti dilansir Antaranews.

Dengan kota yang amorf, pembangunan sebuah kota tidak lagi didasari masterplan, tetapi berdasarkan desakan-desakan ekonomi atau komersial. Saat tahun 1980-an, Suharso menceritakan pertemuannya dengan pengusaha properti Ciputra yang hendak membangun Bumi Serpong Damai (BSD) City menjadi kota hijau.

“Tapi, 1997-1998 ketika ekonomi Indonesia terganggu, lalu [mayoritas saham] BSD [dibeli oleh perusahaan lain], saya bisa rasakan apa yang terjadi perubahannya, jauh dari angan-angannya beliau [Ciputra],” ujar Suharso.

Begitu pula dengan kawasan Pondok Indah yang dibangun oleh Ciputra dianggap telah amorf setelah tidak dikelola oleh pengusaha tersebut.

“Setelah pindah juga dari Pak Ci [Ciputra] itu amorf enggak jelas, bentuk pinggangnya itu di mana nggak ngerti saya. Gitar itu kan ada pinggangnya, lekuknya, jadi lekuknya enggak kelihatan lagi,” kata Menteri PPN.

Menurutnya, universitas yang memiliki studi arsitektur dan perkotaan dinilai berpengaruh dalam membangun sebuah peradaban manusia. Ia berujar, apabila setiap universitas memiliki concern untuk membangun sebuah kota hijau, maka berbagai kota di Indonesia akan lebih baik lagi.

“Artinya, universitas di daerah masing-masing dapat terlibat dalam setiap penyusunan masterplan pembangunan kota/kabupaten dengan mengedepankan prinsip SDGs,” jelasnya.

Dengan begitu, capaian target-target SDGs lebih cepat terealisasi, mengingat adanya partisipasi publik dan keterlibatan dari para pemangku lainnya dalam proses pembangunan kota.

Suharso menganggap bahwa upaya membangun kota sejalan dengan SDGs 11, yakni menjadikan kota dan permukiman inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan.

“Kalau universitas-universitas, yang ada arsiteknya paling enggak, di semua kota di Indonesia punya concern seperti ini, menurut saya kota-kota kita jadi cantik, baik, enak, dan dari satu kota ke kota itu ada temanya. Jadi, tidak semua kota itu harus menyerupai seperti Jakarta,” tukasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini