Beranda Berita Properti Rumah Berkonsep Jepang di Gardens at Candi Sawangan Raih Sertifikasi Hijau EDGE...

Rumah Berkonsep Jepang di Gardens at Candi Sawangan Raih Sertifikasi Hijau EDGE Advance, Apa Kelebihannya?

0

PropertyandtheCity.com, Depok (Jawa Barat) Township Gardens at Candi Sawangan (250 ha), di Jalan Cinangka, Sawangan, Depok (Jawa Barat), menambah klaster rumah tapak terbaru yang diklaim bertaraf internasional. Developernya PT Graha Perdana Indah menggandeng PT Sumitomo Forestry Indonesia, anak perusahaan dari Sumitomo Forestry Co Ltd (Jepang) yang dikenal dengan bisnis pengelolaan kayu dan bahan bangunan, menghadirkan sebuah konsep hunian dan hidup baru ala Jepang di Gardens at Candi Sawangan.

Seremoni peluncuran klaster bertajuk Morizono, berikut rumah contohnya ini dilangsungkan di Depok, Sabtu (2/3), oleh Direktur PT Sumitomo Forestry Indonesia, Toyosada Shima, Vice President PT Sumitomo Forestry Indonesia, Fumuhide Nakatsu, Presiden Direktur PT Graha Perdana Indah, Aditya Susanto, Direktur Marketing PT Graha Perdana Indah, Aileen Chandra, dan Direktur Finance PT Graha Perdana Indah, Indra Bachtiar. Kemitraan berbentuk joint venture company dengan pembagian kepemilikan sebesar 51% untuk Graha Perdana Indah dan 49% untuk Sumitomo Forestry Indonesia.

Sumitomo bermitra karena melihat adanya peluang dalam pengembangan hunian di Indonesia, berdasarkan jumlah penduduk dan angka kelahiran di Indonesia yang teris meningkat, disamping pertumbuhan ekonominya yang stabil serta pembangunan infrastruktur transportasi yang kian pesat. “Bisnis properti di Indonesia ada harapan besar karena populasinya masih 270 juta jiwa dengan rerata usia di bawah 30 tahun, dimana usia tersebut masih sangat produktif. Tingkat kelahirannya tinggi jadi kebutuhan rumahnya akan besar,” ujar Vice President PT Sumitomo Forestry Indonesia, Fumuhide Nakatsu, di Depok, Sabtu (2/3/2024).

Adapun konsep Jepang yang diaplikasikan antara lain mulai dari fasad hingga layout bangunan. Kekhususan lainnya adanya tatami (ruang serba guna) dan engawa atau teras yang tehubung dengan taman belakang rumah, untuk menciptakan hunian yang asri dan terkesan lapang.

Morizono berarti Mori yang berarti hutan dan Zono yang berarti taman. Mori terinspirasi dari sejarah panjang kerja sama antara PT Sumitomo Forestry Indonesia dengan PT Graha Perdana Indah pengembang Gardens at Candi Sawangan.

Sumitomo Forestry telah berkiprah sejak tahun 1691 sebagai perusahaan yang mengelola hutan di sekitar tambang tembaga Besshi, Jepang. Saat ini Sumitomo Forestry telah memiliki dan mengelola sekitar 290.000 hektar hutan di Jepang dan di luar negeri, di antaranya 172 hektar hutan di Indonesia yang berlokasi di Kalimantan Barat. Selain itu Sumitomo Forestry juga mulai mengembangkan real estate, apartemen, dan bangunan komersial di Amerika, Australia, dan di Asia Tenggara dengan total penyerahan rumah dan apartemen pada tahun 2022 mencapai lebih dari 22.000 unit.

Sementara Graha Perdana Indah adalah perusahaan developer properti asal Semarang yang telah mengembangkan berbagai proyek perumahan, mixed-use development, dan lapangan golf. Kedua belah pihak telah menjalin kemitraan selama kurang lebih 32 tahun di industri kayu.

“Morizono adalah sebuah apresiasi yang tidak akan ada habisnya atas kerja keras seluruh tim Graha Perdana Indah dan Sumitomo, sehingga hari ini kami dapat meresmikan penjualan rumah di klaster tersebut,” ungkap Presiden Direktur PT Graha Perdana Indah, Aditya Susanto.

Rumah Hemat Energi
Morizono mengusung konsep green living inovatif yang dikelilingi dengan kawasan asri dan berwawasan lingkungan serta dilengkapi berbagai perangkat pendukung smart home system, solar panel, smoke sensor, Alexa Voice Assistant, smart CCTV monitoring, motion sensor, serta smart contact sensor.

“Morizono menjadi klaster paling eksklusif di Gardens at Candi Sawangan karena dilengkapi fasilitas club house, kolam renang, children play, smart gate, mushola dan ruko,” kata Aditya.

(tengah) Vice President PT Sumitomo Forestry Indonesia, Fumuhide Nakatsu, Presiden Direktur PT Graha Perdana Indah, Aditya Susanto (kiri), dan Technical Specialist, EDGE Green Building Market Transformation Program, Climate Business Department International Finance Corporation (IFC), Erlyana Anggita Sari, dalam penuerahan sertifikat hijau EDGE Advance untuk klaster Morizono.

Hal lainnya yang patut diapresiasi, Morizono telah mengantongi sertifikat EDGE (Excellence in Design for Greater Efficiencies). Yaitu sertifikat yang diberikan oleh International Finance Corporation (IFC) untuk bangunan yang telah memenuhi syarat desain dan konstruksi berkelanjutan. Sertifikat yang diraih yaitu EDGE Advance dengan pengurangan energi lebih dari 40 persen.

“Cara membangun konstruksi berkelanjutan termasuk energy dan water saving di dalamnya menjadi salah satu backbone kami,” imbuhnya.

Dengan adanya sertifikasi EDGE Advance Preliminary ini, cluster Morizono telah terverifikasi mampu mengurangi penggunaan energi hingga 68 persen, konsumsi air hingga 15 persen, serta upaya dekarbonisasi dari penggunaan material bangunan ramah lingkungan sehingga mampu menghemat embodied carbon pada material hingga 24 persen. Tiap rumah akan menggunakan panel surya 68 persen, sehingga secara total klaster mereduksi 420 ton emisi karbon per tahun atau setara penanaman 402 pohon.

Secara simbolis, sertifikat hijau tersebut diberikan langsung oleh Technical Specialist, EDGE Green Building Market Transformation Program, Climate Business Department International Finance Corporation (IFC), Erlyana Anggita Sari, sesaat sebelum seremonial peluncuran rumah contoh Morizono.

“Sertifikasi EDGE Advance ini adalah verifikasi dari upaya Morizono dalam merancang rumah hemat energi dan air, serta kontribusi proyek untuk penurunan emisi karbon di Indonesia. Kami mengapresiasi developer properti dalam upaya mengurangi emisi karbon dari bangunan berkelanjutan dan membawanya ke tingkatan lebih lanjut melalui sertifikasi EDGE. Ini adalah bukti bahwa kita bisa mengubah sesuatu,” ucap Erlyana kepada media.

Jangan Nanggung

Fumuhide mengatakan, konsep rancang bangun yang tanggap lingkungan pada klaster Morizono menjadi bukti terus melebihi batas atas yang telah dicapai perusahaannya, sekaligus menjadi kekhasan yang membuat klaster lebih menarik bagi segemen pasar yang dituju, dibandingkan tipe setara yang ditawarkan di berbagai real estate di koridor Ciputat-Sawangan.

“Kami mengusulkan konsep rumah ramah lingkungan dan berkualitas namun tidak begitu mahal, supaya pasar hunian di Indonesia bisa lebih hemat dalam mengonsumsi energi. Kami ingin menjadi contoh yang baik, salah satunya melalui proyek Morizono,” tuturnya.

Rumah contoh Klaster Morizono.

Ia menyebut, meski biaya membangun green house lebih mahal 10 persen dibanding rumah konvensional, namun sudah menjadi sebuah keharusan pengembang ikut aktif menciptakan kota berkelanjutan, karena real estate adalah kegiatan yang mengkonversi lahan terbuka menjadi perkerasan atau bangunan sekaligus memunculkan permukiman dan pusat-pusat pertumbuhan baru.

“Ada kenaikan cost sekitar 10 persen karena rimah dibekasi solar panel dan smart home system,” tandasnya.

Aditya tak menampik bahwa belakangan jamak developer membawa konsep ala Jepang di proyek huniannya. Sayang, rumah yang dirancang tak sepenuhnya memenuhi kebutuhan dan gaya hidup orang Indonesia.

“Kalau hanya konsep Jepang itu masih nanggung. Kami merancang rumah Jepang namun secara denah dan hidup khas Indonesia; ada dapur kotor dan dapur bersih karena masakan Indonesia bumbunya berat, karena itu kami tetap mengadopsi cara hidup orang Indonesia tanpa membatasi desain dan arsitektur, hingga pemilihan material dan aksesoris ala rumah Jepang. Semuanya itu dibantu oleh headquarter Sumitomo di Tokyo. Ini sangat penting karena menjadi benchmark, memastikan bahwa apa yang kita produksi dan konstruksi tidak boleh melewati dari konsep soul design yang sudah ditetapkan dari awal,” papar Aditya.

Cluster Morizono dikembangkan di atas lahan seluas 5,6 ha yang merangkum sebanyak 38 unit shophouse dan 309 unit rumah. Tipenya mulai 88/84, 109/98, 129/112, serta tipe shophouse 90/75 dan 135/75 (3 lantai) dengan harga mulai Rp1,5 miliar. Periode perdana ditawarkan beragam kemudahan pembelian seperti subsidi biaya KPR, BPHTB, AJB, PPN, hingga gratis langganan internet satu tahun.

“Harga perdana kami tawarkan cara bayar tanpa uang muka. Konsumen hanya bayar Rp25 juta, bisa langsung pilih unit dan akad. Angsurannya Rp8 jutaan per bulan,” ujar Direktur Marketing PT Graha Perdana Indah, Aileen Chandra.

Dikembangkan sejak 2017, hingga saat ini Gardens at Candi Sawangan telah membangun 1.850 unit rumah di 9 klaster (30 hektar) dan telah dihuni sebanyak 1.400 unit, sementara 450 unit rumah dalam tahap konstruksi dan serah terima.

Gardens at Candi Sawangan memiliki akses yang mudah dijangkau, di antaranya hanya selangkah ke pintu tol Serpong-Cinere ruas Serpong-Pamulang yang merupakan bagian dari Jakarta Outer Ring Road 2 (JORR 2). Melalui akses ini perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta dapat ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam. Akses lainnya melalui ruas jalan tol Depok-Antasari yang telah beroperasi sejak pertengahan tahun 2020.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini