ISU-ISU STRATEGIS BISNIS PROPERTI 2021

0
272

Pandemi membuat hampir semua sektor mengalami tekanan, tidak terkecuali sektor properti. Sejak pandemi di triwulan I tahun 2020, pasar properti mengalami drop penjualan sampai 50%, namun pada triwulan II tahun 2020 kembali mengalami peningkatan signifikan hampir dua kali lipatnya secara triwulanan. Sepanjang tahun 2020 pasar properti pun mengalami kontraksi sebesar 30% dibandingkan tahun 2019.

Memasuki tahun 2021 ternyata pandemi belum sepenuhnya mereda, bahkan dikhawatirkan muncul gelombang baru yang akan kembali memukul sektor properti di saat sektor ini mulai mengalami pemulihan. Banyak faktor yang diperkirakan akan memengaruhi perkembangan pasar properti di tahun 2021.

Pandemi dan Vaksinasi

Pandemi menjadi salah satu faktor krusial yang memengaruhi pasar dan bisnis properti saat ini. Sampai saat ini pandemi belum juga mereda di tengah gencarnya vaksinasi yang dilaksanakan pemerintah. Vaksinasi saling kejar mengejar dengan pergerakan ekonomi yang juga harus berjalan karena dipercaya akan menjadi game changer untuk kondisi saat ini.

Makro Ekonomi

Krisis yang terjadi saat ini bukan semata-mata dikarenakan fundamental ekonomi yang lemah. Krisis yang mengarah krisis kesehatan saat ini membuat terganggunya mekanisme perekonomian nasional sehingga berpotensi mengganggu dan menurunkan daya beli masyarakat. Meskipun demikian secara ekonomi, Indonesia memiliki fundamental yang cukup baik. Meskipun terjadi kontraksi pada tahun 2020, namun diperkirakan akan bertumbuh lebih baik pada tahun 2021. Peningkatan ekspor pun mulai terlihat di semester II tahun 2021. Di sisi pasar konsumer, tingkat suku bunga yang sangat rendah bahkan yang terendah sepanjang sejarah Indonesia diharapkan dapat memberikan dampak positif yang bagi masyarakat untuk menggerakkan investasi dan ekonomi nasional. Selain itu juga diperkirakan daya beli masyarakat masih cukup tinggi ditandai dengan data dana pihak ketiga yang meningkat khususnya di tabungan diatas Rp 5 miliar.

Makro Properti

Melihat pergerakan siklus properti saat ini, dipercaya menjadi posisi terbawah sejak booming properti periode 2009-2012. Keseimbangan pasar properti sudah mulai terbentuk dengan koreksi harga yang terjadi membuat harga properti yang sudah over value menjadi lebih wajar dan lebih realistik saat ini. Beberapa pengembang mengalami kesulitan cash flow dan sebagian bertahan, bahkan ada yang bertumbuh dengan inovasi. Dan semuanya merupakan kondisi seleksi alam yang tidak dapat dihindari.

Kebijakan Relaksasi Pemerintah

Kondisi saat ini diperkirakan menjadi kondisi dimana sangat banyak sekali pemerintah mengeluarkan stimulus untuk dapat menopang keberlanjutan sektor-sektor yang dianggap sangat strategis yaitu otomotif dan properti. Stimulus-stimulus ini diperkirakan yang terbanyak dan terbesar yang pernah dikeluarkan pemerintah. Mulai dari relaksasi kebijakan loan to value (LTV) dari Bank Indonesia, penghapusan/pengurangan PPN, sampai insentif perpajakan lainnya.

Perkembangan Komoditas

Perkembangan komoditas tidak sering atau jarang disebut sebagai faktor yang memengaruhi bisnis properti. Namun dari beberapa kali siklus properti yang terjadi, ada hubungan sejalan antara sektor ini dengan properti. Peningkatan yang terjadi di sektor komoditas diperkirakan menjadi salah satu indikasi yang akan memengaruhi bisnis properti ke depan. Dengan meningkatnya sektor komoditas, perdagangan dan perekonomian akan semakin meningkat dan pastinya akan sangat memengaruhi penjualan pasar properti ke depan.

Beberapa isu strategis ini menjadi penting untuk melihat bagaimana arah perkembangan pasar dan bisnis properti ke depan. Melihat kondisi saat ini lain, kondisi pasar properti sangat luar biasa berpotensi untuk tumbuh. Bila salah satu faktor masih terganggu sepanjang 2021, maka kemungkinan bisnis properti ke depan akan semakin lama untuk pulih. ‚óŹ