INDONESIA PROPERTY WATCH, PASAR SEKUNDER Q4-2020 MASIH TERKOREKSI

0
21
pasar sekunder

Penjualan rumah di pasar sekunder memberikan kontribusi yang sangat besar dari keseluruhan nilai transaksi perumahan, bahkan diperkirakan lebih tinggi dibandingkan penjualan yang terjadi di pasar primer. Transaksi di pasar sekunder, diperkirakan mencapai Rp115 – 150 triliun yang dilakukan oleh agen broker master franchise, agen properti lokal, sampai broker tradisional. Nilai ini memberikan kontribusi minimal 61,5 persen dari total keseluruhan transaksi properti.

Baca juga, SECONDARY MARKET OUTLOOK 2021, SETAHUN KE DEPAN MASIH BUYER’S MARKET!

Selama tahun 2020, pergerakan harga rumah dan tanah di pasar sekunder mengalami koreksi di hampir semua kota-kota besar di Indonesia. Koreksi harga tinggi di awal tahun dimulai dari Jakarta dan Surabaya dan kemudian meluas ke kota-kota besar lainnya. Sudah tingginya harga rumah sekunder saat ini akibat kenaikan luar biasa pada periode 2009-2013 membuat pasar sekunder terkoreksi. Saat pandemi koreksi harga ini sangat terasa bahkan di beberapa titik dapat terkoreksi mencapai 50 persen dari harga jual saat ini. Meskipun demikian koreksi harga yang terjadi belum dapat menggambarkan penurunan harga secara menyeluruh. Koreksi harga yang terjadi per triwulan relatif masih aman di bawah 5 persen. Pasar sedang mencari titik keseimbangan baru di pasar sekunder. Meskipun harus diwaspadai jika koreksi harga rata-rata per triwulan sudah melewati 5 persen sampai 10 persen, maka pasar mulai dalam tahap bahaya.

Memasuki Q4-2020 koreksi harga di pasar sekunder masih terjadi dalam skala terbatas. Koreksi yang terjadi relatif lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Meskipun demikian perlu diwaspadai juga di beberapa wilayah mulai memerlihatkan penyebaran wilayah yang mengalami koreksi harga. Menurunnya tingkat permintaan dan aktivitas pasar sekunder membuat sebagian harga terkoreksi dengan penurunan harga bervariasi dan sebagian lagi memilih untuk tidak menaikkan harga bahkan sejak awal tahun 2020.

Bali: Pergerakan harga rumah dan tanah di pasar sekunder di Denpasar dan sekitarnya termasuk Kuta Selatan memerlihatkan koreksi tertinggi pada Q4-2020 meskipun relatif lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Wilayah Kuta Selatan dan beberapa titik di daerah-daerah wisata mengalami tekanan harga yang lebih tinggi dibandingkan Denpasar dan sekitarnya. Meskipun pada awal 2020 koreksi masih lebih rendah, memasuki pertengahan tahun, koreksi mulai terlihat semakin tinggi.

Bandung: Koreksi pasar sekunder yang terjadi di Kota Bandung relatif masih cukup tinggi. Beberapa titik di daerah Bandung Timur dan Bandung Utara memerlihatkan koreksi yang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya. Segmen harga di atas Rp1 miliaran mulai mengalami koreksi lebih tinggi dibandingkan segmen lainnya. Pasar sekunder di Bandung Kota yang relatif memiliki holding power yang kuat, sedikit demi sedikit mulai terkoreksi.

Surabaya: Meskipun koreksi yang terjadi mulai mereda dibandingkan dengan 3 triwulan sebelumnya, namun relatif masih cukup tinggi bila dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya. Surabaya Barat, Surabaya Utara, dan Surabaya Timur mengalami koreksi lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya. Aktivitas pasar dan menurunnya permintaan membuat sebagian besar obyek tidak mengalami perubahan harga selama 2 triwulan
terakhir.

PERTUMBUHAN HARGA RUMAH SEKUNDER

KOTAQ3-2020Q4-2020
Bali-2.7%-1.8%
Bandung-1.8%-1.6%
Surabaya-2.0%-1.5%
Palembang-1.0%-1.4%
Jakarta-1.2%-1.1%
Makassar-0.5%-1.1%
Balikpapan-1.1%-0.94%
Yogyakarta-0.5%-0.92%

PERTUMBUHAN HARGA TANAH SEKUNDER

KOTAQ3-2020Q4-2020
Bali-3.3%-2.1%
Bandung-1.8%-1.7%
Surabaya-2.1%-1.6%
Palembang-0.7%-1.2%
akarta-1.2%-1.0%
Makassar-0.2%-0.9%
Yogyakarta-0.3%-0.81%
Balikpapan-0.6%-0.77%

Jakarta: Koreksi tinggi yang terjadi di 2 triwulan awal tahun 2020 mulai mereda, meskipun masih dibayangi penurunan di beberapa daerah. Jakarta Selatan dan Jakarta Utara memerlihatkan koreksi yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya. Sedangkan koreksi terendah diperlihatkan di wilayah Jakarta Timur.

Makassar: Koreksi yang terjadi di Makassar baru terasa menginjak triwulan 2 tahun 2020. Meskipun tidak terlalu tinggi, namun potensi untuk terjadi koreksi lebih tinggi lagi masih dimungkinkan. Hal ini diperlihatkan dengan mulai meluasnya daerah-daerah yang terkoreksi. Makassar Barat dan Makassar Kota mulai memerlihatkan koreksi lebih tinggi.

Balikpapan: Koreksi yang terjadi di Balikpapan relatif landai. Harga terkoreksi masih dalam batas wajar. Hal ini diperkirakan lebih dikarenakan menurunnya aktivitas pasar sekunder dan makin terbatasnya permintaan khususnya di Balikpapan Barat sehingga sebagian besar harga penawaran yang terjadi tidak mengalami perubahan sejak awal tahun.

Yogyakarta: Aktivitas pasar sekunder di wilayah ini menurun drastis yang
menyebabkan sebagian besar obyek di pasar sekunder tidak mengalami perubahan. Namun demikian beberapa titik di daerah Kulon Progo masih
memerlihatkan pertumbuhan tipis pada Q4-2020 meskipun masih dalam tren koreksi harga.