Top 5 This Week

Related Posts

Kawasan Industri Dan Pergudangan: Tren Dan Peluang Pasar

Ketika penjualan rumah dan ruko masih tertatih, gudang modern justru nyaris penuh. Tingkat okupansi pergudangan di kawasan Jakarta Raya mencapai 95,8 persen pada kuartal pertama 2026. Tarif sewanya pun masih bergerak moderat, sekitar 2–3 persen per tahun. Dua angka ini menunjukkan permintaan yang kuat, tetapi belum menandakan euforia harga.

Baca juga, AHY Sebut Giant Sea Wall Dibangun Berdasarkan Sains, Bukan ‘Proyek Roro Jonggrang’

Ferry Salanto, Senior Associate Director Research Services Colliers Indonesia, melihat pertumbuhan tersebut lebih bersifat struktural ketimbang gelembung pasar. Permintaan tak lagi hanya datang dari lokapasar digital, tetapi juga perusahaan logistik pihak ketiga, manufaktur, barang konsumsi, farmasi, kendaraan listrik, hingga pusat data. Namun Ferry mengingatkan, gudang bukan aset yang kebal krisis. Sektor ini hanya memiliki bantalan lebih tebal berkat kontrak sewa jangka panjang, kebutuhan distribusi yang tak dapat dihentikan seketika, dan perubahan strategi perusahaan dari persediaan serba tipis menjadi stok cadangan.

Keterisian tinggi juga dipengaruhi terbatasnya pasokan. Colliers memperkirakan pasokan baru turun dari rata-rata 270 ribu meter persegi per tahun pada 2019–2025 menjadi sekitar 186 ribu meter persegi pada 2026– 2029. Akuisisi lahan strategis semakin sulit, perizinan memakan waktu, sedangkan pembangunan gudang membutuhkan modal besar. Karena itu, angka okupansi tidak dapat dibaca sebagai bukti ledakan permintaan semata.

Dari sisi pengembang, Presiden Direktur Astra Property Wibowo Muljono melihat gudang telah berubah menjadi infrastruktur penting bagi rantai pasok. Astra Property kini mengelola portofolio pergudangan modern dengan luas bersih yang dapat disewakan sekitar 670 ribu meter persegi. Menurut Wibowo, persaingan tak lagi ditentukan harga semata, tetapi juga lokasi, kualitas bangunan, teknologi, keandalan operasional, dan efisiensi energi.

Baca juga, Tanah Wakaf Belum Bersertifikat karena Dokumen Hilang? Ini Solusinya!

Pandangan serupa datang dari Direktur PT Grahabuana Cikarang Ivonne Anggraini. Pengelola Kawasan Industri Jababeka itu memilih tak terseret perang harga. Dengan lebih dari 2.000 tenant dari sekitar 30 negara, Jababeka menjual ekosistem industri, konektivitas, fleksibilitas ruang, teknologi kawasan, dan kepastian ekspansi. Strateginya menegaskan bahwa lahan murah belum tentu menghasilkan biaya operasional yang lebih efisien.

Di lapangan, Ketua Umum Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Clement Francis, menangkap pergeseran minat broker menuju pergudangan. Transaksi sewa masih relatif cair, tetapi hanya bagi aset dengan lokasi, akses, legalitas, dan spesifikasi yang sesuai. Penyewa pun semakin selektif. Mereka tak cuma menawar harga, tetapi juga meminta masa bebas sewa, termin pembayaran yang lebih ringan, dan kontrak yang lentur. Bahkan gudang dalam kota tetap memiliki pasar karena dibutuhkan untuk distribusi cepat dan layanan jarak akhir.

Ketua Dewan Pertimbangan Himpunan Kawasan Industri (HKI) Sanny Iskandar, menempatkan sektor ini sebagai penyeimbang portofolio pengembang, bukan “sekoci penyelamat”. Permintaan dari manufaktur, pusat data, kendaraan listrik, logistik, dan barang konsumsi memang menjanjikan. Namun kenaikan harga lahan, birokrasi, kualitas infrastruktur, serta persaingan Vietnam dan Malaysia dapat mengikis daya saing Indonesia.

Baca juga, Penyaluran KUR Tembus Rp159,8 Triliun, Sudah Salurkan Pembiayaan ke 2,5 Juta UMKM

Laporan utama ini mempertemukan lima sudut pandang tersebut untuk menguji satu pertanyaan: apakah demam pergudangan akan menjadi mesin pertumbuhan properti yang tahan lama, atau hanya kilau paling terang ketika sektor lain sedang redup?.

+ posts

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles