KAMI MENGGELITIK KEBERANIAN PEMBELI

0
329
keberanian pembeli
M. NAWAWI | ASSOCIATE DIRECTOR PARAMOUNT LAND

Terhitung sejak Maret Indonesia dinyatakan terkena Covid-19 hingga saat ini, ada berapa proyek baru Paramount Land yang di-launching?

Baca juga, Daya Beli Ada, Minat Tetap Ada, Tapi…

Ada tiga proyek yang di-launching, dua komersial Arcadia Grande, Pisa Grande dan satu hunian yaitu Nara Village. Tahun 2020 kita sebetulnya sudah merencanakan dan punya urutan untuk yang di-launching. Termasuk tiga proyek ini sudah kita urutkan untuk kita launching. Di setiap awal tahun biasanya sebelum launching produk baru, kita keluarkan dulu program atau istilahnya packaging. Awal tahun 2020 saya keluarkan dulu packaging berupa promo tahun baru, promo imlek.

Pemerintah mengumumkan Covid-19 masuk ke Indonesia pada 2 Maret, ita
launching pada 12 Maret yaitu Arcadia Grande. Di saat semuanya tiarap, keberanian hilang, semua orang di rumah, semua orang diam menunggu, semua orang hanya melakukan webinar, zoom meeting. Saya justru sendiri
bergerak jualan. Sehingga konsumen tidak ada pilihan. Hanya kita yang diipilih. Jadi, bisa dikatakan ini bisa menjadi momentum. Di setiap kesulitan, di setiap bencana selalu ada kesempatan. Kesempatan itu yang kita namakan suatu celah. Di saat semua sibuk bicara pandemik dan webinar, saya manfaatkan untuk berjualan. Kita tidak berpromosi besar-besaran tetapi langsung personal touch, kita menggunakan serangan udara.

Pada saat pandemi uang tidak berkurang, uang hanya beristirahat. Yang berkurang justru keberanian. Keberanian inilah yang kita klitik. Sehingga
orang-orang yang punya uang jadi berani dan terpengaruh untuk berani membeli. Kita jualan dari rumah dengan jemput bola. Bulan Juli kita launching lagi yaitu Nara Village. Pada bulan Juli orang sudah mengatakan memasuki New Normal. Ketika ramai soal New Normal kita keluarkan new produk yaitu Nara Village yang kita kemas dengan ke-new normal-an, yang kita angkat isu kesehatan, hidup sehat. Nara Village terjual habis. Bulan Agustus kita seperti biasa mengeluarkan promo Merdeka yang diikuti baru-baru ini launching hunian Pisa Grande. Jadi, tiga produk baru yang kita keluarkan sejak Maret sudah sold out.

Dalam kondisi daya beli menurun tetapi Paramound Land berani mengeluarkan dua produk komersial. Apa strateginya?

Bagi saya, mau ada pandemi atau tidak pandemi, persiapan adalah nomor satu. Matang dalam konsep, pricing, produk, gimmick, sistem, kesiapan para marketing yang terlatih. Ini kekuatan yang saya terapkan di produk yang saya launching, seperti Arcadia Grande. Penjualan Arcadia Grande berbeda dari sebelum wabah Covid-19. Kita betul-betul membangun sebuah komitmen. Sebelum launching kita ramaikan dulu. Jaminan komitmen bahwa akan ramai. Kita ramaikan dulu dengan anchor tenant. Ini yang membuat Arcadia Grande dan Pisa Grande menarik. Inilah yang membuat produk ini terjual. Tentu juga adanya keberanian dari calon pembeli.

Arcadia Grande dan Pisa Grande kami berfokus pada kepastian dan kemudahan konsumen untuk membuka usahanya. Kami membantu meramaikan lokasi komersial dengan bekerjasama dengan anchor tenant seperti Alfamart dan pembukaan Foodterra (pusat kuliner) yang sudah beroperasi sebelum ruko diserahterimakan. Khusus untuk Pisa Grande kami memberikan Solar Panel agar konsumen dapat menghemat energi listrik (cost) yang dapat membuat keuntungan konsumen menjadi lebih optimal.

Sementara untuk hunian yaitu Nara Village kami juga fokus pada kesehatan penghuni. Kami memberikan Smart Air Ventilation (Lossnay Mitsubishi) agar udara yang masuk ke ruangan adalah udara yang fresh dan menyehatkan. Kami juga menyediakan Potable Water dari PYUA sehingga air dapat langsung dikonsumsi oleh penghuni. Selain memberikan Smart Air Ventilation dan Potable Water kami juga memberikan Free Fiber To Home High Speed Internet selama 12 bulan untuk penjualan perdana Nara Village.

Bisa sold out dalam kondisi saat ini apakah karena produknya yang diterima pasar, strategi pemasaran atau brand Parmount Land yang sudah dikenal?

Kalau saya bilang ini kolaborasi. Saya susah mengatakan kalau hanya branding dari nama Paramount Land, susah juga kalau hanya produknya. Tetapi ini lebih kecenderungan karena momentumnya. Ada peluang kita masuk. Di saat semua orang mengatkan stay at home, justru kita bergerak lewat serangan udara yaitu menggunakan internet. Inilah kesempatan mengeluarkan hunian landed, tempat usaha dengan harga yang pantas. Orang yang dekat-dekat sini yang ingin punya usaha membeli Arcadia Grande dan Pisa Grande.

Ada hal yang menarik yaitu terjadi suatu perubahan dalam ukuran ruko. Sebelum masa pandemi, paradigma orang ukuran ruko harus 5×15 karena harus punya pegawai, office boy, dapur. Tetapi dikala pandemi dan digital sudah meningkat, yang namanya ruang usaha atau bisnis tidak perlu besar-besar. Ukuran 4,5 x 9 sudah cukup karena sekarang ruang usaha tidak perlu banyak pegawai. Ini membuat ukuran ruko bisa lebih kecil. Dengan ukuran kecil harganya jadi rendah. Harga rendah akan terserap pasar. Saat ini kita tidak menawarkan ruko ukuran besar. Ruko ukuran besar jarang dipakai sekarang ini. Kita juga buat kompleks ruko bukan yang deretan di
jalan, tetapi dalam bentuk kompleks yang di dalamnya sudah ada anchor tenant. Ini yang membuat orang jadi tertarik ingin buka usaha sesuai kebutuhannya.

Pemerintah sudah memberi sinyal Indonesia akan memasuki masa resesi, bagaimana strategi Paramount Land yang tetap akan launching roduknya?

Semua mengatakan terjadinya resesi. Penjualan quartal satu biasabiasa saja yang dianggap normal. Quartal kedua saya anggap sebagai situasi abnormal. Tetapi saya tetap bisa jualan. Masuk ke quartal ketiga sebetulnya New Normal. Di New Normal justru lebih bagus penjualannya. Kita masih optimis di quartal ke empat ini harusnya makin membaik. Makin membaik, terlepas dari orang mengatakan akan resesi tetapi saya melihat sendiri selama saya beraktivitas, berinovasi, menemukan orang-orang yang tepat, menemukan orangorang yang butuh, harusnya terserap produknya.

Contoh, sepanjang tahun ini saya tidak lagi mengeluarkan rumah yang harganya di bawah Rp1 miliar. Semuanya di atas Rp1 miliar. Kita mainnya di harga Rp2 miliar. Di Nara yang paling murah Rp1,8 miliar, yang lainnya di atas Rp2 miliar. Ruko rata-rata harganya Rp2, 5 miliar. Artinya, uang itu tidak berkurang masih banyak yang dipegang. Keberaninan yang berkurang. Jadi yang disasar adalah mereka yang tidak terdampak cash flow, seperti pengusaha, pelaku bisnis uangnya tidak berkurang. Mereka ini yang kita tuju dengan memberikan harapan.

Kami menargetkan kalangan menengah atas hingga atas sehingga pada saat pengajuan KPR kriteria bank masih sesuai dengan profil calon konsumen kami. Kami juga menyediakan cara bayar NonKPR seperti tunai bertahap. Dulu orang beli rumah pertama yang dilihat aman, nyaman, keselamatan. Sekarang nomor satu adalah kesehatan. Itu sebabnya, produk itu harus mengimplementasikan kesehatan. Nara itu rumah yang bernafas, back to nature dan tidak mengandalkan AC. Ini kreativitas dan inovasi dalam membuat hunian. Sehingga yang punya uang berani untuk mengeluarkan uangnya membeli properti.

Berapa target dari nilai penjualan proyek-proyek yang di-launching ini?

Target kami tahun ini Rp2 triliun sesuai dengan target yang kami rencanakan.

Ada rencana launching produk baru lagi setelah tiga proyek sebelumnya sudah habis?

Sesuai dengan rencana yang sudah kita buat tahun 2019. Masih ada dua produk baru yang sedang kita siapkan. Tadinya tiga produk tetapi rasanya tidak memungkinkan. Satu program dan satu lagi produk baru. Produk baru ini bisa jadi kombinasi antara komersial dan hunian. Tentunya dengan konsep yang berbeda dari yang sudah ada. ● [Hen]