Beranda Property Trend KONSEP HIJAU DAN BERKELANJUTAN PADA PERENCANAAN KAWASAN

KONSEP HIJAU DAN BERKELANJUTAN PADA PERENCANAAN KAWASAN

0
konsep hijau

Banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan dan pengembangan kawasan yang baik dan komprehensif, salah satunya
adalah dengan menempatkan kebutuhan dan kenyamanan para pengguna yang akan beraktivitas di lingkungan tersebut sebagai prioritas utama. Hal ini berkaitan erat dan selaras dengan konsep lingkungan hijau (green neighborhood), yang berprinsip pada sinergi antara kawasan terbangun dengan fitur-fitur alami demi menciptakan lingkungan yang aman, nyaman dan sehat. Berikut ini adalah beberapa
konsep lingkungan hijau yang dapat diterapkan dalam
perencanaan suatu kawasan:

Pemanfaatan dan Peningkatan Fitur Alami

Konteks dan kondisi alami lahan eksisting merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam mengawali perencanaan suatu kawasan. Elemen-elemen alami eksisting pada kawasan, seperti keberadaan ragam pepohonan dan vegetasi lokal, serta aliran dan badan air alami, akan dianalisa lebih lanjut dan dipertimbangkan; sekiranya dalam kondisi yang baik dan layak, atau berpotensi untuk dapat ditingkatkan, maka elemen-elemen alami akan dipertahankan seoptimal mungkin dan dimanfaatkan sebagai bagian dari fitur ruang terbuka hijau yang atraktif. Selain dapat memberikan nilai tambah terhadap image kawasan pengembangan secara keseluruhan, pemanfaatan dan peningkatan fitur alami juga memberikan dampak positif dari sisi ekologis, dengan alokasi area-area hijau yang mendukung keanekaragaman hayati, menciptakan
lingkungan yang harmonis dan berkelanjutan.

Fasilitas Ruang Terbuka Hijau yang Berkualitas

Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa keterhubungan manusia dengan ruang hijau dapat memberikan dampak positif dan meningkatkan kesehatan, baik secara fisik maupun mental. Hal ini yang mendasari penyediaan ruangruang hijau di suatu kawasan menjadi esensial, karena peranannya yang lebih dari sekedar fitur estetika semata. Ruang-ruang hijau dapat dihadirkan mulai dari skala kecil di dalam lingkungan rumah dan bangunan, hingga skala besar, seperti pada taman-taman publik. Bangunan yang terintegrasi dengan ruang-ruang hijau akhir-akhir ini semakin marak berkembang, terutama pada kawasan perkotaan yang padat penduduk. Hal ini didorong oleh tantangan untuk mencukupi kebutuhan ruang terbuka hijau pada kawasan perkotaan dengan lahan yang kian terbatas, sehingga bangunan hijau menjadi salah satu solusi yang dapat mengompensasi penambahan ruang hijau perkotaan.

Elemen-elemen hijau yang dihadirkan ke arsitektur bangunan dapat diaplikasikan melalui green wall pada fasad bangunan dan taman-taman vertikal di podium, balkon hinggarooftop.Konsep menghadirkan ruang hijau pada bangunan dikenal juga dengan istilah biophilic design, yang menggabungkan lingkungan terbangun dengan elemen-elemen alami sehingga memungkinkan orang-orang yang tinggal dan beraktifitas di dalam bangunan dapat berinteraksi lebih dekat dengan alam. Pada beberapa studi kasus, bangunan-bangunan yang menerapkan konsep biophilic design ini disinyalir mampu meningkatkan kreatifitas dan produktifitas, serta mereduksi tingkat stres.

Sementara itu, pada kawasan permukiman dengan ketersediaan lahan yang memadai, ruang terbuka hijau memungkinkan untuk dapat diakomodasi sebagai taman pada tapak. Tamantaman publik sebagai ruang terbuka hijau yang aktif dapat mendukung gaya hidup sehat bagi penghuninya dengan penyediaan ruang beraktifitas yang mewadahi berbagai ragam sarana untuk bermain, berolahraga, bersantai, bahkan belajar dan bekerja, di tengah suasana alam. Selain itu, keberadaan taman sebagai ruang temu juga dapat meningkatkan interaksi sosial dan
mempererat hubungan kekeluargaan dalam komunitas.

Kawasan Walkable dan Terintegrasi

Biophilic Design dihadirkan pada bangunan perkantoran dengan mentransformasi podium bangunan menjadi hutan hujan tropis mini

Kawasan berwawasan lingkungan hijau berorientasi pada penekanan emisi karbon dan polusi, yang salah satu kontributor terbesarnya berasal dari kendaraan bermotor berbahan bakar fosil. Demi mewujudkan lingkungan hijau yang sehat, kawasan walkable dan ramah pejalan kaki perlu dihadirkan, dengan mengakomodasi kemudahan pencapaian dari satu titik ke titik lain, seperti dari hunian menuju fasilitasfasilitas publik, ruang terbuka hijau dan titik transit, dalam waktu 5 hingga 10 menit berjalan kaki (dikenal juga dengan konsep 10-minute city).

Hal ini tentunya perlu didukung dengan konektivitas kawasan yang saling terintegrasi melalui koridor jalur-jalur pejalan kaki dan sepeda yang nyaman, aman dan inklusif untuk semua, tak terkecuali bagi kalangan rentan seperti anak kecil dan lansia. Dengan adanya kemudahan akses dan fasilitas yang memadai akan memberikan alternatif bagi pengguna untuk berpindah dengan nyaman tanpa harus bergantung pada penggunaan kendaraan bermotor. Hal ini diharapkan dapat membangun kebiasaan baik menuju gaya hidup yang lebih aktif dan sehat.

Pengelolaan Air yang Berkelanjutan

Untuk mendukung konsep lingkungan hijau, sistem pengelolaan air pada kawasan juga penting untuk diperhatikan. Pengelolaan air berwawasan lingkungan hijau dapat mengaplikasikan sistem WSUD (Water Sensitive Urban Design), yaitu pendekatan desain berkelanjutan dalam mengelola air pada kawasan dengan menyaring, mengoptimalkan penyerapan air tanah, dan kemudian mengalirkannya kembali keluar menuju saluran kota atau badan air alami dalam kondisi yang relatif lebih bersih, sehingga dapat membantu meminimalkan dampak hidrologis yang tidak diinginkan. Beberapa elemen WSUD yang dapat diintegrasikan pada kawasan antara lain mencakup pengalokasian rain garden, bio-retention swale dan danau-danau retensi.

Resiliensi Urban Food System

Migrasi penduduk ke kawasan perkotaan kian meningkat dengan saat ini lebih dari 50% populasi dunia tinggal di perkotaan dan diprediksi bertumbuh menjadi 68% di tahun 2050. Seiring dengan makin padatnya penduduk kota, sistem ketahanan pangan merupakan hal yang
vital dan menjadi tantangan yang dihadapi warga dunia. Ide-ide inovatif dan kreatif diharapkan dapat menawarkan solusi atas isu ketahanan pangan pada kawasan perkotaan, seperti melalui urban agriculture yang merupakan bagian dari konsep lingkungan hijau. Tanaman-tanaman pangan dapat diintegrasikan pada taman-taman kota, rooftop garden bangunan, hingga kitchen garden di dalam dan sekitar lingkungan rumah. Dengan kehadiran lahan perkebunan dalam konteks perkotaan, besar potensi urban agriculture dalam menunjang persediaan bahan pangan untuk konsumsi lokal dan mendukung terwujudnya kawasan hijau yang berkelanjutan.



TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini